6

Kalah!

the agony of defeat.

Stan sedang belajar menerima kekalahan.

jadi ceritanya ada audisi untuk musical performance – final year di sekolah. demi menjadi peran utamanya, dia latihan hampir 2bulanan, menghafal lirik lagu yg Bahasa Belanda lah yaa, mendengarkan dengan detail nada2nya, dan menyanyikannya setiap hari. ya, dia bekerja keras untuk itu, sejauh yang sy perhatikan sih.. dia bersedia tampil di depan sy (dan papanya lewat VC), menerima feedback, merekam dan melakukan self-reflection padahal dulu kalau disaranin ngerekam suara trus dengerin lagi dia bisa jijay sendiri, hehehe…

Saat hari audisi, peserta hanya sedikit, dan Stan pun tampil sebaik mungkin – cerita dia. Rasa ingin menampilkan yang terbaik mengalahkan demam panggungnya. Buat sy, hal ini menakjubkan, mengingat kalau untuk sy pribadi masih kesulitan mengatasi demam panggung. Teman2 Stan pun bersorak dan mendukungnya, apalagi banyak yang ingin tampil tapi tidak mengikuti audisi karena demam panggung.

Pengumuman di awal minggu ini menyatakan: Stan tidak mendapat peran yang diinginkannya. Dia pulang sekolah dengan gabutnya, tapi dia sempat kirim pesan: i need you!. wah hati emak mana yg ngga langsung ikutan galau mendengarnya.

sore itu, setelah mengges2 naik sepeda pulang sedikit lebih cepat dari biasanya, do my best to LISTEN. As he talks, his mind is processing and strengthening. meski mulut ini kadang ngga nahan buat mo komen ala ibu2 arisan tapi sy biarkan dulu dia menumpahkan semua. Dia upset dan auto-fokus pada kesalahan peserta lain (si A ngga hafal, si B kecepetan nyanyinya, dll.) dan berpegang pada dukungan teman2 (yg bilang katanya Stan lebih baik).

=== jelas dong.. sy maklum.. la wong terakhir kali sy mengikuti kompetisi dan tidak memenangkannya sy malah tidak bisa menahan air mata, di depan umum pula.. saat itu sy overthinking dengan mendaftar “pengorbanan” apa saja yg sudah sy lakukan untuk berjuang, trus disappointed karena merasa semua jadi percuma, tapi tidak marah. Sy juga ingat bahwa sy sempat auto- fokus sama “kekurangan” peserta lain tapi trus ngga lanjutin.. pfffh sy paham hal ini BERAT.. karenanya di saat-saat seperti ini sy paling ngga suka denger seruan: “halah ngga apa2” “nyante aja..” atau “kan lomba inih wajarlah ada yg kalah” apalagi “cuman gitu aja kok sedih!”.. jiaaah, sy ngga mau bilang itu ke Stan… sy tau sy tuh merasa berat karena merasa harusnya menang kok, kalau sy ikut kompetisinya ikut2an aja ya ngga akan seberat itu biasanya ===

nah kalau buat sy saja berat, gimana sy bisa bantu??? hiks.. namun kali ini mau tidak mau sy harus belajar membantu orang lain mengatasinya.. mana ngga sempat baca2 buat belajar.. hadeuh.. semoga ngga salah yaaa… sebelum2nya kalau dalam keadaan ini, sy langsung nyerocos terus – SALAH sih menurut sy.. karena yg dia butuh kan didengar, trus dibimbing untuk mengatasi masalah itu sendiri.. jadi sekali lagi, ini menurut sy aja ya..

Pertamaidentify the emotions.. sy membantu Stan mengenali emosi apa saja yg sedang hadir dalam dirinya.. tapi sebelumnya sy meyakinkannya bahwa sy tidak akan mengaitkan emosi itu dengan dirinya.. misal: kalau dia mengakui dia memiliki rasa marah, bukan berarti dia “marahan” atau “suka marah-marah” tapi ya sekarang ada rasa marah dalam dirinya.. dan itu normal.. wajar.. and for sure he’s so upset about it.. si emak tarik nafas panjang, wah bakalan suwe tur angel iki obrolane..

