8

One-(wo)man Company

hari ini sy mengikuti salah satu phd-course ttg Storytelling.

saking excitednya dan takut terlewat lagi, jadi pengen banget nulis ttg ini deh – meski tulisan ttg pindah rumah dan perjalanan zuid limburg masih nengkri di bagian draft >.<

bukan tentang coursenya, tapi tentang INSTRUKTURnya.. meskipun coursenya juga asik banget karena bisa bertemu dan mendengar berbagai partisipan yg kebanyakan adalah dosen2 atau phd-dosen di kampus… tapi sebenarnya ini bukan yg pertama kali sy bertemu dengan instruktur model beginih di kampus… sudah mo nulis ttg hal ini sejak yg pertama ketemu tapi ya gituuu, idenya menguap begitu saja, naaaa.. sebelum yg hari ini hilang jugah, yak yuk mareee..

sebut saja namanya bu Elsa, bukan bunga, kalau sy tidak salah dengar (maklum hari Senin kadang radar bahasa Inggrisnya belum full-power, huehuehue) sebelumnya dia kuliah matematika, lantas lanjut di jurusan ilmu komputer di salah satu institut teknik ternama di Belanda , lantas bekerja di perusahaan sbg manajer apa gitu sy lupa.. itu karena pengaruh ayahnya yg pebisnis juga.. kemudian karena suatu hal, dia berhenti dan mulai menekuni kecintaannya terhadap storytelling yang kemudian diseriusin buat jadi usaha… sendiri dan bener-bener bu Elsa ini sendirian yaaa…

– one-woman company –

punya website sendiri… kontaknya ya namanya sendiri, imel pribadi… desain2 sendiri… bikin materi sendiri…riset untuk trainingnya juga dilakukan sendiri… shooting sendiri… socmed buat promo dijalankan sendiri… daaaan pelatihan juga dilakukan sendiri, dengan persiapan sendiri (mulai nata kursi, nyiapin peralatan dan materi, juga evaluasi).. setelah pelatihan eeeeh ya dia punya print out sertifikat yg ditandatangani sendiri…

jadi bu Elsa ini training designer, training advisor, training manager, sekaligus trainernya ^^

hmm, kepikiran juga apa sama ya sm freelancer yg notabene juga self-employed.. hanya mungkin sebutan one-(wo)man company ini menekankan multi-taskingnya, sementara freelancer cenderung ahli di satu bidang seperti web-designer atau fotografer.. (*maap, pengetahuan dunia bisnis sy amat kering kerontang…)

yaaah gitu deh..

mendadak pengen MIMPI, merencanakan pensiun dini, trus bikin one-(wo)man company

asyik kali ya? tapi bikin apa ya? training juga laaaa… namanya apa ya? ruang lingkupnya apa ya? waaaa jadi ngga bs tidur sepertinya malam ini… yuuuk mimpi bareng yuuuk…

>.<

 

 

16

Setelah Ayah Pergi

hari sabtu, ayah mendadak masuk icu

berita ini sy dapatkan ketika sy dan tole hendak ke arnhem, jantung sy berdetak keras, sy merasa ngilu sekujur tubuh, keluarga sy bukan pecinta aksara maka tak banyak keterangan di depan mata.. inginnya sy membatalkan pergi, hanya ingin di rumah saja, meminta dan menundukkan hati dan kepala, namun kepergian kali ini sebenarnya buat napak tilas pencarian tas tole yg ketinggalan seminggu sebelumnya, tak bs ditunda juga.. (syukurlah tasnya ditemukan.. ) kami banyak berjalan hari itu berdua, sesekali kami berhenti, untuk memberikan kesempatan sy menangis dan berdoa

no news is good news… sometimes… right?

di surabaya, suami sy menuju rumah sakit sepulang kerja, dan mengirimkan banyak foto ayah dari kejauhan dan hasil diagnosa… juga foto mami dan saudara2 yg menunggu di luar icu… mengobati rindu… meniupkan cinta setinggi-tingginya..

you’ll make it, ayah, all i know is you’ve been such a strong guy 

hari minggu, ayah masih di icu

dan sedang ada lomba marathon di kota, tole terdaftar sebagai peserta sejak bulan sebelumnya.. 1km.. marathon pertamanya.. he’s not getting any better he needs further treatment… begitu pesan selanjutnya… they prepared him for the treatment.. entah sy jadi sensi atau apa, tapi dalam marathon anak ini sy malah dilihatkan anak-ayah yg berlari bersama… yeah, right…

usai marathon, sementara tole meneruskan bermain, sy memilih pulang saja, badan sy makin menggigil, jaket tambahan yg sy pakai masih kurang saja rasanya…

he is okay, pesan suami setelah operasi ayah usai… he needs some rest, they’ll do more treatments in the morning.. ah syukurlah meski hati belum lega, hanya mami yg menunggu sementara semua memutuskan untuk pulang… okay.. tapi sy tetap tak sanggup memejamkan mata… sampai pesan mami sy terkirim ke grup memanggil adik sy..

