6

Cerita Perempuan Biasa

Siang itu, semua berjalan seperti jadwal biasanya dalam hidup Rora

– anak-anak TK pulang jam 11, ada yg langsung pulang, ada beberapa yang memang biasa dijemput jam 12an atau bahkan lebih – ada juga yg sampai harus ada yg mengingatkan orang tuanya untuk menjemput, dan – ada juga yg sudah ditelponin bapaknya – eh si bapak bilang sibuk trus malah minta tolong pihak sekolah untuk telpon saja ibunya..*haisy.. yang begini ini yg membuat Rora sakit kepala saking sebalnya.. ada beberapa yg langsung ganti baju trus main lagi karena mereka dititipkan ke daycare yg bertempat di lokasi sekolah, alhasil beberapa guru harus tetap di halaman sekolah sembari mengawasi anak2 yang riuh bermain, satu guru terlihat menenangkan satu anak yg menangis karena tidak akan dijemput ibunya seperti biasanya, sebagian guru yg lain harus menyiapkan materi bermain untuk keesokan hari di salah satu kelas yg dijadikan basecamp..

Rora sedang di ruang kerja kepala sekolah, bersama Meta & Ina – dua guru muda yg menjadi asisten Rora sementara, eits, tapi Rora bukanlah kepala sekolah, hari-hari itu dia sedang mendapat tugas istimewa, maka ibu kepsek yg baik hati meminjamkan ruang kerja untuk ditempatinya..

ruangan tersebut penuh dengan materi dan alat peraga TK, ditambah panasnya kota yg luar biasa, kipas-kipas pake kertaspun tak ada artinya, Rora menarik nafas panjang sambil beranjak membuka pintu belakang, niatnya mencari angin agar ruangan tersebut tidak terlalu pengap, apa daya yg masuk malah angin panas.. huh, malah membuat nafas sesak dan sakit kepala Rora makin terasa, kembali dia mengoleskan minyak angin kedahinya.. ia juga menunggu sesuatu sambil terus memeriksa hp-nya.. sampai akhirnya bunyi pesan di hp membuatnya beranjak berjalan keluar..

“Hai! aku disini yaaaa! ” seru Rora sambal melambaikan tangan ke 2 perempuan yg baru masuk ke dalam lapangan sekolah sambil menuntun motor pelan2.. yaa, makin siang bukannya makin sepi, ini jam istirahat SD sebelah, beberapa anak SD sebelah yg dulunya bersekolah di TK ini terlihat berlarian melintasi lapangan.. menyebarkan debu kemana2.. seorang anak berlari mendekati Rora dan salim.. Rora tersenyum sambil mencoba mengingat-ingat nama mantan muridnya yg kini sudah SD itu.. tak apa-lah bila masih kecil, tapi kalau ada mantan muridnya yg sudah SMA, atau kuliah, biasanya Rora menarik tangannya ^^,

Dina, teman Rora saat SMA, berjalan kearahnya membawa 1 kantong plastik besar.. Dibelakangnya, Ari menyusul setelah memarkir motor.. Dulunya Dina juga guru TK, Rora sempat bertemu beberapa kali sewaktu ada pelatihan guru TK di tingkat kotamadya. Kemudian, dia “menghilang”. Bahkan tidak aktif di grup whatsapp reuni SMA mereka. Lantas ada seorang teman yg “menemukan” Dina, yg ternyata terkena kanker, terpaksa berhenti kerja, dan ditinggal suami yg membawa anaknya, dan tak punya alat komunikasi..

baru kali ini Rora setuju grup wa ini sangat bermanfaat.. grup yg ramai hanya bila menjelang reuni kecil atau reuni besar itu bisa berdiskusi serius ttg bagaimana membantu kesembuhan –juga kelanjutan hidup Dina.. Rora yg jarang aktif, jadi tahu kalau teman-temannya banyak yg menjadi orang hebat.. ada yg membantu mencarikan obat alternatif dari luar negeri, ada yg menjadwalkan kunjungan rutin, memberikan tempat usaha warung (yg kemudian sepertinya kurang berhasil), dan bantuan2 lainnya saat itu, namun kelanjutannya Rora kurang tahu juga..

Pada Dina sendiri, Rora tidak banyak bertanya.. ah, apalah aku ini, kata batin Rora sambil menghela nafas, Rora tak tahu harus bagaimana membantu temannya, ia hanya bisa mengajak ngobrol sesekali di wa, atau memesan makanan yg menjadi usaha Dina saat ini.. tapi karena memang nasi ramesnya enak, kue2 bikinan Dina juga kesukaan Rora (beberapa merupakan resep ibu Rora loh!) dan lumayan juga sambil pesan makanan sambil bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan temannya satu ini..

Setelah saling menyapa, Dina menyodorkan kresek berisi dua dus besar ke Rora..

“Ror, yg atas ini 1 dus isi 3 nasi bungkus.. lauk senenganmu inih, dan nasinya sedikit.. trus yg bawah itu yg isi 20 pastel yaa” ujar Dina…

“hmmm pastel jagoanku!” Rora mengambil 1 pastel dan ngga sabar merasakan gurihnya sebelum meminta tolong pada Meta & Ina untuk membagikan pastel ke guru-guru lainnya..

Kemudian Ari, teman Dina, menyerahkan 1 tas plastik lagi.. “Nah, ini sinomnya 5 pesananmu, bonus 1 botol beras kencur, bikinan Dina juga, produk baru ini” promo Ari, perempuan yg selalu nampak ceria..

Ari memiliki cerita yg hampir sama..