Kedualet the energy flow.. kalau emosi menumpuk, pasti energy meledak2 bukan? Bisa kebayang partikel2 tubuh sedang panik berlarian kesana kemari.. nah, maunya gimana untuk menyalurkan energy tsb.. makan? jogging? latihan tinju? pokoknya sy tawarin aja.. kalau pas waktu Stan kecil kami punya sansak tinju mainan di rumah, dan juga sedia bubble yg ditiup (sebulan kalau orang Jawa bilang).. meniup keras2 lumayan meredakan emosi lo..

Ketigagoing down to the root.. setelah energy tersalurkan, mulai kalem.. bisa diajak diskusi lebih lanjut.. kalau marah – terutama marah ke siapa.. diri sendiri? juri? pemilih? pendukung? guru? mama? eh mama? lah trus kok mamanya baper – haruskah mama lebih keras dalam mengawasi latihan bernyanyinya??? (eits, mama, this is not about you!) kalau kecewa – apa yg paling bikin kecewa?

Keempatback to reality.. saat emosi, kita memasangkan emosi itu pada satu kejadian, bs trauma dong.. jadi kami diskusi ttg audisi dan persiapannya.. misalnya: what was the best thing about your performance? what could be improved? were you satisfied with your effort? what do you think it is needed to perform in such musical performance? what was the most important think you learned from the audition?

Kelimaback to the main goal.. ikut audisi kan tujuan utamanya buat suksesin musical performance sekolah dan frankly mau show off dong.. so masih mau ngga? eh syukurlah Stan bersedia.. ^^ gimana caranya untuk tetap mensukseskan acara tersebut? peran apa saja yg dibutuhkan untuk suksesnya acara tersebut? apa yg dia bisa lakukan yg terbaik?

ya.. syukurlah sepertinya semua berjalan lumayan baik.. meski sekali lagi, sy belum baca2 ttg hal ini.. and it was a long day for us… syukurlah kali ini sy bs lebih sabar dan pelan-pelan (ini in my term yaa.. I think I used to be so mean 😦 but i’ve learned my lessons) dan sepertinya pelatihan sebagai coach di kampus berguna ngga cuman buat coaching other phds, tapi juga buat parenting, hihihi…

remember… Exposure to stressors that children can manage during childhood will help to ensure that they are more able to deal positively with stress later during adulthood. 

note (cmiiw)

disappointed vs upset vs sad vs angry

disappointed: rasa kecewa, biasanya karena harapan tidak terpenuhi

upset: apa dong terjemahannya.. tapi biasanya adalah merespon situasi negative secara emosional

sad: rasa sedih ini perasaan yang dalam, tidak mudah hilang, dan tidak nampak sebagai emosi yg kuat.. jadi kalau nangis sambil teriak2 sepertinya bukan sedih ya..

angry: rasa marah ini biasanya ketika ingin melakukan aksi negative sebagai respon situasi negative.. misal ketika dikatain orang rasanya pengen nampol!

11

Obrolan santai bareng stan

di suatu acara undangan blogger yg baik hati (makasih buanyaaak, Den!), yg didominasi makanan Indonesia – eh perempuan Indonesia maksudnya.. stan sempat menjadi center of attraction, diwawancarai mbak2 ketjeh – salah satunya kakak blogger yg menetap di belanda juga, tentang macem2 tuh, termasuk diantaranya tentang tinggal di belanda..

intinya – karena stan bilang lebih suka tinggal di belanda, ditanyalah itu alasannya.. dan dengan polosnya, stan jawab:

“karena kalau tinggal di belanda, bisa update feed ig sampai 4kali sebulan.. sementara kalau di Indonesia yah gitu itu… trus juga suka bisa di-endorse…”

EPIC sekali yaaa jawabannya..

sementara pada yg ketawa ngakak – ada juga yg cuih cuih dalam hati kali ya… hahaha, entah karena udah judging duluan ttg anak 10thn dan social media-lah, … atau dan gadget-nya lah, … atau spesifik pada “dan ig-nya”