dan adik sy menelfon dan terbata.. ayah sudah ngga ada…

hari senin, setelah ayah pergi

sy ngga punya kekuatan apapun, sy menangis tergugu sendiri, cuman itu yg sy bisa… terus… terus… terus… sampai terasa sakit di hidung dan perih di mata dan kepala.. terasa sakit.. dan sakit… dan sakit semua… hampir subuh, sy memaksakan diri untuk mandi dan tetap menangis dibawah aliran air hangat entah berapa lama…

ketika tole bangun, sy menyampaikan berita duka.. sampai dia memeluk sy daaaan sy mulai menangis lagi jadinya… please don’t cry like this, you will make me cry too… katanya…

tapi tak bisa… sy hanya mengurung diri di kamar, menangis dan menangis bisanya… but i promised him it will only be today… since i really couldn’t do or think anything but cry and cry, I feel so useless being so faraway from home in this kind of moment

sy beruntung masih ada tole bersama sy, yang mengingatkan berkali2 untuk makan dan minum, dan memeluk sy mengingatkan untuk tetap kuat dan tabah…

sy berbaring di tempat tidur menatap layar hp seharian, mengikuti acara persiapan, proses pemakaman, dan kemudian proses persiapan pengajian.. sy menitipkan ke semua yg ke rumah untuk mengirimkan foto dari berbagai pandangan mata.. dan sy kembali menumpahkan air mata sampai sy tertidur…

hari selasa, setelah ayah pergi

sy merasa baik2 saja.. sy pun memutuskan ke kampus.. yaaa, dengan mata bengkak… tapi gapapa.. sy bisa bangun, menyiapkan sarapan, lantas bersepeda sambil tersenyum pada dunia… sampai setibanya di kampus… mau ngga mau ketika ditanya kenapa kemaren ngga masuk dan sekarang muncul dengan mata sembab – sy harus menyampaikan tentang kepergian ayah dan menjawab pertanyaan tentang pemakaman beliau, dan yaaa, sy mendapat pelukan… dan serentetan seruan bahwa sy ngga mungkin dalam keadaan okay dan kalau sy membutuhkan distraction harusnya sy pergi jalan2.. tidak di rumah, tapi juga tidak di tempat kerja… mendapatkan pelukan lagi membuat sy kembali ingin menangis… namun tetap yakin mengatakan, okay, but i will be okay soon.. sebelum pulang sy mampir ke mantan rumah kos sy, memeluk bayi2 kesayangan, anak2 ibu kos yg baik hati.. children’s laughters are amazingly lovely…

hari rabu, setelah ayah pergi

sy mulai menjawab pesan2 yang terkirim melalui whatsapp, I cannot believe how many groups I’m into, dan sosial media… sesekali terisak bila mendapat pesan personal, yg tidak dikirim dalam grup dan tidak copas maksudnya… dan seharian kembali sy menyibukkan diri berkomunikasi dengan saudara jauh dan teman-teman lama yang sudah lama tidak sy sapa… yaa, sambil sesekali menitikkan air mata… mengamini semua doa, ayah.. ayah.. doaku teriring untukmu…

hari kamis, setelah ayah pergi

bertepatan dengan King’s Day di Belanda, sy ingin ke Amsterdam berada dalam keramaian, namun tole meyakinkan untuk pergi ke taman sepi, jalan kaki, hanya kami, mendengarkan hati… tapi sempat juga kami mampir kedai ice cream favorit untuk menikmati hari yang cerah tapi sedang hujan… we can have fun on such rainy day, kata tole.. malamnya sy kembali menangis (menunggu tole tidur tentunya) mengingat masa lalu… dan menulis tentang Ayah with a dim picture of drowned past…

hari jumat, setelah ayah pergi

ingatan masa lalu membuat pikiran sy mendadak dihantui dengan penyesalan,

i should have… i would have… i could have…  shoulda, woulda, coulda… i gotta list them out, pikir sy awalnya.. tapi kemudian sy menatap tole…

imagining my son would tell me all the should woulda coulda – all the guilt,

then i consider what would I say to my son…

then somehow I know what my father would tell me…

trus menangis lagi… T.T

tapi kembali menulis pada dunia tentang hubungan dengan orang tua setelah kita dewasa disini

hari sabtu & minggu, setelah ayah pergi

mengawali hari dengan video call dengan keluarga amat menyenangkan hati, meski dengan koneksi yg ajaib.. yaa, kami biasa ngobrol dengan tawa keras dan sarkas… tapi sy bs merasakan duka mereka…

wiken ini meski sy tak ingin pergi tapi tetap kami harus pergi (perjalanan ke Zuid Limburg), karena segala sesuatunya sudah dipesan di awal bulan ini, perjalanan yang membuat sy (dan tole) banyak berjalan kaki (hampir 30km dalam dua hari), skenarioNya memang menakjubkan sekali… membuat sy makin banyak belajar, setelah ayah pergi…