Suami Ari juga meninggalkannya, dan anaknya pun ikut dibawa suami dan hanya akan diserahkan kalau Ari mau mengurus dan menanggung biaya perceraian mereka, padahal setahu Rora, anak Ari termasuk ABK dan sedang dalam perawatan (yg menunjukkan hasil yg baik, namun bila terhenti di tengah-tengah, hmm, Ari harus memulai sesi perawatan dari awal dong ya..), dan entah bagaimana dua ibu ini dipertemukan dan saling membantu, sementara ini Ari bekerja lepas, disela2nya dia membantu Dina menyelesaikan dan mengantarkan pesanan2..

Meski terlihat sedikit lelah, atau efek sinar matahari yg panasnya kentang2 siang ini, Dina nampak sehat.. Dia membenarkan bahwa obat alternatif yg diberikan oleh teman2 itu cocok.. cuman dia tidak ingat namanya.. dan dia mendapat perawatan yg masih gratis dengan BPJS.. dia masih semangat untuk sehat.. karena keinginannya hanya satu, bagi Dina – dan juga Ari, untuk bisa menabung dan ada pendapatan tetap, agar bisa dekat dengan anak2nya kembali..

sebuah keinginan sederhana namun amat luar biasa perjuangannya..

Dina menyampaikan kalau pesanan kue dan nasi kotak memang tidak bisa dipastikan, kadang ramai kadang sepi, makanya dia mempertimbangkan untuk melamar menjadi guru TK di dekat kos2an mereka, meski 6 bulan pertama hanya akan menerima gaji standard guru TK setempat, yg besar perharinya kurleb sama dengan harga satu nasi kotak yg juga dijualnya..

Dina juga menambahkan cerita bahwa beberapa bulan lalu dia mendapat pelatihan gratis membuat sinom dan beras kencur dari disnaker kotamadya, bukan cuma pelatihan, tapi peserta juga dibantu dengan pengurusan ijin DinKes P-IRT segala.. wah Rora bersyukur, pemerintah setempat bisa membantu seperti itu.. meski untuk penjualannya Dina masih harus keliling mencari pasar, karena kan jadi banyak yg jualan sinom juga di kota ini jadinya..

Rora melihat label berbahan kertas yg tak utuh karena luntur terkena air sebelum membuka botol plastik beras kencur dan meminumnya..

“hmmm, enak iniiih! segar! mau lagi yaa tapi kirim ke rumah aja, terserah kapan bisa kirimnya..” ujarnya sembari melirik satu tas tote bag yg dibawa Ari,

“Lah itu apa? Pesanan lainkah?”

“oh ini…” Ari sedikit terbata menjawabnya.. “ini tas sama daster, mau diantar ke RSUD..”

“loh, siapa yg sakit?” potong Rora seketika..

Ari dan Dina menghela nafas.. sebelum kemudian Ari mulai bercerita… tentang Kasih, sepupunya yg sedang hamil besar, dan “ditahan” di RSUD karena menurut pemeriksaan, dia positif HIV.. kemungkinan besar dari suaminya – yg kini meninggalkannya.. Ari terdiam sesaat, Ya Tuhan.. Rora tercekat.. ia tahu ia gampang menangis, tapi kan amat ngga sopan kalau dia nangis di depan 2 perempuan yg keliatan tegar dengan senyumnya masing-masing..

Cerita Ari berlanjut.. Setelah diusir dari rumahnya, Kasih kembali ke rumah ibunya di daerah pinggiran kota kecil di dekat kota ini.. ketika dia dibawa ke RSUD, dia hanya membawa baju seadanya dalam 1 tas kresek.. jadi Ari akan menyusul membawakan tas dan baju tambahan.. Selesai bercerita, Ari dan Dina berpamitan karena mereka akan bergegas menuju RSUD..

Rora masih termenung diluar setelah Dina dan Ari pergi.. pikirannya berkelana ke penjuru dunia.. tentang artikel terkait kabar terbaru usaha penyembuhan HIV yg lagi ngehits di jurnal terkemuka, tapi entah kapan perempuan2 seperti Kasih bisa mendapatkannya.. tentang hari perempuan internasional.. perjuangan hak-hak perempuan – tingkat tinggi.. tentang obrolan twitter yg ramai tiap terkait isu perempuan – jalan hidupnya, kodratnya, pilihannya, keinginannya..

ah, ingin rasanya Rora bisa menyedot perhatian yg besar itu ke perempuan2 seperti Kasih, Ari, dan Dina.. tapi apa daya.. Rora hanya perempuan biasa yg hanya bisa bercerita..

Advertisements
11

Verzets Museum Junior Amsterdam

Saat ngelihatin blog lagi, trus mikir, enaknya nulis apa sih yaaa.. trus dapat ide terkait program kami, 10.000 langkah akhir pekan –  jalan-jalan tiap Sabtu ke keliling kota lain buat menjelajah museum atau centrumnya..

Jadi sepanjang 2019, mumpung masih tinggal di negara yg apa aja dimuseumin ^^, sy akan menulis ttg kunjungan kami ke museum2.. yaaa saking ketje parahnya museum2 ini, dan kami merasa selalu bisa belajar banyak saat kunjungan tersebut..