…lah *ketinggalan

sayangnya obrolan ini ngga diteruskan pada saat itu – eh… apa mungkin untung yaaa, karena kalau ditanya lagi lanjutannya trus langsung ditagih yg puyeng adalah emaknya..

loh kok bisa?

nah itu dia.. saat sudah kembali berdua, masih di dalam kereta api,  sy tanyakan kembali pertanyaan tersebut..

ma: jadi, lebih suka tinggal di mana?

s: disini (belanda)

ma: kenapa?

s: karena kalau tinggal di belanda, bisa banyak yg mau di-post di ig… sementara kalau di Indonesia yaaa sekali sebulan atau bahkan engga sama sekali..

ma: kenapa engga sama sekali, sementara di belanda bisa

s: ya karena engga ada yg menarik laaah, inget dong mama kalo wiken kita ngapain.. paling dinner sm papa trus ngafe atau ke mall.. yaaa, enak sih, aku suka, tapi engga asik buat di-posting, menarik – engga, ngasih inspirasi – juga engga.. lah ngapain terusan?

kalau di belanda kan mama juga tau, aku suka ke museum2nya, suka lihat perpus2nya, suka buku2nya, suka naik kereta, suka jalan2nya, suka nyobain yg baru, dan itu bisa tiap minggu kan ma..

kata stan berapi2, gluk, bikin mamanya tersedak

s: iya kan ma?

ma: *garuk2 kepala, hmm, iya juga sih.. 

… … …

s: trus gimana lo kalau kita balik nanti?

ma: *lihat langit2 kereta api cari wangsit du du du du

 


 

PR ini.. 

jadi kepikiran enaknya kemana kalau wiken (selain kerja!)

karena kalau di Indonesia kami bisanya pergi bareng2 kalau wiken – sementara padahal kalau wiken macet, jadi kadang kita (bapak&emaknya) ngga mau cape2 kena macet dsb..

dan kalau di Surabaya aja kayanya 2 museum sudah, kebun binatang sudah, Surabaya carnival sudah, kalau kegiatan main, berenang, atau nonton bioskop milih ngga wiken lah biar agak murah – eh.. agak sepi juga maksudnyaaaa ^^,

daaaan kalau bapak sm emaknya sudah cape mikir yaaa ujung2nya kalau ngga di rumah aja yaaaa: marilah wisata mall!

trus gimana cobaaaa?

 

 

 

 

 

 

0

Chaos Learning: MOOC Vs ISO 9001:2008

MOOC & Me
I challenged myself to sign up to 2 (TWO!) MOOCs, last month. Yes, I was so over-estimated my time-management and cognitive skills. Ah, I’m being so nasty. I thought I would get them easy because of the topics, digital storytelling and flipped classroom.

1) Digital storytelling is so ME, so I thought it would be such a piece of cake. 2) Flipped classroom is the method I wanted to learn this year, in order to be able to apply it in my classroom next semester. Then I failed… BOTH. Aaaargh, I messed up my first MOOCs.

How could that be?
I cannot blame the learning designs of the MOOCs. Both MOOCs have very well designed instructions. I knew it because I’m an expert in Instructional Designer, hahahaha, no, I’m kidding… The theory says so. The learning designs have already accommodated various learning styles:

• Visual learners (tend to learn by looking, seeing, viewing, and watching) – although most of the times the internet connection caused the distractions while I watched the videos
• Auditory learners (to learn by listening, hearing, and speaking)
• Kinesthetic learners (tend to learn by experiencing, moving, and doing)

The MOOCs have also considered the Andragogy, adult learning theory.

Malcolm S. Knowles (1996), a well-known expert on adult learning, has made the following assumptions regarding adult learners (and what I am thinking about it)
1) REASON to LEARN. Adults want to know why they should learn. (and I know why I have to learn these topics)
2) RESPONSIBILITY. Adults need to take responsibility. (well, the MOOCs gave several tasks to be done individually)
3) EXPERIENCE to LEARNING. Adults bring experience to learning. (all tasks are real)
4) NEED-driven. Adults are ready to learn when the need arises. (I need to know the topics *desperate)
5) TASK-ORIENTED. Adults are task oriented. (well, they are MOOCs…)

The introduction in each MOOC has explained deeply about those specified in the theory. The tasks and the materials are very systematic and comprehensive. Therefore, it should be my faults -___-“

PROMISE:
So next time I take any other MOOC I will take only ONE at a time and I must make 2-3hrs weekly schedule to only study for the MOOC.
*crossmyfingers

ISO 9001:2008 & Me

While I took the 2 MOOCs, I was also assigned as the quality assurance chief in my office to prepare my department for getting the ISO 9001:2008 from TUV Nord Indonesia.