I was given the opportunity to walk my sadness away

to learn how not to let all the guilt and grief stay

to understand that it is always okay not to feel okay

and cry once in a while if I may

7

Travelling ke Zuid-Limburg (1)

“walk my sadness away”

salah satu kebiasaan lama buat ngilangin kesedihan sy adalah jalan kaki sampai gempor… setelah lama ngga galau tak bertepi, kesedihan kali ini diatasi dengan tujuan : Zuid Limburg atau South Limburg, daerah paling Selatan Belanda, kalau di peta, paling bawah deh.. dan ditemani dengan si tole* -the little explorer-

nl-kaart

Gambar: VVV Limburg

Banyak hal yg menarik dari daerah ini, terutama keindahan alamnya – Belanda kan terkenal flat, nah, khusus daerah ini banyak bukitnya- dan tempat bersejarah – ada perbatasan 3 negara (Belanda-Jerman-Belgia), kastil2, benteng, bekas tambang, dan gua beserta fosil2 yg ditemukan didalamnya- alhasil harus memilih karena waktunya cuman 2 hari aja..

Enschede – Vaals, tujuan: Perbatasan 3 Negara

Ada banyak jalan menuju Roma, begitu juga ke Vaals *eh apa sih ^^,

sy cari yg simpel2 aja.. yg ngga banyak ganti2 train, bukan hanya ma-ger, namun menghindari ketinggalan kereta (kalau satu rute telat nyampe, bisa ketinggalan kereta berikutnya dan jadwal akan kacau balau bukan? iyeee, sedihnya kereta api Belanda suka gitu..)

perjalanan sy total sekitar 5.30 jam:

  1. Enschede-Utrecht-Maastricht (by train) 3jam 48menit
  2. Maastricht-Vaals (by bus) sekitar 1 jam dengan bus 350 tujuan Aachen, Jerman, turun di centrum Vaals langsung juga bs, namun sy turun di halte Mamelis-350,  lantas ke halte Mamelis-59, ganti mikrolet 59 turun di Tentstraat yg sedikit memendekkan rute jalan kaki jadi 1,8km *irit dikit di km tapi lumayan karena jalanan di daerah ini naik turun..
  3. hop hip hop… Jalan kaki sambil cuci mata dari Tentstraat menuju drielandenpunt

Note: menurut VVV, katanya mau ada Shuttle dari centrum ke Drielandenpunt pas summer pas weekend, praktis buat yg irit jalan

This slideshow requires JavaScript.

Ada apa di Drielandenpunt ?

1-tonggak tempat tertinggi di Belanda

IMG_20170429_135330.jpg2-titik temu perbatasan tiga negara, berada di 3 tempat dalam satu waktu, keren kan..

IMG_20170429_135533.jpg

3-tersedia juga menara tinggi dengan pintu-pintu yg menghadap ke tiga negara, psssst… tangganya berlubang2 gitu, ini bisa sekalian extreme sports kali yaaa… ngga tinggi2 amat benernya kok… buat yg takut ketinggian bisa naik lift.. masuk ke menaranya bayar 3,50 euro (dewasa) dan 2,50 euro (anak-anak)

This slideshow requires JavaScript.

4-Labirin seru, tiketnya 5 euro (dewasa) dan 4 euro (anak-anak)

This slideshow requires JavaScript.

5-(walking track dalam) hutan dengan pemandangan yg bagus banget

This slideshow requires JavaScript.

Kata teman2, biasanya mereka menghabiskan waktu 1 jam di area Drielandenpunt buat foto di bunderan batas 3 negara itu sm naik tower (sama makan kentang atau ice cream)..

Kalau sy dan tole butuh 5jam buat lima tempat diatas -__-”

Vaals – Eijsden

puas main2 di Drielandenpunt saatnya kembali dengan rute berbeda, dari drielandenpunt ke centrum Vaals menyusuri perbatasan sambil menikmati pemandangan lah yaaa…

This slideshow requires JavaScript.

dari centrum Vaals, setelah nunut pipis di AH (penting ya!), naik bus 350 balik ke Maastricht sambil nge-charge hp di bus tentunya.. ^^,

dari Maastricht lantas naik kereta Belgia tujuan Liege, turun di desa Eijsden (awalnya sy menyebutnya kota, well, kota kecil, tapi di website2 Limburg bilangnya desa..). Keretanya 1 jam 1x aja.

Dari station, cukup berjalan 200m menuju hotel..