Verzets Museum (Junior) – Amsterdam  – Museum Sejarah

Sewaktu Stan nyodorin nama museum ini, sy belum ngeh ini museum apa.. reviunya keren banget pokoknya, promo Stan, related to history – world war 2.. hmm, sy jadi pesimis bakalan bisa enjoy karena ngga suka banget dgn tema perang, tapi ya sudahlah.. sy pasrah aja..

tentang perang? foto2 perang kah? alat2 perang? atau apa???

namun ternyata museum ini beda banget sama bayangan saya tentang “museum perang”.. museum ini memiliki 2 bagian, kami hanya mengunjungi bagian Junior saja, tapi asik bgt sampai-sampai 4 jam ngga terasa dan bahkan saat museum sudah akan ditutup kita masih betah didalamnya, wkwkwk.. kesimpulannya museum ini SUPER KEREN!

menurut pendapat sy, museum ini dikemas dgn pesan: It is important to see all sides of the story! dan dgn pendekatan Storytelling

Untuk masuk ke bagian junior, pertama2 kita akan duduk di sepetak ruangan bioskop kecil yg dinamakan “mesin waktu”.. dari tahun 2000, mundur ke 1990, ke 1970, terus sampai tahun-nya world war direpresentasikan dgn gambar barang2 sehari2 misalnya media komunikasi, media untuk mendengarkan musik, media belajar, dll.. sy suka nih, serasa nostalgia lihat barang2 saat masa kecil..

Keluar dari “mesin waktu” kita akan masuk kedalam kehidupan 4 anak, Henk, Eva, Jan, dan Nelly.. 4 anak ini mewakili 4 tipe keluarga yg hidup di Belanda kala PD2.. kisah nyata loh ini.. 4 anak ini juga ada fotonya ketika sudah jadi opa-oma… nah, di museum ini, kehidupan anak2 tsb direpresentasikan dalam bentuk bagian2 rumah dan bangunan yg penting dalam hidup si anak tsb, hmm, seperti masuk IKEA with a story di tiap biliknya deh..

1 – Henk – anak Belanda yg hobi koleksi barang2 yg berhubungan dgn perang (pecahannya apa, peluru, perlengkapan pilot atau pesawat perang, dll), keluarga Henk ngga memihak siapa2, dia pikir perang atau ngga perang itu akan sama aja.. sampaaaai.. sahabatnya yg Jewish harus pindah dan dia sedih karena merasa kehilangan, kemudian dia harus mengalami periode susah makan – dimana tiap orang, termasuk anak, harus punya kartu ID makan dan antreeee buat dapetin makanannya.. belum kalau tumpah – yaa ngga jadi makan sampai besoknya… disini dipamerkan barang2 koleksi Henk di kamarnya dan foto keluarganya.. Ah, Henk baru paham ternyata perang itu amat berpengaruh pada hidup siapa saja dan menyusahkan.. bahkan untuk orang yg ngga terlibat secara langsung.. di luar ruangan Henk, ada game labelling barang2 belanjaan rumah tangga kaya makanan, minuman, sabun, dll.. seru dan sy suka… wkwkwkwk *mamak2 gamers

2 – Eva – Jewish, anak Austria, pindah ke Belanda saat Austria diduduki Nazi, tinggal di Amsterdam dan tetanggaan sm Anne Frank.. saat Nazi memasuki Belanda, ada peraturan bahwa anak Jewish musti ditandain bajunya (pake emblem bentuk bintang) dan dibatasi area perginya, mulai deh acara persekusinya, trus makin lama makin ekstrim sampai ada ancaman semua Jewish akan dibunuh, hingga keluarga Eva harus pindah2 rumah untuk bersembunyi, dan berat menentukan apakah mereka terus bersama atau bersembunyi terpisah.. di satu ruangan kamar tidur tempat persembunyian Eva berhari-hari digambarkan betapa bosannya Eva dgn hari2nya – kemudian dia tertangkap dan harus masuk camp transit, lantas pindah camp nazi di Jerman untuk anak perempuan, tempat tinggal-nya yang seperti penjara, siksaan dan keharusan untuk bekerja seharian – dimana dia harus mencari barang berharga di bekas lokasi perang misal kalung, cincin, dan jam tangan dari korban2 perang.. Meski sempat terpisah dari keluarganya, akhirnya Eva bisa bertemu ibunya (gegara sakit, masuk RS, dan bisa kabur) dan kembali ke Belanda.. Menelusuri ruangan2 tempat cerita hidup Eva bikin trenyuh dan amat menyedihkan..

3 – Jan – anak Belanda, anak seorang pastor yg menentang Nazi.. atas dasar kemanusiaan dan kebaikan, keluarga mereka kerap menolong Jewish, termasuk pilot yg terluka saat perang, jadi ruangannya ada rumah Jan, gereja, gudang bawah tanah, dan kandang peliharaannya keluarga Jan, keluarga Jan mendapat banyak tekanan dari Nazi, sampai ayahnya ditangkap, dan Jan harus melarikan diri ke kota lain, ganti nama, dan numpang di rumah keluarga orang, dan harus update pesan2 dari bapaknya.. kebayang ngga sih, anak kecil yg harus melarikan diri karena dikejar2 polisi, dan lantas hidup sendirian dan berganti-ganti keluarga.. di satu pojok ruangan juga ada game yg menunjukkan cara2 mengirimkan pesan secara rahasia misal dengan pesan super kecil yg bacanya harus pake kaca pembesar, atau pesan pake sandi morse.. serasa main escape room kalau ini..