—well, I understand I cannot blame the ISO for my failure in taking the 2 MOOCs —

I don’t need to work that hard since the secretary of the department and the 2 new lecturers had been doing a great job ^,^v but I have to learn a lot!
and I also got such a great and lovely ISO consultant, my Bi, hehehe..

he started asking me about the reason why my department, as one of the state university, need to get the certificate.. this is very important since, most of the lecturers still felt objected in having the responsibility to prepare the audit process (including me, in the beginning). We are lecturers. Teachers. We prepare our teaching, we teach, and we evaluate our students, finish. Will better format of documents for teaching will make the students learn better? might be. might be not. so why now the load for the teachers have to be so “administrative”??? well, at least we try to make it better, and taking notes and well-planned will definitely make it better.

then he underlined that each of us must know our job descriptions and regulation (the auditor, ibu Anita, asked them in the very first time, fiuh… and we had our answer ready!)

Briefly, we did such a good job, and our department was recommended to get the ISO 9001:2008. *yeaaaay

ISO for Mommies

This ISO stuffs got me thinking that as a MOM, there should be a kind of ISO too, hehehe… what should me as a mom do for my son.. well of course the quality procedure would be different for each mom and each kid…

However, the goal must be a bit similar..

the vision, as for me, I want to assist MyLitl Explorer to be INDEPENDENT IN LEARNING.

the mission, to provide him the opportunities to experience different learning and using all the senses to learn…

Why?

Well, I don’t know what kind of world he would get in when he grows up, I don’t know what kind of information he would need, so I think I’d better give him various learning contexts and support him to learn how to learn, so he would have many “rooms” for learning later on.

MOM’s MUST DO: make a list of missions and objectives

oh i’m so ISOnic ….

0

For My Little Explorer

image

semoga mama selalu bisa disisimu, nak.. sampai akhir hayat mama…

tidak di depanmu karena kau tidak harus mengikuti langkah mama..

kau bebas memiliki duniamu sendiri..

tidak di belakangmu karena mama memiliki mimpi mama sendiri..

mungkin mama sedikit di belakangmu karena mama adalah mama kemal, alias kepo maksimal.. hihihi... ^,^v

u know I love you, my dear…

0

TIPS Menjadikan Anak Hebat, Anak Mandiri

Ceritanya, sy sedang menggantikan sahabat saya menguji praktek guru-guru TK di kota Jombang, dalam program PLPG (Diklat Sertifikasi Guru PAUD).. satu kelas ada 11 orang ibu guru.. ada yg hamil, ada yg memiliki anak kecil.. asyik ngobrol untuk mencairkan suasana, tiba2 pembicaraan mengarah pada karakter:

Anak Hebat atau Anak Mandiri

ANAK HEBAT itu anak yang mandiri, kata sepakat seluruh ibu di kelas tadi.. tapi tidak mudah karena anak2 biasanya manja kalau ada ibunya..

“bagaimana anak ibu?” tanya ibu2 pada sy

*proud mom menjawab:

wah anak sy, 6tahun, mulai makan sendiri umur 1tahun.. memilih baju sendiri.. menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri.. mandi sendiri dengan bersih.. sikat gigi sendiri.. practically, mulai bangun pagi sampai tidur lagi dia bisa lakukan sendiri..

“WAH, apa resepnya?”

1. IKHLAS

ibu2 bengong, kok ikhlas?