Hotel Cafe Le Bonheur, Eijsden

My Review:

-love it for its convenient location (10min-away from Maastricht by train, 200m-away from the Eijsden train station, 600m-away from the aldi supermarket, and 700m-away from the Eijsden castle)

-stayed in a small cozy bedroom with well-functioned shower room and good wifi-connection

-felt homey and warm atmosphere in the breakfast room (romantic details, books, table-top games for children) and good simple breakfast

-a kind and helpful host..

This slideshow requires JavaScript.

dan yg paling penting adalah….

menginap di hotel ini itu hasil #endorse hihihi alias gratisan 🙂 si owner yg baik hati ini minta di review di sosmed dan di situs pariwisata.. sy langsung berasa penulis yahud deh… tapi asli kok, meski hotel kecil dan old-fashioned (bahkan catatan tamu masih pake buku tamu jaman bahuela, jadi waktu sy check in ya dianya bolak balik kertas gituh), hotel yg kayanya one-man-show inih nyaman dan homey… dan semua fasilitas berfungsi dengan baik… waktu minta kasur tambahan buat tristan aja dia siapin semuanya dengan cepat dan senyuman… what more can I ask?

(to be continued)

 

3

Me Vs Ortu

sy memanggil beliau-beliau: Mami dan Ayah.. sedikit anti mainstream dalam memasangkan istilah, karena dalam perjalanan hidup, kami berganti-ganti panggilan sampai pada satu titik sepakat kalau Ayah lebih cocok dipanggil Ayah daripada Papi atau Papa seperti saudara2 beliau dipanggil anak-anaknya.. begitu pula dengan Mami… yg berasa kurang kalem buat dipanggil bunda atau ibu, hihihi…

dan saking kuatnya panggilan ini, lantas merembet kemana-mana.. teman dekat, saudara ipar, saudara angkat, saudara sepupu, saudara jauh, sampai cucunya juga jadi memanggil Ayah dan Mami…

hubungan anak vs ortu dan cinta kepada orang tua tentu alami, jadi tentu saja sy mencintai Mami dan Ayah… Cinta sy tidak berubah, hanya sy merasa makin memahami cinta sy pada Ayah dan Mami ketika sy menikah, dan lebih-lebih ketika sy memiliki anak…

namun ada juga yg berubah…

Yang banyak berubah dari hubungan kami adalah pola hubungan.. yang ketika sy kecil, lebih bersifat hirarki sekali.. mungkin karena bawaan budaya, atau trennya yg begitu saat itu, syukurlah beranjak dewasa hubungan kami menjadi egaliter, jadi lebih demokratis.. bisa jadi yg ini juga bawaan jaman, tapi sy yakin sedikit banyak ini juga karena anak-anak beliau dengan jujur mengutarakan keinginan untuk itu..

hal ini merupakan hal yang paling berharga dalam hidup sy, karena sy mendapat kepercayaan beliau berdua dalam menjalani pilihan2 hidup sy..

di postingan ini, sy berusaha mendaftar hal2 yg mungkin bisa membantu menjaga hubungan baik dengan orang tua…

  1. posisikan orang tua sebagai sahabat, bertukar pendapat dan diskusi untuk menunjukkan dunia dari mata kita, dan keep in touch (they would love to get lots of our pictures and stories)… kalau dasarnya sudah sahabatan, then consider you are very lucky! well, Mami dan sy sama-sama di bidang pendidikan, jadi sy bisa minta job ke mami eh maksudnya sy bisa berdebat tentang teori2 pendidikan dan semacamnya, debat tanpa akhir biasanya nih, karena kadang sambil bawa2 buku teori atau sampai browsing segala… kalau sama Ayah, sy mencoba meluaskan topik obrolan ngga sekedar kabar beliau dan sy, gosip keluarga besar, atau tentang mobil kayak biasanya, pernah nyoba ngobrolin tentang tren travelling saat ini dan ternyata asik juga
  2. posisikan orang tua sebagai sesama orang dewasa, karena posisi yg setara, hubungannya juga musti seimbang dong, bukan hanya orang tua yg merasa harus berusaha berkontribusi terhadap hidup kita, kitanya juga musti berusaha mengisi hidup mereka.. bukan hanya mereka yg punya peran “pemberi saran” melainkan kita juga… berikan masukan, saran, bantuan – sesuai porsinya, we’re facing our problems and so  are they… nah, karena orang tua sy begitu mandiri, sy sering lupa kalau mereka mungkin juga butuh ada yg mengingatkan ttg teknologi, kesehatan, atau hal-hal besar kecil lainnya
  3. blast from the past (ini nyontek item list sy untuk pernikahan di sini) sepanjang hidup kita, hadirkan saat2 bersama orang tua kita yang bisa dikenang dengan senyuman atau bahkan bikin ketawa.. tertawa bersama atas kenangan lama itu membahagiakan! bisa juga foto2 lama dikemas ulang atau dibuat format barunya.. atau bongkar barang2 lama buat dibikin video koleksi atau apalah (ini karena kebetulan Mami dan Ibu (Ibu adalah panggilan sy untuk ibu mertua) hobi nyimpen barang2 masa lalu… *alamaak)
  4. bikin kenangan baru, ajak orang tua buat nge-date atau bila memungkinkan – lakukan hal yg sama-sama baru pertama kali melakukannya.. hubungan orang tua dan anak tetap butuh momen2 yang mendekatkan meskipun secara alami hal itu sudah ada..
  5. NEVER take them for granted, sampaikan cinta dan rindu, sampaikan apresiasi atas usaha mereka selama ini, they’ve done what they could do and it might be the best they could at those times… sure, they made mistakes, but hey.. who we are to judge?

