24

Pijat

Photo by Hans Vivek on Unsplash

Salah satu hal yg sy rindukan dari hidup di Indonesia adalah pijat.. dari kecil, yaa hampir tiap minggu sy di-pijat-kan ke mbahLim – ini mbah2 pujaan mami sy, beliau jago mijat sambil kasih wejangan kejawen di segala aspek hidup – ini berlangsung sampai beliau ngga ada… lantas kalau diingat2 lagi, setelah bekerja sy kok ngga sering2 amat juga pijatnya yaa.. entah kenapa kok kayaknya dulu itu suka ribet sendiri sama jadwal..

setelah berkelana mencoba berbagai pijat murahan terjangkau di sekeliling Surabaya, akhirnya sy memilih buat pijat di Aliyah salon & spa daerah Injoko Surabaya, dan kalau lagi ada diskonan atau lagi dapat bonusan – yaa boleh lah, ke MT spa di daerah Ciputra.. ini Martha Tilaar yaa, bukan Mario Teguh ^^, laaah, apa masih eksis si bapak nih? eh maap mari kembali ke pijat.. ok sekalinya pijat, harus meluangan waktu sekitar 4jam (pijat, scrub, sauna, & kumkum), belum sama perjalanannya (kedua tempat itu daerah maceeeet ya kalau sore) itu.. (belum kalau mau nambah facial, totok aura, atau hairspa.. duh.. *pengen!) dan kalau salonnya biasa tutup jam 6pm, maka sy kudu standby dari sebelum jam 2pm, hiks padahal pulang kerja jam 4an seringnya… jadi kalau pas lagi ngga niat2 banget, yaa ngga nutut waktunya.. dan keinginan pijat akan berlalu begitu aja..

begitu jauh baru kerasa, ya ampun, padahal enak banget kan bisa pijat, dan murmer (kalau dibandingin sm massage spa di Belanda yaa, tapi sy belum pernah juga sih nyalon di Belanda, seumur-umur) kenapa juga sy ngga berusaha lebih keras mengusahakannya.. *janji sama diri sendiri

Selama di Belanda, sy hanya pijat gratisan di kampus.. seperti pagi ini sy belain dateng pagi2 buat pijat dulu di sportcentrum… jadi sebagai salah satu fasilitas kampus, selain periksa kesehatan, juga ada pijat 20menit.. gratisan cencu saja… pijatnya sekitaran punggung tapi diakhiri dengan narik2 tangan dan kepala, eh ala stretching loh ya bukan ala berantem itu narik2nya.. berikut deskripsinya..

A good massage helps you relax and loosens your muscles when you have to sit or stand in the same position for prolonged periods of time during your work. This is why the UT offers a chair massage to its staff. It concerns a well thought-out and effective pressure point massage of your back, shoulders, arms, hips, neck and head.

You are not required to undress and no oil is used. The massage is provided in a chair specially made for this purpose, is constructive in nature, provides you with a better awareness of your body and prevents a number of complaints. In addition, it improves blood circulation and stimulates the body’s self-healing ability.

nah, disarankan paling engga sebulan sekali menikmati layanan ini, namun, saking banyaknya yg daftar (phd + dosen + staf akademik) – sementara tukang pijatnya hanya 1 ya (jago lagi mijatnya.. orang Belanda tapi kayaknya pijatnya ala2 Thai, enak lagi diajakin ngobrol..), bagus kalau bisa dapat 2bulan sekali.. trus karena kelamaan, kadang udah daftar dapat untuk 3 bulan lagi, eh malah kelewatan T.T (*langsung daftar buat bulan depan!) syukurlah kampus mengerti kalau phd butuh relaksasi…

sy sih pro banget sama pijat, kalau kamu?

13

Studi PhD di Belanda

berikut adalah pengalaman pribadi sy menjalani studi phd bidang pendidikan di University of Twente, Belanda, dengan beasiswa negara.. note: beda funding (bisa dari beasiswa atau dari gaji sbg peneliti), jurusan, apalagi universitas, ya bisa beda lagi aturan dan pengalamannya yaaa..

