0

Program Talent Scouting Dikti

ok, postingan ini adalah salah satu simpenan berdebu yang sudah super duper lecek di folder draft ^^ lah kenapa file-file dikti tersimpan di draft? yaaaa belum berani published soalnya belum pasti berangkat… selama masa talent scouting, bapak-ibu profesor instruktur program ini sudah wanti-wanti seribu kali:

anda belum tentu studi lanjut ke luar negeri kalau belum naik pesawat untuk berangkat!

hiiiiiiy, ngeri yaa..

dan ini terbukti loh, saya sempat bertemu dengan beberapa bapak-ibu dosen yang meski sudah ikut program talent scouting, dinyatakan lolos beasiswa, sudah mengurus ini itu di Jakarta, (mungkin juga sudah syukuran dan mengundang tetangga dan sanak saudara) lantas … tidak jadi berangkat karena berbagai macam sebab >.< ouch

padahal kalau ngga woro2 itu juga menyusahkan dan membuat rikuh looo, ngga enak gitu jadinya, kesannya dadakan buangeth..  karena ngga sempat pamitan sana-sini sewaktu berangkat.. trus bablaaaas dan dibilang pergi2 seenaknya meninggalkan bla bla bla dan dicap ngga bertanggung jawab, apa enaknya cobaaaah *esmosi jiwa

kalau saya memilih akhirnya mending rikuh yang ngga pamitan tapi jadi pergi daripada pamitan berangkat terus ngga berangkat-berangkat, ya ngga sih? ya kan? tapi yaaa semua-semua jadi serba salah gini… >.< lo ini mau cerita apa sih.. *maaf pembaca

oh iya.. here it is..

Note: Program Talent Scouting yang saya ikuti adalah tahun 2014, berlangsung selama 2 hari (tahun berikutnya hanya 1 hari)

Program apa sih ini?

Talent Scouting Dikti adalah kegiatan pengarahan yang diadakan oleh DIKTI untuk dosen PTN dan PTS di Indonesia yang berminat melamar Beasiswa Luar Negeri (BLN) Dikti.

ada proses seleksi ketat, seketat slim jeans yang kekinian itu… kansnya lebih gede buat dapatin beasiswa dikti, NAMUN ngga janji yeeee…

Acaranya dilaksanakan 2 hari di berbagai kota di Indonesia. Bagi peserta dari luar kota yang terdaftar di kota tertentu akan mendapatkan free akomodasi dari Dikti, tapi transportasinya engga, sejatinya ya Universitas dong yg bayarin atau modal sendiri lah, toh kita juga berlibur ini ^^ #healthywealthyvacation

Syarat dan lalala-nya bisa dilihat di website Dikti dong ^^

karena banyak yg melamar kayanya syaratnya agak gila-gilaan cukup berbobot demi menyaring ratusan atau mungkin ribuan dosen (ngetren ngga sih beasiswa dikti ini?? dicaci tapi dinanti eaaaaa….) satu syaratnya ITP Toefl 600 gitu, atau IELTS 6.. (padahal sebelumnya cuman 550 coba… apa sy yg lupa yaaa, maafkeun)

sayaaaa? krn TOEFL ITP sy nge-pres 600, ya ngga berharap banyak bisa dipanggil, apalagi usia ngepas panget dengan limit sementara dosen yg lebih muda, lebih berprestasi, dan lebih semangat sekolah juga banyaaaaak

*trus pasrah

nah, namanya juga dikti, mereka ngga ada timetable gitu kapan pengumuman, konfirmasi, dan kapan pelaksanaan, MAKA yaa silahkan rajin-rajin cek website Dikti..

pengumuman hasil seleksi Talent Scouting keluar pas sebelum sy ribet2 berangkat ke Busan dengan bu Damajanti, alhasil baru baca di Kuala Lumpur sewaktu masa transit, syukurlah sy diterima… namun jadi panik karena udah mepet banget dengan deadline konfirmasi kehadiran..

dan alhamdulillah, waktu pelaksanaannya pas setelah sy balik dari Busan..

Ngapain aja sih ini?

Intinya:

  1. pengarahan bagaimana memulai untuk studi Doktorat di luar negeri
  2. bimbingan untuk memenuhi persyaratan mendapatkan beasiswa Dikti

Topik SATU

memulai studi berkisar tentang: kenapa kok musti di luar negeri, negara mana sih yang memungkinkan (ada beberapa negara yang tidak memungkinkan karena tidak memiliki hubungan baik dengan dikti, karena suka2 naikin SPP), sistem studi phd di berbagai negara, mencari supervisor, membuat proposal, menghubungi supervisor.