“saya looo, ikhlas bila anak saya mandiri..” cetus ibu2..

hehehehe..

yakin? kalau anak ibu merasa bisa sendiri tanpa ibu, alias tdk butuh ibunya, ibu bisa ikhlas? jujuuuuuur

“hmmm, ya ndak buuu..”

makanya akhirnya kalau ibu ngga ada anaknya mandiri, kalau ibu ada malah manja kan????

“iyaaaa sih.. trus gimana kan saya ibunya…”

ya sudah… sepanjang kita ngga bisa ikhlas mengakui anak kita adalah “seseorang” atau “orang lain yang bukan milik kita” ya begitu deh..

^,^v

namun yaa itu semua pilihan, ada ibu yg sanggup me-micromanage keluarganya sepanjang waktu, ada yg memilih untuk tidak melakukannya

apalagi selain ikhlas? berikut TIPs yang lain untuk Menjadikan Anak Mandiri (yang masih sy pelajari juga kok)

2. melatih anak berkomunikasi verbal yang baik

dengan kemampuan komunikasi yang baik, maka anak mampu menyatakan apa yang diketahuinya dan apa pendapatnya tentang hal-hal tertentu.. dengan begitu kita bisa memperkirakan kemampuannya dan memberikan bantuan sesuai kebutuhannya..

3. melatih anak menerima kritik

salah satu unsur penguat kemandirian adalah self-esteem.. self-esteem akan muncul bila anak mengenal diri sendiri, kelebihan dan kekurangannya.. tahu apa itu kritik dan bagaimana menanggapi kritik perlu dibicarakan dan dilatihkan…

4. membiasakan diri memberikan pilihan pada anak

dengan memberikan pilihan, maka anak terbiasa berpikir, merasa dihargai, dan terbiasa refleksi sebab-akibat pilihannya..

5. melatihkan sesuatu secara bertahap

misalnya minum susu di pagi hari, mulai dari memintanya membantu menyiapkan susu setiap pagi, sambil dia menyiapkan dengan dibimbing ibu, sampai dia bisa melakukan sendiri tiap hari..

what do you think, mommies?

1

Tristan, UAS, dan ibu

Belum Hari Ibu memang, tapi akhir-akhir ini spesial karena sy pertama kali mendampingi Tristan UAS yg pertama kali dalam hidupnya… tapi, hampir setiap saat itu spesial – mengingat selalu ada waktu pertama kali mengalami sesuatu bagi Tristan…

– tentang ujian akhir semester & Tristan

beberapa kali sy sempat ngobrol sm Tristan ttg “ujian”… —– apa sih ujian? kenapa sih ujian? untuk apa sih ada ujian? apa yang hrs disiapkan untuk ujian? ——  sering terlibat di ujian skripsi mahasiswa di kampus tidak membuat diskusi ini menjadi lebih mudah.. menurut tristan, ujian ya ujian, kadang kan orang bisa lupa, jadi ujian itu ya biasa aja, ya seingatnya saat itu -____-”

– saat menunggu uas

setelah tristan masuk kelas, sy duduk bersama banyak ibu di luar sekolah… sy merasa santai dan melarutkan diri asyik ngobrol ngalor ngidul bersama ibu lainnya.. beberapa waktu berlalu, dan ibu-ibu mulai gelisah…

ada anak yg terlambat.. mereka membahas panjang, kenapa orang tua tidak menyiapkan anak untuk uas, datang lebih awal, bla bla bla

ada anak yg nampak keluar kelas.. mereka membahas panjang, kenapa sampai si anak bisa keluar kelas alasan mau ke toilet tapi dengan melenggang kangkung, bla bla bla

sampai satu ibu mengeluarkan klipingan kertas dari dalam tasnya… sy lirik… astaga.. kumpulan soal! ibu itu membuka2 sambil mengingat yg mana yg kira2 anaknya belum bisa… trus tanya sy, bgmn Tristan belajar kemaren..

satu asisten rumah tangga bercerita dgn serunya, betapa si anak laki-laki dimarahin mamanya semalaman karena tidak juga bisa belajar dgn tenang… trus tanya, bmn Tristan belajar kemaren..

satu eyang mau melihat ke kelas karena takut si kecil mengantuk krn harus belajar lagi pagi harinya… trus tanya, bgmn Tristan belajar tadi..