4 – Nelly – anak Belanda yg keluarganya bergabung dengan partai Nazi cabang Belanda, bapaknya malah ketua partai lokal.. si Nelly merasa kehidupan keluarganya membaik sejak kedatangan nazi.. dia juga suka karena banyak teman baru sejak bergabung dgn anak2 muda di partai tersebut.. intinya – dia ngefans banget sama Hitler dan program2nya… tapi apa kabar Nelly di lingkungan rumah dan sekolahnya? dia diintimidasi karena dianggap berkhianat dong.. kami jadi berdiskusi ttg Nelly.. what do you think about Nelly? would you also hate Nelly? would you think Nelly’s decision to join nazi is not smart? kemudian kami dikenalkan dengan kata “propaganda” – dan propaganda nazi itu kaya apa aja.. jadi, nazi emang jagoan nge-hoax di segala media jaman itu – film, radio, koran, poster, selebaran dan dimana aja tempat nongkrong yg lagi ngehits.. contoh propaganda nazi misal: Hitler itu sosok penyayang anak jadi hatinya lembut, ras Jerman itu superior jadi dunia akan lebih baik bila dikuasai nazi, Rusia itu ancaman terhadap budaya kristen, Jewish itu perwujudan setan jadi harus dimusnahkan, dll.. nah, di ruangan Nelly kami bisa belajar tentang visual literacy dengan game, gambar mana yg paling sesuai untuk propaganda tertentu.. psssst, meski propaganda nazi ini berhasil banget di Jerman, tapi tidak sesukses itu di Belanda..

nah, selain kisah 4 anak tersebut, banyak cerita dari anak2 lain di luar Belanda terkait PD2…. sy suka banget karena museum ini menjelaskan perang pada anak2 dengan sederhana, dengan kata2 anak2 juga.. jadi mudah dipahami pesan2 seperti: harus melihat dari sisi yang berbeda saat melihat satu masalah, jangan langsung percaya sama media2, komunikasikan dan diskusikan bagaimana menyikapi perbedaan2 dengan anak – karena mereka generasi penerus kita..

kesimpulannya: mengunjungi museum ini menyenangkan tapi juga melelahkan emosi ya..

dan karena museum ini di Amsterdam, yg super duper ramai sepanjang tahun, kami jalan kakinya ngga banyak menjelajah dan menghindari jalanan mainstream, hehehe.. ya ngga nyampe 10,000 langkah juga karena museumnya cuman 2km dari stasiun utama.. lumayan lah.. kebayang kalau di Suroboyo sudah pesen go-ride kayanya.. wkwkwk..

6

Memulai 2019

kan.. sementara yg lain sudah berlari, synya yg hari ini terima buku agenda baru dari fakultas baru ngerasa terbangun.. agenda baru, kalender baru, hey.. tahun baru iniiiih.. target baru buat semester ini apaaaa?

oh sungguh amat sigap *nampol diri sendiri

sesungguhnya sy memang sudah memikirkannya mulai Desember lalu.. pas banget sama momen kelahiran, jadi seharusnya cocok buat momen refleksi.. ngapain aja kemaren? trus planning.. mo ngapain nanti? mo jadi apa nanti? tapi terus terang sy ngga tahu harus mulai dari mana – eh klise amat.. sejujurnyalah sy ngga punya keberanian untuk menghadapi kenyataan.. haisy..

*tutup muka

sesungguhnya sy ngga setuju sama yg bilangnya “let it flow” atau “no reflection needed” and “no planning needed” karena sy ngerasa: kudu tanggung jawab ngga sih kita sama hidup inih? harus kan? yaa karena itulah ngga pas kalau nyerah dan hidupnya gitu2 aja.. harusnya refleksi teratur dong, yg jelek2 dikurangin, yg bagus2 ditingkatin.. kan gituh..

ya gituh..

teorinya… … …

namun apa daya… yg teringat di benak sy: waduh, 2 semester lalu (sebagai mahasiswa, acuan waktu sy adalah “semester” yaaa) I was falling behind in this life.. hiks… jadi biarkanlah dia berlalu, dan mari mulai membuat timeline semester ini saja…

beberapa menit kemudian merasa: ah ngga usah juga deh, ya udah yg bisa dikerjakan yuk mari dikerjakan – selesai ya udah.. kalau engga ya apes.. dan pada akhirnya, sy membiarkan semua berlalu begitu aja..

sampai hari ini..

mendadak, entah ada angin apa membuat sy ngga mau percaya begitu aja sama semua kenangan -yg jelek2 pula- setahun kemaren.. masa iya sih, ngga ada keajaiban sama sekali yg melintas, yekan.. atau ini hanyalah angin segar agenda baru? wkwkwkwk.. sering2 beli agenda aja kalau gitu…

PERTAMA yg sy lakukan adalah membuat daftar hal yg harus sy syukuri.. bikinnya dgn susah payah mencari hal2 positif yg sy lakukan di 2018 lalu.. masa iya yg sy inget cuman impostor syndrome dan bully2an dan permasalahan sekitar topik: perempuan yg kuliah s3 – di luar negeri – ngga sama suaminya – sempat ngga sama anaknya pula, haduh masa iya ngga ada bagus2nya? wkwkwk.. padahal terakhir kayanya ada beberapa hal yg sy rayakan sebagai suatu keberhasilan… nah.. sy harus intip blog, ig, twitter, dan gallery foto di hp untuk membuat daftar ini..

dan hasilnya…

I was quite OK.. (dan juga ngedumel sendiri – harusnya sy bikinnya bulanan biar ngga susah trackingnya kan.. wkwkwk..) yg penting adalah kemudian sy tau bahwa ternyata sy bisa bertahan.. dan itu karena sy ngga menyerah.. I was tired and broken, yes, but I kept on moving forward.. yaa itulah hidup mungkin.. sometimes makes me go the long way around for my biggest lesson: that I need to give myself permission to be a human being..

pelan-pelan saja, Moz!

KEDUA yg sy lakukan adalah memikirkan apa nih selanjutnya? semester selanjutnya adalah semester ke-8 di perjalanan PhD sy.. kudune lulus! seharusnya ya lulus! hahaha.. aamiin.. habis lulus ya pulang ke Indonesia.. dua hal ini ngomongnya gampang tapi persiapannya njlimet tenan alias sungguh rumit! yg pertama yaa disertasi harus komplit.. yg kedua adalah.. pindahan *oh la la karena itu bagian kedua ini harus benar2 sy jabarkan serinci mungkin, dan bikin jadwal yg harus sy ikutin.. time flies!

anyway..