Durasi Program PhD: 4 tahun minimal

(phdcomics)

durasi program doktorat dikemas dengan timeline penelitian minimal 4 tahun.. iya minimal itu.. hal ini membuat kelompok penerima beasiswa dikti seangkatan sy di WAG sudah pada punah lulus, karena kebanyakan program di Asia (Jepang, Korea, Taiwan) yg notabene durasinya 3 tahun seperti di Indonesia, selain itu hanya ada 1 di Eropa (Belanda-sy), dan 1 di Australia tapi beliau sudah lulus dalam waktu 3,5 tahun, iya, jadi sy ngga ada temen curhat dan gantian ngintip info kapan beasiswa cair.. hahaha.. maklum, grup itu rame di akhir semester, saat duitnya dah pada habis…

Trayek Program PhD: penelitian + course

:: penelitian :: trayek phd itu fokus pada 1 penelitian yg dipecah menjadi 3-5 sub-studi, nah, tiap sub-studi itu nantinya akan diteliti secara terpisah, kemudian ditulis dalam bentuk artikel yg harus dipublikasi di jurnal dengan rating tertentu.. maklum, kan nama spv masuk juga, jadi paling tidak diharapkan di 5 jurnal dengan indeks tertinggi (bisa berdasarkan scopus atau ISI) contohnya dalam bidang sy di gambar berikut (hasil browsing journal2 terpercaya di journalbrowser kampus)

5 jurnal bidang paud (dan literasi) rank teratas menurut scopus

hasil dari beberapa artikel inilah yg nanti akan dikompilasi dan menjadi disertas sebagai syarat kelulusan..

:: course :: selain meneliti dan menuliskannya, ada juga kewajiban memenuhi course 30kredit.. 30 kredit itu dibagi 2 ranah, ranah pengembangan profesional (rpp1) dan ranah pengembangan pengetahuan (rpp2) ini nih yg pelik, kampus utwente hanya menyediakan course di rpp1 sementara untuk rpp2 untuk phd bidang pendidikan, sy harus mengambil perkuliahan yg diadakan oleh konsorsium jurusan pendidikan Belanda (namanya ICO) yg semuanya tidak diadakan di kota sy, jadi kalau pas lagi ambil course ya harus rela mengeluarkan ongkos transportasi (dll) rela deh rela – yg penting bisa jalan2 juga refreshing kaaan.. yg susah, course yg ditawarkan itu tidak selalu ada, kuliahnya hanya spring & autumn, dan muncul 2thn sekali.. jadi hrs benar2 mengatur waktu sesuai target..

6 hal ttg Program PhD ala anak TK

kegiatan sehari2 saya
  1. jadwal yg fleksibel, dikasih kalender online, bikin timeline sendiri, target sendiri, jam kerja sendiri.. mau siangnya tidur, malamnya kerja juga boleh..
  2. pengawasan supervisor – menyiapkan jadwal, timeline, progress report yg dibuat dilaporkan secara berkala ke spv.. untuk sy, ada jadwal tetap seminggu sekali untuk laporan dan konsultasi, kalau perlu banget, bisa jadi seminggu 3x..
  3. lunch break rutin – setiap jam 12an selalu ada lunch break di kantor, seringnya perayaan keberhasilan, perpanjangan kontrak sebagai dosen, publikasi ilmiah, ulang tahun, apaaaaa aja selalu dirayakan dengan cookies or cakes, kalau engga ya ngupi2 bareng aja..
  4. MENULIS ARTIKEL adalah kegiatan sehari2 – entah revisi artikel 1 sambil menulis metodologi artikel 2, siapin paper buat konferensi, atau mengemas proposal artikel 3, yaa kerjaannya cut & paste sana sini
  5. ngga ada nilai – baik2 aja asal memenuhi semua target revisi dan tugas terpenuhi tepat waktu, baik untuk course maupun deadline revisi artikel jurnal atau konferensi.. yaa kudu baik2 sama reviewers atau sm temen2 satu kelompok waktu course..
  6. break down & cry – bisa karena jenuh, atau sensitif sm jadwal, atau krn merasa ngga bisa memenuhi harapan spv, atau sikap perfeksionis, atau ya ngga nemu2 ide buat nulis itu bikin patah hati, ini kadang gantian, pernah sy pas mo curcol sambil nangis ternyata pas ngantor ada temen yg baru dateng sdh nangis duluan, yaaa sy tunda dulu deh nangisnya wkwkwk…

jadiiiiii, apakah kamu mau ambil PhD jugaaaaa???