Topik DUA

mendapatkan beasiswa dikti berkisar tentang: persyaratan, dokumen, tips wawancara

well of course we can also browse this information over the internet but I think by joining this program let me focus on this stuff at least for these two days, which I often found it hard to do among the teaching schedule ^^

Pelajaran yang paling berharga?

Studi S3 itu berlangsung cukup lama dan paling penting yang ditekankan para instruktur adalah:

hubungan kita dengan Supervisor

jadi:

Mencari supervisor adalah satu tahapan penting dan PERSONAL.

sebagai orang nerimo, mungkin bisa jadi kita berfikir, oh come on, sy kan murid ya nanti sy akan nurut dengan apapun yang dibilang si profesor. yaaa, ok. tapi kadang tidak berlangsung semulus itu looo, ada beberapa teman yang harus berjibaku buat menjaga hubungan baik dengan si profesor, dan ngga sedikit yang gagal sehingga berpengaruh terhadap studinya…

NGERI! pake buanget…

Jadi ya, kita harus meneliti dulu dan mengenal dengan baik calon supervisor kita (bold + italic + underlined + bigger font size)

karena itu tahapan pertama yang sy lakukan saat Talent Scouting adalah:

MEMBUAT DAFTAR CALON SUPERVISOR

Bagaimana caranya?

Ya nyari. ya browsing. Berdasarkan keywords yang kita inginkan dalam topik kita? waaaah harus sudah punya topik??? yaaa kira-kira begitulah…

topik saya adalah digital storytelling.. maka sy mencari artikel di jurnal internasional terbaru tentang digital storytelling.. sy mencari dengan keywords topik + negara yang saya tuju, karena kebanyak topik ini trend-nya di Amerika, sedangkan sy memilih untuk tidak ke negara tersebut,  maka sy browse:

“digital storytelling” “article” “new zealand”

Nah, dengan begini sy akan mendapatkan daftar artikel jurnal dan yang fokus atau ditulis profesor dari negara NZ saja.. untuk tujuan ini, maka yang sy catat ya nama-namanya + asal universitasnya.. sy cari yang tidak hanya sekali menulis ttg hal tersebut, maka daftar sy bisa menyusut drastis dong.. ^^

daftar ini nanti tidak hanya berguna diawal namun saat kita menyusun proposal juga bisa ditanya2 ttg literaturnya loh.. sy pernah menghubungi seorang profesor di Hong Kong dan beliaunya dengan ramah membalas dengan berbagai link tentang literatur yang beliau gunakan.. YES..

Mencari program doktoral berdasar jurusan

misalkan jurusan saya, Teknologi Pendidikan, atau Educational Technology atau Instructional Technology, maka saya mencari dulu, di Uni mana yang ada departemen ini..

ngga banyak loo..

Misal kalau sy masukkan:

“Educational Technology” “PhD” “UK”

saya hanya menemukan SATU program PhD bidang Teknologi Pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan ( PhD in Educational Technology ) SATU loooo… ya kalau saya mau ke UK maka ngga banyak pilihan dong… atau saya tetap bisa melakukannya namun dalam lingkup Pendidikan secara umum, jadi PhD in Education.. nah.. ini yang riskan kalau jadi dosen di Indonesia, karena akan jadi kebanggaan dan lebih diakui kalau BUNYInya sama, S1-S2-S3 di Jurusan Teknologi Pendidikan, begitu…

(padahal bisa jadi PhD bidang pendidikan topiknya Teknologi Pendidikan dan yang membimbing juga Profesor bidang Teknologi Pendidikan.. *sigh)

Ok, setelah menemukan Jurusan yang kita tuju, kita bisa mencari daftar nama dosen yang ada disana. Pastinya juga ngga banyak kok, jadi penelitian berikutnya fokus pada daftar nama dosen-dosen tersebut.. apa preferencenya laki-laki/perempuan? lantas baca saja publikasi masing-masing dosen, mana yang sekiranya menarik minat kita? atau bahkan kalau kita agak sakti, mungkin dari fotonya kita bakalan kerasa bakalan cocok atau engga dengan orang tersebut.. hihihi..