– beste wensen – best wishes –



10

Merayakan keberhasilan


Photo by Brooke Lark on Unsplash

Di kantor sy ada satu acara yg disebut “Koffie Plus”, jadi ngopi bareng sambil ada yg bawa jajanan buat merayakan keberhasilan, entah ulang tahun (keberhasilan hidup kaaan..), kerja sekian tahun, dapat hibah, publikasi, terpilih apa, dll.. yg dibawa biasanya yaa jajanan londo, umumnya seperti pie, brownies, atau cake.. dan saking seringnya sy curiga mereka ini cuman hobi makan, hahaha.. yaa cocok2 aja lah ya sm sy..

Sy terbiasa sih kalau yg dirayakan ulang tahun, kalau keberhasilan yg lainnya belum juga terbiasa karena menurut sy – sy kebanyakan mikirnya!

Ceritanya, sy kan menjalani program PhD yg disertasinya berbasis artikel penelitian, jadi disertasi sy nantinya merupakan kumpulan artikel yg dipublikasikan di jurnal internasional. Tiap jurnal punya gaya penulisan yg berbeda. Maka, setahun terakhir ini kerjaan sy seputar submit ke satu jurnal – dibaca editor – revisi – ditolak – cari jurnal lain – revisi style biar sesuai jurnal tsb – dibaca editor – revisi – ditolak. Gituh deh. hiks. Dan ceritanya artikel penelitian pertama sy sudah ditolak 2 kali, sampai sy sudah hilang rasa excitement ttg artikel ini, pokoknya ditulis ulang trus di-submit, syukur2 editornya mau baca.

taken from http://www.phdcomics.com

Nah, bulan Oktober lalu sy mendapat surel bahwa artikel penelitian pertama sy diterima untuk dipublikasikan + dengan revisi minor (revisi seputar non-content misalnya: tanda baca, istilah, cara penulisan, dll) selama 2 minggu. Bersyukur.. pasti laaah! Senang?.. hmmm mungkin.. yg sy rasakan lebih ke “lega” saja. Yg dikatakan supervisor dan teman2 langsung: congratulations! it’s time to celebrate! you should feel proud and happy! dan sy jawab: hmmm, tungguuuu… masih ada revisi yg harus dilakukan (meski pas revisi rasanya sudah eneg bacanya – just like in the comic). Setelah revisi selesai, kata supervisor dan teman2 sekali lagi: It took hard work! It’s time to celebrate! sy jawab: hmmm, tungguuuu… belum lihat hasil akhir onlinenya.. Setelah artikel tersebut akhirnya published online [ https://link.springer.com/article/10.1007/s13158-018-0230-z ], supervisor dan teman2 masih semangat dengan dorongan untuk merayakannya, “It’s time to celebrate!” namun.. di hari yg sama saat artikelnya online published, sy mendapat kabar bahwa suami masuk IGD.. (btw: he is pretty ok by now)

hilang sudah perayaannya, dan semua akhirnya memaklumi..

well, sebenarnya kalaupun suami tak apa, sy tau sy ngga bakalan bikin perayaan untuk hal ini… kayaknya krn sy-nya memang kebanyakan mikir banget orangnya.. iya sih sy sudah berhasil published, tapi.. 1) kalau menurut orang lain cuman ecek-ecek (ecek2 bisa diartikan: kecil dan ngga berarti) gimana? kan itu jurnal Q2 saja (jurnal penelitian dikategorikan berdasarkan berapa banyak yg quote artikel2nya, jurnal tertinggi masuk kategori Q1 – namun penilaian ini ngga lepas dari kontroversi dan beda2 menurut organisasi sih) dan synya merasa cuman remahan rengginang, masih buanyaaaak banget kurangnya dan salahnya dan ngga ngertinya 2) kan bukan sy aja yg kerja, sy ngerasa supervisor2 sy banyak membantu dalam proses revisi, sy beruntung mendapat supervisor yg baik dalam membimbing dan jagoan dalam penelitian2 mereka.. sy ngerasanya sy tuh setor kata2 acak adul – namun mereka bisa membantu mengemasnya menjadi aduhai.. alhasil karena overthink dua hal ini sy cenderung bilang: oh itu hanya kebetulan, dan memang ngga minat buat merayakannya..

trus jadi mikir2 dan nanya2 dan baca2 tentang ngapain juga sih ada kebiasaan ngerayain keberhasilan macam gituh, dan yg sy temukan adalah:

3 efek positif merayakan keberhasilan (bahkan keberhasilan kecil)

1 – menumbuhkan success mindset – konon, mindset satu ini bukan disulap jadi ada – melainkan harus ditumbuhkan.. kenapa mindset satu ini penting buat ditumbuhkan? karena apa yg kita lakukan dan pikirkan itu kan tergantung (dan dibatasi) oleh mindset kita.. keberhasilan adalah ketuntasan suatu tujuan.. dengan merayakan suatu keberhasilan – artinya kita mengakui bahwa diri kita mampu untuk menuntaskan satu tujuan kita.. setelah itu, mulai plan – do – achieve – celebrate lagi.. memulai sesuatu – mengerjakannya – sampai bisa menyelesaikannya.. maka mindset ini adalah representasi self-esteem bahwa kita itu bisa menuntaskan sesuatu (dengan optimis)..  dimana harusnya hal ini menjadi motivasi yg baik untuk pencapaian tujuan berikutnya, lebih lagi mindset ini memberikan efek happy mood loh.. dan feeling happy itu baik buat kesehatan.. 