dan rasanya semua mata memandang sy…

nodong jawaban…  dgn tatapan seolah di dahi saya tertempel label “DOSEN” dengan tulisan kecil “tahu cara mendidik anak dengan baik dan benar”

Tristan?

kemaren sepulang sekolah Tristan ngajakin sy makan siang di salah satu mall kecil, sambil lihat mainan dan ngobrol2 ttg teman2nya (dan sekilas tentang materi Budi Pekerti – Materi UAS ke-2).. pulangnya Tristan tidur siang… lantas sepanjang sore sampai malam Tristan nonton TV (ya, nonton TV, saat menyebut kata ini ibu2 langsung kasak kusuk)… trus main games (saatnya kasak kusuk lagi).. trus sebelum tidur kami melihat2 sekilas buku tematik tema “Kegiatanku di Sore Hari” (yang jadi materi UAS ke-1) dan membaca petualangan di sungai ajaib (enyd blyton)…

ada pertanyaan: “nilai Tristan 100 semua ya waktu UTS?”

hihihihi, ya engga lah… pas UTS apa lagi, Tristan ngga tau maksudnya apa disuruh ngisi kertas banyak banget..

ada pertanyaan: “lah, ibu ngga pengen anaknya senang dapat nilai 100?”

hmm, ya iya lah… sy ingin Tristan SENANG dapat 100, artinya dia faham kenapa harus 100, apa artinya 100.. tapi kalo engga juga ngga apa..

pandangan mata ibu-ibu mulai berubah… jadi ngga enak >.< akhirnya sy memilih kabur ke kantin baseball untuk sarapan..

seorang ibu bisik2 ke saya beberapa waktu kemudian — > ibu-ibu yg lain kasihan sm Tristan, kok ibunya ngga disiplin amat sih ngga ngajarin anaknya belajar, katanya dosen, ngerti kurikulum 2013, kok ngga ngerti kalo saat ujian itu harus diajarin, ibu macam apa itu… bla bla bla

-gluk-

dan Tristan memeluk sy, sudah ma, ngga usah didengerin, cuekin aja… >^.^

0

Anak Susah Makan

hmmm

anak susah makan

mulai bulan September 2013 saya mendapat tugas asesor PLPG PAUD di Jombang, jelas saya bertemu banyak Bunda PAUD (sebutan untuk Guru PAUD) Nah.. curhatnya bukan hanya tentang PAUD, tapi juga tentang keluarga dan perkembangan anak.

kemaren, ada yang bertanya, “Anak ibu susah ngga makannya?”

ya saya bilang relatif tidak (asal mood-nya cocok)

“kok bisa?”

Nah…

my little explorer suka banget makan kalo pas menunya cocok, dia suka banget makan bakso, mie (mie goreng, mie kuah, udon, ramen, kwetiau, dkk), pizza, sup, sayur manisa, rawon, soto, nasi goreng, siomay, nasi bebek.. tuh banyak variasi, dan banyak juga porsinya… caranya gimana biar anak suka makan?

Tips agar anak suka makan

1. Makan bersama. dari dia kecil, sy selalu berusaha makan bersamanya, di depannya sy menunjukkan betapa makan itu enaaaaaak… karakteristik anak usia dini adalah mudah antusias dan imitasi (mencontoh), melihat sy makan dengan lahap, maka biasanya dia terpancing juga nantinya ~ mamanya enduuuuuut ^,^v

2. Memberi tambahan nama unik. sederhana saja, ketika saya membuat nasi goreng, dia bertanya, “masak apa ma?” sy jawab saja, “Nasi Goreng Gila” imajinasinya sudah melayang kemana-mana, dan ketika dihidangkan didepannya, dengan penuh rasa ingin tahu makanlah dia dengan lahap, hehehe…

3. Pengetahuan ttg makanan. misalnya Pizza, ketika mau makan, kami sempatkan browsing bersama tentang asal makanan, bahan makanan, dan segala sesuatu tentang Pizza.. ternyata, hal ini berhasil membuat makannya lahap…

4. Pengetahuan ttg makan. kenapa sih musti makan? apa sih yg musti dimakan?

5. Mempersiapkan makanan bersama. menghias mie goreng yang akan dimakan dengan sosis, wortel, dan sayur, atau bikin sandwich bareng, waaaaaah pasti dia makin lahap

6. Peralatan Makan yang seru. anak-anak suka bermain peran, sesuaikan menu dengan tema tertentu dan siapkan juga peralatan makan yang sesuai atau bertemakan sesuatu.