lantas, apakah sy sudah melakukan semuanya?

sayangnya belum.. sedihnya belum…

dan sebenarnya ini termasuk bagian dari daftar shoulda-woulda-coulda (baca: grief & guilt) setelah berpulangnya ayahanda 24/4/2017, tepat seminggu sebelum ulang tahun beliau, dan sy ribuan mil jauhnya, dan sy ngga bisa memegang tangannya di saat-saat terakhir, dan sy ngga sempat minta maaf, salim, sungkem, bilang sayang ke Ayah, mengirim foto terupdate, cerita ttg perjalanan2 sy.. T.T

(sebuah catatan hati: Ketika Ayah Pulang)

jadi tunggu apa? katakan cinta selagi bisa yaa…

“it takes both sides to build a bridge”

 

 

 

5

Working Mom

menjadi phd-worker di kampus university of twente membuka akses sy untuk mengikuti berbagai organisasi2 atau komunitas2 atau courses2 yg ngga lazim ada di kampus asal sy, salah satunya yg baru dua kali sy ikuti, namanya FFNT, Female Faculty Network Twente

FFNT merupakan komunitas perempuan yang bekerja di university of twente dan menyelenggarakan pertemuan2 salah satunya pertemuan rutin satu jam untuk sharing ideas sembari makan siang

modelnya kayak circle time yg diawali saling mengenalkan diri, atau mengungkapkan harapan, atau apa yang sedang menjadi topik di hari itu, kemudian ada guest speaker yg sharing 10-15 menit yg diikuti obrolan panjang dan seru, ala ibu-ibu arisan begituh

dua kali sy sempat ikutan, dua kali ketemu dosen, associate professor, ibu, dan… sukses! (baca: punya rentetan prestasi panjang dan menakjubkan) (note: guest speakernya ngga selalu perempuan, dan topiknya ngga selalu tentang ibu2)

melihat aura pintar dan percaya diri serta mendengar cerita ibu-ibu ini membuat sy rasanya mau duduk aja di pojokan antara kagum, ngiler, sama minder… *ah sy mah apa atuh

dan pertanyaan umum yg terlontar pertama kali dari para para perempuan yg hadir adalah yg satu ini:

apa resep kesuksesan dalam karir anda?

guest speaker 1

A: sy bekerja keras untuk itu (beliau mendapat hibah bergengsi selama beberapa kali berturut-turut), untuk mendapatkannya, untuk mengerjakannya, dan untuk membuat laporannya, dan untuk membuat publikasi setelahnya.. banyak waktu sy habiskan untuk mengejarnya, karena hal tersebut adalah salah satu impian sy

Q: loh, cape dong? keluarga gimana dong?

A: anda tanya resep kesuksesan dalam karir kan?

Q: dududududu

“sebagai ibu yg bekerja, sy yakin semua ada waktunya, berbeda tentunya untuk tiap orang, pilihan ada di masing-masing ibu.. yg sy percaya there’s no such thing as luck, ngga kerja keras tapi mendapatkan sesuatu, NO WAY, kerja keras, disiplin, persiapan itu dibutuhkan untuk mencapai keinginan… dengan peran sebagai ibu yg utama, ya resikonya kita harus memilih peluang yg lebih fleksibel… yg tahu kapan menempatkan yg mana sebagai prioritas ya kita sendiri.. sy bahagia bila sy bisa menggapai impian sy, menjadi ibu yg membesarkan anak dengan sebaik mungkin juga sy lakukan, dan bila kondisi keluarga memungkinkan dan suami mendukung – barulah saat itu sy mengejar karir sy”

me: iya.. ibu ini kelihatan chic dandanannya, gaul gituuuh, tegas, and wooow, she got the look of “she-really-knows-what-she-wants” deh

guest speaker 2

A: 1) TIME MANAGEMENT – make good plans for everything 2) sy menerapkan aturan bekerja 80%, dan sy selalu menyampaikan ini di awal kontrak pada tempat sy bekerja dan teman kerja sy 3) waktu sy otomatis sy bagi untuk bekerja dan keluarga, saat bekerja fokuslah pada pekerjaan, saat bersama keluarga ya fokus juga dong sama keluarga, alihkan energy guilty feeling untuk menikmati apa yg sedang sy lakukan, untuk refleksi dan berpikir sy lakukan saat bepergian misal saat sedang bersepeda

Q: wah, pantas saja anda terlihat selalu happy, is there anything that you’d miss?