2 – sharing mindset – karena rasa senang itu menular! (kecuali kalau neytijennya super julid, hahahaha) gini deh.. kalau kita semangat senyum2 di depan anak kecil, si anak akan reflek tersenyum juga kan (kadang sambil nanya ada apa sih – tapi tetap sambil senyum) itu masih murni jiwanya.. masih sehat tuh.. kalau kita senyum2 trus orang di sekitar kita marah2 (lo ngapain sih senyum2, gila ya! gue timpuk lo ya kalau senyum2 ga jelas!) nah itu artinya yaaa, ehem.. mungkin kebalikannya.. hahaha.. jadi, sharing itu juga menguatkan karena memberikan kesempatan buat reflektif.. dgn sharing kita akan dapat (selain pujian) pertanyaan dan saran, syukur2 ajakan kerja bareng, yekan yekan.. 

3 – menjemput sukses berikutnya – karena kalau kita sudah menumbuhkan dua mindset diatas, maka hal baik berikutnya adalah: kemampuan buat ngelihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang positif lah… and success begets success..

jadi jangan ragu merayakan keberhasilan, sekecil apapun itu, paling tidak dengan yang terdekat lah ya.. mereka pasti bangga pada kita, kenapa kitanya sendiri engga? yekan.. dan buat sy pribadi, bagus juga sebagai bahan diskusi ttg persistence dan resilience sama Stan.. thus, sy dan Stan sepakat buat merayakan (any achievement) di tiap akhir pekan.. (sekalian jalan2, ngobrol2, dan refleksi)

buat sy minggu ini saatnya merayakan artikel yg sudah di-publish 2bulan lalu dan di-download hampir-1k ^^, plus bertambahnya usia; buat Stan merayakan ulangan Dutch spelling-nya minggu ini dapat nilai lebih baik dari biasanya ^^, 

what would you want to celebrate this weekend?

13

10.000 langkah akhir pekan

Rencana akhir pekan

captured by Stan

maunya nulis banyaaaaak banget tapi ntar jadinya curcol, wkwkwk.. jadi sekarang mo menuliskan rencana rutin akhir pekan saja.. biar galaunya reda, baru sy bisa menuliskannya.. atau keburu lupa sama galaunya, hehehe..

pada inget ngga, Juli 2017 lalu heboh berita bahwa orang Indonesia itu paling malas berjalan kaki.. berita dengan bahasa Indonesia langsung menjamur, tapi untuk yg mau baca report asli ada disini bila berminat..

sayangnya, berita2 di Indonesia kebanyakan hanya membahas hasil riset yg menyatakan bahwa orang Indonesia itu yg langkahnya paling sedikit di dunia, titik..

padahal akan lebih baik bila membahas dengan menyertakan 1-2 detail supaya lebih valid infonya.. misal: instrumennya apa dulu? riset tersebut menyatakan batasannya kok.. bahwa instrumennya smartphone dgn apps tertentu.. padahal ngga semua yg jalan kaki atau olah raga bawa smartphone-nya, ngga semua yg rajin jalan kaki atau olah raga punya apps tsb atau bahkan smartphone, dst.. gitu kan yaaa?

nah, jadi kemana2 deh, dan sok jadi reviewer, padahal sy mah apa atuh – hihihi..

lepas dari metodologi penelitian tersebut, sy sebenarnya mengiyakan kok, untuk diri sendiri..

karena saat hidup di Indonesia sy tidak merutinkan olah raga dengan alasan:

lazy meme

taken from indiatimes.com

1) sumuk atau panasnya kentang-kentang atau panasnya ora umum kalau orang Surabaya bilang;

atau 2) sibuk dan ngga ada waktu (mending buat tiduuuur);

atau 3) takut dijahatin orang pas lari pagi/siang/sore/malam (ciyuuuuus! daerah rumah emak ramai dan rawan..)

dan usaha sy untuk tetap jalan kaki adalah sebatas: dengan cari parkiran yg jauh dari tujuan.. misal, parkir mobil di parkiran umum depan kampus lantas jalan ke fakultas yg dituju.. atau kalau di mall yaa parkir setelah loket baru jalan2 meski pintu masuknya rada jauhan (dan alasan lain: suka lupa dimana naruh mobil wkwkwk)

mumpung hidup di negara kecil yg lumayan adem ayem tentrem inih, sy mencoba melawan malas kala wiken dengan bikin program 10.000 langkah akhir pekan..

jadi di hari Sabtu atau Minggu, kudu bangun pagi – sepagi mungkin, trus naik kereta kemana gitu sambil lanjut tidur trus jalan kaki ke sekeliling kota sampai gempor, baca2 ttg kota tersebut, kadang bertemu teman, kadang ngafe doang sendirian.. dan pulangnya tidur lagi di kereta..

ketika Stan ikut tinggal bersama sy, program barunya adalah mengunjungi museum2 di kota-kota di Belanda.. sambil baca sejarah kota-nya.. yaa buat Stan sambil belajar juga sih karena anak SD ada studi topografi* baik Belanda, Eropa, maupun dunia.. dan dengan tetap jalan kaki minimal 10.000 langkah dong.. bonusnya adalah bisa diskusi banyak hal sama anak sambil pikniiiiiik..

etapi bangkrut ngga kalu pergi tiap minggu? hmm syukurlah program ini adalah program murmer, anak2 sampai dengan usia 11 tahun bisa naik kereta api dengan gratis (dgn syarat tertentu, diantaranya harus punya kartu transport sendiri dan ortunya berlangganan abonemen tertentu).. lantas untuk tiket museumnya ada kartu langganan untuk anak seharga kurleb 33euro yg berlaku setahun.. fyi, museum di Belanda jumlahnya 473 (jumlah museum menurut situs museumkidsdotnl 2018) dan hampir ada di semua kota pula.. jadi terkadang buat kami juga bisa jadi tempat singgah kalau pas lagi hujan atau butuh toilet bersih..

yaaa sadar sih kalau 10.000 langkah tiap hari tetep ngga memungkinkan, cuman bersyukur juga masih dikasih jalan buat bergerak – alias naik sepeda, tiap hari kerja.. malah sempat beberapa bulan tuh sy harus menjalani rute naik sepeda 22km tiap hari loh (dan survive.. tapi ngga mau lagi >.<)

eh, apakah kecepatan bersepeda sy meningkat setelah tiap hari bersepeda selama tiga tahun?