Selamat Mencoba

0

saat harus memilih

tristan got a toothache!

awwww, i could blame myself hard for my son’s toothache *cry yeeees… i often blame myself when something bad happened to tristan… that’s the first thing i do… wondering where did i go wrong… well, i’m the only adult nearby, what can i say.. he’s suffering thru the night… and definitely my heart was also crying >.< uuuh maafin mama ya nak..

and just to make it more complicated, i got appointments for several thesis defense sessions, and it was Saturday – when usually no private dental clinic is opened, ouch.. i don’t know what to do.. poor my baby.. and i was all by myself..

masalah ibu bekerja

choosing one only? no, I couldn’t.. NOT because I’m greedy but… yes, my son is always my number one priority, but i also responsible for the defenses for somebody else’s son/daughter.. they (and their big family) must have prepared their defenses for TODAY.. I know – I understand..

i browsed around to find any dentist that opens on Saturday…i found some dentist for kids (pedodontist) but the schedule is Saturday morning…. panic panic panic.. i cannot leave my baby all by himself suffering from the pain.. but would I ask too much if I brought him to the campus??? would he be ok?

note (in Bahasa Indonesia) gimana sih ya, website rumah sakit banyak yg ga update ato ga jelas jadwal dokternya, rs. dr.soetomo >>> ga lengkap, graha amerta >>> belum lengkap – masih kosong malah, rs. mitra keluarga >>> hayyaaaa cuman nemu beberapa jadwal, yang lengkap dan update adalah website rs siti hajar sidoarjo dan rs islam surabaya arrrrgh jauuuuh dan ngga searah kampus…

so, i decided to send a message to the students to delay the defenses for an hour (or two or start without me, I had the questions already), while i’m doing all i could to reduce the pain, from outside like trying the mouth wash and put herb oil on his cheeks – etc, and gave him paracetamol… then as soon as the pain temporarily gone, i asked him to eat and then take the immune booster… then he would take some good rest in the car on our way to the campus… so help me God…

bersyukur sy bekerja di bidang pendidikan, TIDAK SEMUA ORANG memang – namun tetap selalu ada teman dosen dan mahasiswa yang mau memahami posisi saya mengutamakan anak saat harus memilih seperti ini… bukan mementingkan satu dan menelantarkan yang lain loh ya, namun menunda sementara saja – I’ll be back gitu mah… syukurlah sakitnya tidak langsung kembali sampai semua ujian selesai.. stay strong my baby.. stay strong for mama.. besok kita cari dokter gigi lagi ya… mama is exhausted tonight..

0

Being Happy Mom is Simple

What would make my day is seeing my baby ok with me working on my laptop ._.

I’m working on some papers today. FOUR if I may count aloud. Of course my babyboy started to grumble asking me to pay attention to him bla bla bla.

Then I realized, if I keep on working (and ignore him), then nothing’s gonna be ever done (and my baby’s gonna be very very sad 😦 or upset )

so I gotta put my laptop aside

and we started a serious chat,

we were planning our ❤️💕Great Friday ^^, *yippie*

he said first he wants to go playing at the cartoon kingdom for two hours,

then i helped him thinking what would he need to have a wonderful and joyful 2hr-playing >>> a good nap, a good meal, a quiet time, a pair of socks, and let mama works for a document ^^v and he could colouring his reward (he chose lollypop) afterward

then…

for the FOUR hours (in the morning)

– i was working the four docs (like always, i couldn’t help it, i always do the papers at the same time, urrrgh)

– i prepared our meals (IndoMie Goreng for breakfast, Nila Fish – Fried for Lunch1 -before nap, Chicken Soup with chicken wing+chicken sausages+egg for Lunch2 -after nap)