A: ya laaah, jelas ada yg sy tidak utamakan, acara2 bersama keluarga besar dan teman dan juga mengajar…

Q: oalaaah…

anak sy dua dan masih kecil, mereka masih membutuhkan sy fokus melalui waktu bersama, nanti ada saatnya mereka hanya butuh kehadiran sy namun sudah bisa menikmati waktu mereka sendiri, semenjak menjadi ibu sy mengubah target2 dalam pekerjaan sy misal dari sejumlah publikasi ke beberapa publikasi berkualitas, sy membuat pertemuan harian rutin dengan post-doc dan phd, dan sy mendelegasikan hal2 yg sekiranya bisa mereka kerjakan, di rumah juga, sy selalu merencanakan jadwal kerja, lembur, dan konferensi dengan suami agar bisa bergantian mengerjakan peran dominan dalam menyiapkan rumah tangga

me: ibu ini terlihat praktis namun sederhana, dengan rambut pendek, dan kostum jeans dan kemejanya.. tegas, dan smart, well.. heylooo beliau bekerja di bidang computer science begituuuu…

nah, mari kita simpulkan sajah tips dari dua ibu bekerja yg sukses inih,

working mom tips

1) know what makes you happy, and be happy!

2) jadi orang jgn serakah, fokus sama satu tujuan dalam satu waktu, kalau yg lain juga didapatkan yah lumayan kan dapat bonusnya, yg tau tujuannya apa kita sendiri, tutup kuping sama apa kata orang

3) dukungan suami, dua ibu ini sama2 melibatkan suami dan mengkomunikasikan perannya, suaminya juga pada mendukung sih yaaa, dan lagi mungkin juga karena budayanya kali ya

4) disiplin waktu dan diri

me: i am happy, sy bersyukur synya ngga serakah, ngga ambisius buat menang the best thesis award apah the fastest phd ever ato the most famous #phdmum, huehuehue… tau banget kapasitas sy dimana… suami juga tetep asik buat diskusi dan ngedukung sy maunya apa dan mau pergi kemana… buat sy yg masih jauuuuuuuuh tuh ya yg terakhir, disiplin waktu dan diri.. sy masih ngglewes super fleksibel dan super moody beginih… working mom cap 2 kelinci! aaaah help meeeh…

 

 

 

2

Tangga Rumah Londo

Rumah londo jaman bahuela itu terkenal dengan kelangsingannya… tidak melebar tapi meninggi ke atas, biasanya ada 2 lantai plus attic, dan memanjang ke belakang… konon, katanya hal tsb dikarenakan dahulu kala pajak dihitung dari lebarnya rumah aja, dan atas nama kenyamanan, ruangannya dibuat sebesar-besarnya dan mengorbankan ruang untuk: TANGGA, dan keistimewaan ini sampai terkenal sebagai salah satu ciri khas rumah Belanda.

the Dutch Stairs

cof

yap… tangga di rumah londo (bangunan lama, yes…) alias Dutch Stairs sering disebut sebagai: “Death” Trap (trap itu tangga dalam bahasa Belanda) saking curamnya dan imut2nya si tangga inih, belum lagi biasanya arahnya berbelok, pas belokan itu bentuk tangganya ya segi tiga gitu dong..

kalau lihat foto tangganya doang nih, pasti sy mengira yg pernah tinggal di rumah ini adalah keluarga kurcaci yang bikin tangga didalam rumah pohon… ngga bakalan nyangka kalau ini adalah rumah orang Belanda yg dikenal tinggi besar… (opo maneh nganggo sandal kayu… ealah… impossible meneer...)