TENTU TIDAK! wkwkwkwk

 

pengalaman pertama sy bersepeda di Belanda bisa dibaca disini.

 

*topografi

Topografi secara ilmiah artinya adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planetsatelit alami (bulan dan sebagainya), dan asteroid. Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasidan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal (Ilmu Pengetahuan Sosial). (wikipedia)

 

 

 

 

 

 

20

Cerita Ojol 2

dalam rangka rindu, mari lanjut lagi dengan Cerita Ojol, sambil mijetin kaki yg njarem boleh kan ya… kenapa pegal linu.. ya hbs dimanjain sm ojol, skrg balik ke londo sepedaan 11km/hari aja sudah ringsek kakinya.. gebroken.. kapot, kalau orang londo bilang – hahaha… apalagi minggu ini real-feel suhunya dibawah 10decel, maaaaak – linu sangath!

nah, kalau lagi berdua sama si bocah, sy ngga bs naik ojol motor kaya di postingan kemaren ntuh, yekan, secara dia sudah segede gaban sekarang ini.. kalo lagi berdua atau rame-rame, kami nyobain go-car, grab-car, atau blue bird via go-blue bird (mana ajah deh yg lagi promo, wkwkwkwk)

nah, sekian lama naik ojol mobil tuh:

1. cuman sekali ketemu ojol mobil yg disupirin mbak2.. itupun di Jogja, kalau di Surabaya belum pernah.. mbak ojolnya ibu muda cantik.. rapi dan ketjeh.. hmmm, apakah ini satu peluang nanti? *wink wkwkwk..

2. soal penampilan, beda nih kalau supirnya cowo masih muda tampilannya nyantai, beberapa nih malah ada yg pake celana pendek dan kaos, nah, kalau bapak2 lebih rapi jali dengan kemeja..

3. cuman sekali ketemu mas2 supir ojol yg sama sekali ngga ada obrolan, sepiiiiii.. jadi kedengeran sedikit suara waktu baru masuk mobil (“permisi mas….”) sama pas turun (“terima kasih mas”) doang.. jadinya ngantuk.. mau ngobrol keras2 sama si bocah juga sungkan.. dan sy ngerasa si mas juga ngantuk saking sepinya suasana perjalanan,

hmmm, apa jangan2 dia Robert McCall (Equalizer 2) jadi diem2 sebenarnya dia mendengarkan segala sesuatu dan akan membantu kala dibutuhkan.. jiaaaaah… hehehe.. di film itu, Bang Denzel jadi supir Lyft (ojol Amrik) jagoan ceritanya.. lah, malah resensi pilem eike.. >.<

tapi juga ada satu teman yg lebih suka kalau ngga ngobrol sama supir, takut ngga konsen begitu..   yaaaa kalau menurut pendapat sy sebagai supir bertahun-tahun nih, sy lebih suka ngobrol sama penumpang asal ngga ngobrol berat2 kaya nanya pilihan jalan hidup, wkwkwk, ntar dijawab:

“apa urusan anda menanyakan itu?” ooooopsie ^^

4. jadi, selain satu mas di no.3 tsb, supir lainnya asyik banget diajak ngobrol, obrolannya sekitaran nge-mal dan film – yaa karena biasanya kita naik ojol kalau lagi jalan2 bebarengan di mal, namun kebiasaan yg paling umum adalah…

hobi curcol sodaraaa!

yaa curcolnya sekitaran nyupir lah yaaa.. misal, ada beberapa yg jadi ojol karena pengen punya mobil (kelihatan di dashboard mobilnya ada diecast macem2 mobil gitu..) jadi tiap awal bulan dia bakalan rajin full day nyari penumpang buat memenuhi target cicilan mobil dan perawatan mobil, berapa targetnya? sekitaran 4-5 juta.. wow.. lebih tinggi dari gaji pns golongan 3a ya mas.. (*garuk2 karpet mobil) ada juga yg berbagi tips supir seperti tempat penting buat nongkrong: pagi di perumahan, siang di kampus2, sore di perkantoran, malam di mall.. *noted mas, thanks..

so, kalau sy sih ngga keberatan dengerin curcol asalkan si supir nyante dan ngga ngantuk, ya ngga?

11

Cerita Ojol

beberapa saat setelah mendarat di tanah air, sy langsung mengunduh 2 jagoan ojol, gojek dan grab.. ngapain dua? Ya buat nyari promo laaaah.. maklum, pns kelas jelata sy-nya ini.. kalau transport bs irit yaaa bisa lebih banyak jajannya.. hahaha… meski jajannya tingkat papeda kw alias telur gulung – ini jajanan yg lagi ngehits di seputaran hidup kala mudik tahun ini nih.. contohnya nih, naik ojek motor ke sekolah tempat sy mengajar itu antara 10k-12k sekali jalan.. kalau gojek pake gopay lagi promo bisa jadi 4k, kalau grab pake ovo lagi promo bisa nyampe 3k.. cuman promonya timbul tenggelam kadang ada kadang engga jadi ya musti rajin2 cek sana sini.. gicu… iya sy modis kan.. modal diskon banget, hahaha.. (etapi jangan kuatir.. tetangga sy banyak yg ojol, sy sdh memastikan kalau pas promo itu mereka tetep dapet tarif penuh)