Setelah itu baru deh dapat beberapa nama (dan imelnya ya) yang potensial.. Nah, itu baru satu negara dan satu universitas…

Nah.. mencari daftar supervisor ini sy lakukan dalam semalam, maklum excited, pelajaran baru ^^ dan dengan program ini yaa itu tadi, bisa fokus nyarinya…


Selamat hunting beasiswa yaaa…

1

Tristan, UAS, dan ibu

Belum Hari Ibu memang, tapi akhir-akhir ini spesial karena sy pertama kali mendampingi Tristan UAS yg pertama kali dalam hidupnya… tapi, hampir setiap saat itu spesial – mengingat selalu ada waktu pertama kali mengalami sesuatu bagi Tristan…

– tentang ujian akhir semester & Tristan

beberapa kali sy sempat ngobrol sm Tristan ttg “ujian”… —– apa sih ujian? kenapa sih ujian? untuk apa sih ada ujian? apa yang hrs disiapkan untuk ujian? ——  sering terlibat di ujian skripsi mahasiswa di kampus tidak membuat diskusi ini menjadi lebih mudah.. menurut tristan, ujian ya ujian, kadang kan orang bisa lupa, jadi ujian itu ya biasa aja, ya seingatnya saat itu -____-”

– saat menunggu uas

setelah tristan masuk kelas, sy duduk bersama banyak ibu di luar sekolah… sy merasa santai dan melarutkan diri asyik ngobrol ngalor ngidul bersama ibu lainnya.. beberapa waktu berlalu, dan ibu-ibu mulai gelisah…

ada anak yg terlambat.. mereka membahas panjang, kenapa orang tua tidak menyiapkan anak untuk uas, datang lebih awal, bla bla bla

ada anak yg nampak keluar kelas.. mereka membahas panjang, kenapa sampai si anak bisa keluar kelas alasan mau ke toilet tapi dengan melenggang kangkung, bla bla bla

sampai satu ibu mengeluarkan klipingan kertas dari dalam tasnya… sy lirik… astaga.. kumpulan soal! ibu itu membuka2 sambil mengingat yg mana yg kira2 anaknya belum bisa… trus tanya sy, bgmn Tristan belajar kemaren..

satu asisten rumah tangga bercerita dgn serunya, betapa si anak laki-laki dimarahin mamanya semalaman karena tidak juga bisa belajar dgn tenang… trus tanya, bmn Tristan belajar kemaren..

satu eyang mau melihat ke kelas karena takut si kecil mengantuk krn harus belajar lagi pagi harinya… trus tanya, bgmn Tristan belajar tadi..

dan rasanya semua mata memandang sy…

nodong jawaban…  dgn tatapan seolah di dahi saya tertempel label “DOSEN” dengan tulisan kecil “tahu cara mendidik anak dengan baik dan benar”

Tristan?

kemaren sepulang sekolah Tristan ngajakin sy makan siang di salah satu mall kecil, sambil lihat mainan dan ngobrol2 ttg teman2nya (dan sekilas tentang materi Budi Pekerti – Materi UAS ke-2).. pulangnya Tristan tidur siang… lantas sepanjang sore sampai malam Tristan nonton TV (ya, nonton TV, saat menyebut kata ini ibu2 langsung kasak kusuk)… trus main games (saatnya kasak kusuk lagi).. trus sebelum tidur kami melihat2 sekilas buku tematik tema “Kegiatanku di Sore Hari” (yang jadi materi UAS ke-1) dan membaca petualangan di sungai ajaib (enyd blyton)…

ada pertanyaan: “nilai Tristan 100 semua ya waktu UTS?”

hihihihi, ya engga lah… pas UTS apa lagi, Tristan ngga tau maksudnya apa disuruh ngisi kertas banyak banget..

ada pertanyaan: “lah, ibu ngga pengen anaknya senang dapat nilai 100?”

hmm, ya iya lah… sy ingin Tristan SENANG dapat 100, artinya dia faham kenapa harus 100, apa artinya 100.. tapi kalo engga juga ngga apa..

pandangan mata ibu-ibu mulai berubah… jadi ngga enak >.< akhirnya sy memilih kabur ke kantin baseball untuk sarapan..

seorang ibu bisik2 ke saya beberapa waktu kemudian — > ibu-ibu yg lain kasihan sm Tristan, kok ibunya ngga disiplin amat sih ngga ngajarin anaknya belajar, katanya dosen, ngerti kurikulum 2013, kok ngga ngerti kalo saat ujian itu harus diajarin, ibu macam apa itu… bla bla bla

-gluk-

dan Tristan memeluk sy, sudah ma, ngga usah didengerin, cuekin aja… >^.^

0

My English

Oh la la.. I got 580 for my toefl.. Listening » under 60. Structure » under 60. Reading » 63. Hey what’s wrong with my structure? Used to get over 60 for my structure 😦 now structure is the worse case.

blogging
Yes, lately I promise myself that I gotta blog everyday, and now it is trackable that all thru march I only blog 11times, even less than once-very-two-day, and this april I’ve been 11days late, sooooo, gotta blog everyday to catch up..

reading
Why is my reading score good? Hmm, since lately I gotta read some articles to support my dissertation proposal so it’s good enough for the effect..

listening
Hmm, movies?

Ok today I’m above 100 words now… Time to go…