– and i played with my baby around once in a while

WOW i loved it – though it made me sooooo tired, then the nap time is 2 hr for my baby, and 30minutes for me

then after the latelunch, we went to the cartoon kingdom *yay* had a lot of fun (while I worked – of course), dinner at hoka-hoka bento, bought 2 lollypops, and went home happily (we’re singing aloud on our way home)

and my docs >>> 100%, 70%, 50%, 50% WOW I just did it, didn’t I? *proud*

chasing my work, getting my work done would never succeed if it is not balance between working and motherhood.. # I gotta remember that

being Happy is simply makes my baby Happy to make me Happy

0

Between Personal Brand, Passion, and a Working Mom

what brought me the thoughts is the questions I have got from the YCPA* Juries (and thinking, hey y’all success people, am I really that low in your perception???)

seharusnya kamu mengembangkan personal brand

so, they said I haven’t build my personal brand, I’m a teacher with no specification

well I’m a teacher, I love teaching, I’m learning for teaching, and I’m teaching to learn… I put my effort to make my teaching works, and yet – I should be thinking about branding?

when I think personal communication helps in my teaching, then I’ll be a communicative teacher | when I believe story could present my material in a better way, then i’ll tell a non-stop story | when I can only see that being NotNice would help my students think, then I’ll be the devil | when I know that my students need to construct their own knowledge, then I’ll support them to be creative | if I have 40 students in my classroom, then I hope I can support at least 10% of them to be succeed

you know WHY? because I believe that one day, my student(s) could be my babyboy’s friends, or colleagues, or neighbors, or teacher, or boss, or anyone near him… and the fact that we are all living on the same earth… so you bet I’ll do my best to make sure those guys will do good for the community and our earth… I’m trying to do my best here to become a good teacher – yes – just “good” teacher that promise herself she won’t stop learning to be one..

and yet, all I need is thinking of: PERSONAL BRAND???

apa passionmu? harusnya kan kamu memperjuangkan passion dalam dirimu

Well yes, I do have passions, being a good teacher, become a book author, become a speaker in a conference, and travel around the world

THEN I became a mom, but my passions do not change… they are just getting an extra “MAMA” word in every single item of my passions.. and I am so proud – that is why I am saying it in front of you guys, I am not ashamed that I have to talk about BEING ME and BEING A MOM as a package.. I am learning to build my mama kingdom here, come on – a little bit appreciation?

I wanna be a good teacher-mama, I wanna be a book author-mama, I wanna become a speaker-mama in a conference, and I’d love to be a traveling-mama

BEING A MOM is not a limitation, not a distraction..

a working mom

I suppose that there is also a term called: working dad, right? ^^

ah ok, most women around my neighborhood, they raise their children as a stay-home mom (or working mom at home like sewing or crafting or having a store) and most women around my workplace, they assign the baby care to someone else (family, relatives, daycare)

and I do not belong to any of them..

I do not stay or work at home (unless there is any urgency) and I do not assign my baby care to someone else (unless there is any urgency) so I do see it funny if the mamas are fighting about which condition is better, cause then in both perceptions – I am very wrong! OMG ^^

so recently when I wanted to go to Spain for a conference and book writing meeting, I spent a month of negotiation (the trip was only for 2 weeks haha) no, it was a discussion with my baby, the discussion wasn’t only to assure him that it is ok to live without mama for a while.. but it was also for me to find myself.

yes, my baby was a bit upset.. he kept asking me, If you love me, why do you have to leave me for almost 2 weeks, can you just work (with me) as usual and have fun with me.. i said:

i love you baby, i need to be with you, i will always be with you through my prayers, but like you are you.. you free to have your own dreams and explore the world (when you are old enough to do so) and i am me, i love learning, going to Spain is an opportunity for me to learn something new.. just like you, when you were playing with your friends would it be nice if mama is also playing with you? sure not.. i will be watching you playing and i will be happy for you.. cause you are you… you have your own time… i have mine.. so wish me luck!

well, the arguments were quiet hard, but nice, since he took me to the train station, kissed me goodbye and he were not crying. ^^

*YCPA: a women competition I recently thrown into