ada satu pertanyaan yg paling sering dari orang2 di sekitar.. kok ngga naik grab/go car? sy jawabnya kalem.. sy ngga bisa pake ac, ngga kuat dingin.. hihihi.. daripada mo jawab ngga ada budgetnya ntar disanguin lagi, hahaha.. kan ngga nolak kitanya… hahaha

nah, berikut ini cerita2 antara sy dan ojol.. maap kalu jayuuuuuuus…

=========================================

-satu-

sy, pake helm setelah sekian lama ngga pernah pake, ternyata pas nyampe tujuan sy ngga bisa bukanya.. utak utik.. tarik tarik… eh masih ngga bisa juga.. smentara si mas ojol menunggu dengan sok kalem padahal sedang susah menyembunyikan kegelisahannya.. sampai akhirnya sy nyerah..

duh mas, ngga bisa buka helmnya gimana…

ya sini sy bantuin mbak..

sy pun reflek maju ke depan mendekatkan kepala ke si mas, eh segerombolan anak smp lewat sambil godain.. eciyeeeee, mesra sama ojolnya yaaa…

>.< grrrr

-dua-

kalau dulu ojek identik dengan tahu rute jalan, beda sm ojol skrg yg andelannya kebanyakan gps, jadi kalo mesen ojol seringnya datengnya agak lama.. tapi sy ngga pernah berani pesan sebelum siap nunggu.. alhasil seringnya yaa sy yg nungguin di pinggir jalan.. suatu ketika pas sy lagi nunggu, ada ojol yg mendekati gerombolan pengabdi eh penunggu ojol di pinggir jalan.. pas sy ngga inget plat nomornya sebelum memasukkan hp ke tas, eh malah inget namanya doang – pak syaifuddin.. nah pak ojol yg mendekat ini sambil memanggil nama sy sambil menatap semua penunggu ojol mencari yg mana gerangan pemesannya..

“mbak maureen…” panggilnya lirih.. malu-malu..

sy reflek dong nyapa balik… “pak syaifuddin..” sambil melambai..

eh dia seperti perlu gitu mengulangi lagi dengan lebih keras.. “mbak maureen..”

wadew pak.. masa iya sy sebut lagi.. panggil2an dari jauh gini udah kaya sinetron jalinan kasih aja kita nih pak.. tinggal zoom in zoom out.. ga pake pelukan ya!

>.<

-tiga-

sekolahan tempat sy mengajar lokasinya agak membingungkan, maklum lokasinya berada di dalam kampus.. supaya memudahkan, sy – kalau lagi ngga males berpanas-panas – sy kasih lokasi yg lebih umum, kantor bank dalam kampus misalnya.. dan ternyata banyak yg berpikiran demikian, atau yg emang lagi ke bank hehehe.. alhasil waktu sy jalan mendekati kantor bank eh sudah banyak ojol yg menunggu.. hmm yg mana ojol pesanan sy nih yaaaa, sy hanya mengingat nama orangnya pula sebelum baterai hp sekarat.. hadeuh.. alhasil sy main feeling dan main tuduh, hehehe… sy pun mendekati salah satu ojol..

“pak nanang?” tanya sy pelan bermaksud memastikan nama beliau..

eh si bapak geleng2 sambil bilang “saya (pesanan untuk) ibu maureen!”

wkwkwk

“kan sy nanya nama bapak looo… hihihi, masa nama kita sama pak..”

“oh sy dengarnya mbak Nana, gitu bu…”

aih si bapak… wkwkwkwkw…

-empat-

usai makan siang, berdiri dong sendirian di pinggir jalan sambil mesen ojol.. kebiasaan nih, habis klik mesen trus ok – ada ojol yg ambil pesanan sy, yaa langsung aja hp dimasukkan ke tas.. kan sendirian juga, berarti kalau ada ojol yg mendekat itu pesanan sy kaaan..

sambil tolah toleh nungguin ojol.. ngga lama kemudian, sy melihat dari kejauhan motor dengan pengendaranya yang berjaket hijau… waaaw.. naik ninja.. keren amat ojolnya kali ini ya.. sy udah senyum2 bahagia aja menanti ojol yg makin dekat.. si mas nya juga melihat sy.

jadi kami lihat2an..

eh apa sih >.< hahaha..

tapi trus…. laaaaah sy dilewatin… laaaah kok salaaaah…  whoaaaa.. sy baru inget kalau jaket resminya ninja kawasaki juga warna hijau… hahaha… jadi malu sendiri ngarepin naik ojol ninja sampai senyum2 sama orang.. >.<

===============================

ya ini nih bahaya… kebiasaan naik ojol kayanya amat memanjakan sy.. kalau ntar balik negara kincir angin bakalan masih kuat nggowes lagi ngga ya inih >.<

 

tambahan cerita (dibuang sayang)

-lima-

menjelang balik londo baru inget kalau musti ke dr gigi, buat bersih2 karang gigi dan periksa2 gitu deh.. seperti biasa, mesti deket rumah, minta anter ojol dong ke kliniknya. pas turun dan seperti biasa – rada lama pas buka helm, si mas nanya2 ttg klinik tsb,

bagus ngga mbak periksa disini? – hmm, kalau dokter umum sy ngga tau mas, sy ke dokter gigi..

lah, sy mo bersihin gigi nih.. kira2 berapa ya? – lah sy juga mau bersihin gigi mas, disini 50rb atas bawah.. pendaftaran klinik 50rb..

wah murah yaa.. sy juga mau kalau begitu!

nah looooo..

baru kali ini kan dianterin ojol sampai masuk klinik barengan, wkwkwk.. kompak amat sm ojolnya..