sebenernya di Indonesia, sy blm pernah tinggal di lantai atas, ada lantai atas di rumah mymommy pun, sy naik ke lantai atas rumah sy cuman buat nimpuk adek sy kalau sdh dipanggil dan ditelfon tetep ngga nyahut… lagiaaaan, tangga rumah di Indonesia biasanya cukup lebar buat naruh pantat emak2 yg mo pose wefie canteeek bebarengan…

nah, dapat rumah yg dibangun jaman bahuela (baca ceritanya di sini), otomatis sy dapat warisan “the Dutch Stairs” ntuh… oh oh oh… cinta pandangan pertama ketika buka pintu depan… look at those cute stairs ^^, no death trap laaah , sy pikir… jelas sy pede aja lagi… karena sebelumnya waktu sy sempat tinggal di apartemen lantai ke-5 tanpa kemewahan lift, sy sempat melatih jempol kaki sy buat mencengkram tangga imut2 namun lebih simetris itu.. bahkan dapat anugrah zero-accident-award selama 11 bulan berturut-turut.. *proud

however, it turned out that it wasn’t that cute >.< 

the dutch stairs turned into a steep slide one early morning and helped me getting faster to the ground… *bruk

oh la la, suddenly I got a world map tattooed on my body…

ampuuuun, ndoro meneeer…

I ain’t no ninja mom after all

 

3

Mencari tempat tinggal (4)

sebagai “mahasiswa” baru di kampus utwente, sy punya jatah housing untuk difasilitasi kampus selama 1 tahun, artinya: mendapat tinggal full-furnished di luar maupun di dalam kampus (tentang housing university of twente baca di sini) pada saat itu sy merasa amat beruntung karena di tengah antrean pencari housing full-furnished kampus, sy mendadak bisa dapat tempat tinggal dalam waktu kurleb seminggu sebelum keberangkatan…

de stadsweide

sebulan pertama sy nengkri cantik dulu di de stadsweide, apartemen sharing ber3 dan semi-furnished – yg buat sy jadi super furnished gegara tinggal bersama 2 cewe post-doc baik hati super sibuk, yang pernik2 tempat tinggalnya lebih-lebih (sampai sy diminta bawa beberapa pas keluar dari apartemen cobaaaa ^,^) lantas lokasinya di pusat kota, yg bikin keinginan shopping tidak bisa dipasung, pulang dari kampus selalu nyempetin buat melipir ke v&d atau hema yg waktu itu lagi sale gila-gilaan (karena v&d mo tutup, hema-nya mo pindahan)..

mondriaan

kemudian 11 bulan berikutnya sy lewati dengan nyaman tentram di apartemen mondriaan yg semi-private dalam kampus, errrrr ekstra olah raga naik turun tangga lagi (baca ceritanya di sini), huehuehue, dan dapet tetangga yg super seru buat ngobrol ngalor ngidul meski umurnya kurang dari setengah umur sy beda dikiiiit.
nah, kesalahan sy adalah:

membiarkan diri terlena dan menafikan kenyataan bila mencari tempat tinggal (+di belanda)(+berdua sama anak)(+phd dgn beasiswa dikti) itu relatif tidak mudah… relatif.. iyaaa.. relatif… namun ternyata amat sangat tidak mudah buat sy… tau gitu kalau perlu dari awal deh sy langsung berburu tempat tinggal *terisak-isak *drama usaha via email untuk merayu pihak housing kampus untuk memperpanjang sampai sy dapat housing ngga berhasil juga, otomatis sy musti usaha lewat jalur lain..

pada masa itu sy masih kekeuh dengan kriteria tempat tinggal idaman:

  • musti deket kampus (secara waktu sy akan habis di kampus)
  • paling engga ada 2 kamar tidur (rencana mo bawa anak)
  • NO MORE 4th – 5th floor – sudah cukup langsingnya pegelnya kok… hahaha…

untuk mencarinya, ada berbagai alternatif yg membuat sy install fesbuk apps lagi (*alesaaaaan):

  1. grup2 fesbuk > nongkrongin grup2 fesbuk marketplace utwente-itc, saxionsaxion, dan housing di enschede dengan cara ini, biasanya bisa mendapat tempat tinggal lungsuran, maksudnya dari penyewa sebelumnya.. yaa, ada temen yg bahagia banget bisa dapetin apartemen bagus, ga bayar makelar rumah, lokasi di centrum (city center) beserta barang2 milik penyewa sebelumnya yg diberikan dengan harga paketan promo… asyik emang, sayangnya tawarannya jarang banget, daaaan pernah sy cape ngelihat fesbuk, mutusin buat absen bbrp hari aja, eh ternyata malah pas ada tawaran asik yg pas sy hubungi sdh hilang deh…
  2. fesbuk page > via makelar officialnya kampus, de veste, buat dapetin studio/private room un-furnished dalam kampus, yang di-iklanin di fesbuk (tapi musti register imel dulu di websitenya yaa)… dalam sebulan biasanya ada 3-6 studio/room yg ditawarkan, dan kurleb 8 bulan sy ikutan apply, daaaan belum beruntung, jadi sebel juga pas tahu ada student yg belum lama dateng namun sdh bisa boyongan kesana… kok bisa??? yaiyaaaa, sistemnya LOTRE, jadi… yaaaa I would need tons of luck.. pssst, bahkan saking desperatenya kadang sy ngga isi form sekali doang, hihihi, versi inggris dan versi londo sy isi semua formnya… ^.^v
  3. website makelar rumah macam: smartwonen, funda, huurwoningen, domica, (browse the names) etc biasanya berbayar (ongkos adminnya sampai sekitar sebulan uang sewa), dan tempat tinggal yang ditawarkanpun jarang ada yang terjangkau sama kocek, beberapa kali sy menemukan studio atau apartemen yg asyik, ngga bayar banyak, eh tapi ngga disetujui karena pendapatan dianggap kurang (biasanya diminta pendapatan 2-3 kali lipat harga sewa rumah), atau karena pendapatan sy adalah beasiswa dari non-londo, atau karena tempat tinggalnya ngga sesuai untuk anak…
  4. website makelar rumah yg sepertinya non-private, karena bisa punya akses ke database kependudukan.. yang sy ikutan ada dua, woonplaats dan domijn, dan sistemnya lotre… hiyaaaaa lotre lagi… di dalam websitenya dibagi jadi 2 kategori, dibawah atau diatas 710.. untuk kategori dibawah 710, biasanya dalam kisaran 450-600an, lumayan sih.. cuman sekali lagi, sistemnya lotre.. untuk satu tempat tinggal yg murce kadang yg apply mencapai 200an… >.< lantas akan kepilih 3 kandidat buat datang ke open house, kans paling gede ya kandidat 1 laaaa, dan selama berbulan2 sy dikabarin jadi kandidat pun baru sekali – itupun kandidat ke-2, dan belum berhasil, oh ya.. untuk bisa apply ke agen rumah ber-subsidi ini harus sudah memiliki IB60 (pernyataan pendapatan dari dinas pajak, silahkan browsing, ngedapetinnya bisa pertelfon atau rikues online, sy rikues online krn bisa mabuk kalau dengerin bahasa belanda via telfon, meski bisa juga rikues via sekretaris departemen, hihihi)

sy jelas dong, berbulan-bulan memasukkan pencarian rumah di jam2 pertama di kantor… fesbuk dan website makelar2 rumah jelas ter-bookmarked.. nah ini yg bikin capek, habisin waktu, dan bikin stress gegara waktunya makin mepet sama jadwal pengusiran ^.^ alias habis kontrak… makanya lantas overthinking: harusnya mungkin dari awal sy sudah mulai mencari, secara belum begitu jodoh sama sistem2 ala lotre ginih…

lantas apa sy dapat tepat waktu? tidak, pemirsaaah…sampai habis kontrak, ternyata sy ngga berhasil dapetin tempat tinggal… padahal bocah kesayangan sudah sampai di londo…
namun, di detik2 terakhir, syukurlah, ada keluarga yg berbaik hati (namun smg ngga depresih) menerima kami berdua yg gesrek inih *-___-* dan bonusnya: they happened to be such a super cool couple with adorable babies *bikin jadi pengen punya bayi lagi *halah *abaikan
setelah pindahan, sy ngga lagi ketat dengan persyaratan impian sy, mau studio, apartemen, rumah.. semua-semua diklik, semua semua dilamar, apa aja mau deh, asal lokasi ngga bikin trayek sepedaan makin jauh gituuuu… mau kamar satu apa dua apa tiga, asal harga masih terbayar ya hayuuuuk… *mauan yaaa
akhirnya yaaaa, akhir bulan lalu, sy menjadi kandidat ke-3, untuk sebuah rumah, rumah looo bukan apartemen atau studio, rumah londo yang dibangun tahun 1922… rumah londo biasanya tidak hanya satu lantai, ada ruang bawah tangganya, ada attic-nya, juga halaman belakang.. kamarnya lebih banyak dari yg kami butuhkan, dan  lokasinya lebih dekat ke pusat kota daripada ke kampus.. setelah open house berlalu, pas sy telefon nanya kemungkinannnya dijawab: “oh, kamu kandidat ke-3 (*i know), ada kemungkinan kandidat ke-1 atau 2 menerima, jadi tunggu email dari kami saja ya…” haiyyaaaa, itu sih sy tau, eniwe… sy ngga terlalu super berharap juga sih jadinya… apalagi setelah dibilang salah satu persyaratan adalah IB60 2015 & 2016 sementara sy cuman punya yg 2016 aja.. pasrah bangeeet…

tapi kayanya justru karena pasrah gitu malah syukurlah kami dinyatakan sebagai pemenang haisy, penyewa maksutnyeee *jump for joy

happy ending? well, ehmmm, gimana yaaaa… ternyata pindahan ke sebuah tempat tinggal yg un-furnished ngga semudah yang sy bayangkan, meski sudah pernah baca2 sebelumnya, misal dari referensi wajib ibu ratu “queen of babble” atau dari website ACCESS

ribet ending tepatnya…

-to be continued-