6

Feedback

foto 1 dekade lalu saat menyimak feedback presentasi proposal riset phd pertama di aussie

dalam tiap course yg sy ambil selama menjalani phd program, selalu disisipkan sesi wajib untuk memberi feedback thd hasil tugas/presentasi orang lain.

nah ini dia… ttg memberi dan menerima feedback, yang susah untuk sy. krn kalau boleh sy bilang, sy jarang menerima feedback dalam kelas selama ini, apalagi diajari untuk memberikannya.

selama bersekolah, yg sy terima itu umumnya opini ttg kesalahan sy dimana atau ttg pertanyaan2 yg mungkin ngga sempat terpikir.. maksudnya ya baik, kritik membangun gitu tujuannya.. menunjukkan sy salah dimananya.. kurang dimananya, atau hal2 apa yg harusnya juga sy pikirin.. tapi kan jadinya subyektif sekali… ngga heran kan, kebanyakan tumbuh jadi pinter kepo doang tanpa ada koneksi dan solusi.. halah ^^

lantas karena terbiasa dituduh dan dilabelin, respons pertama itu jadinya: nge-les.. apa sih bahasa Indonesianya? hmmm menghindar.. atau denial.. akhirnya debat kusir..

namun sebenarnyalah, dalam pendidikan, “feedback ala-ala” atau “kritik membangun” atau “fokus ke kesalahan aja” ini sebenarnya ngga ideal lo.. ketika seseorang presentasi atau menunjukkan sesuatu (hasil pemikirannya), sebenarnyalah dia menunjukkan bagian otak mana yg paling bekerja saat itu saja, dan kalau kita fokus ke salah2nya seperti model diatas, maka orang yg diberi feedback tsb malah akan fokus kesalahan (+ feeling bad) yang mana hal ini akan mengurangi kinerja otak terbaiknya..

so by focusing on their negative attributes and pointing out flaws, you are actually NOT helping that person at all!

sy sendiri hrs belajar kilat ttg hal ini, dan ngga pinter2, karena menurut sy nih, sy sendiri masih kurang pede -wkwkwk kan emang susye.. karena pola pikir yg selama ini berbeda… dan sy tumbuh dgn cara feedback “yang salah”… lantas…

bagaimana memberikan feedback yg benar?

1 – make it personal: deskripsikan perasaan kita, misal: “wah sy suka banget dengerinnya/bacanya/lihatnya” kalau seandainya ngga ada yg kita suka gimana? bisa juga dengan bilang: “hmm, sy bayangin pasti persiapanmu cukup banyak nih

2 – focus on positive things: identifikasi hal2 yang menjadi kekuatan yg bisa kita lihat, yaa kalau biasa ngeliat salahnya orang lain doang emang bakalan berat buat poin ini..

3 – give praise/compliments: ngga bole berlebihan apalagi ngga tulus, tapi pujian pada detail itu memberikan efek yg baik sebagai penguatan tingkah laku tertentu..

nah, mulai skrg, kita coba yuk membiasakan diri fokus pada hal2 positif BILA diminta pendapat oleh orang lain, bisa juga dimulai dengan diri sendiri – lihat yg positif2 dulu, fokus ke yg positif dulu.. ini juga menjadi catatan penting buat sy saat kembali mengajar nanti..

stay positive will ya!

6

Berburu LOA untuk PhD Belanda

Hello PhD scholarship hunters..

Khusus buat yang mengejar PhD di Belanda dengan beasiswa LPDP, BUDI, dan MORA, satu persyaratan awal adalah memiliki LOA atau Letter of Acceptance dari universitas yg dituju..

Nah, ngedapetin LOA ini sebenarnya gampang2 susah..

=========================

Sy dulu mencoba 2 pendekatan awal yg berbeda..

1. Dari universitasnya.. sy cari uni mana aja yg memiliki program studi Teknologi Pendidikan.. kemudian sy melihat daftar staf professor yg ada.. lantas membaca publikasi terbaru masing2 baru kemudian memilih yg sreg..

2. Sy menentukan kata kunci penelitian yg sy inginkan.. lantas sy browse kata kunci tsb di jurnal2 Teknologi Pendidikan, dan memilih artikel2 yg menarik dan mendaftar nama2 penulisnya..

Setelah daftar sudah di tangan, tahap berikutnya adalah menghubungi beliau2 via email untuk memperkenalkan diri dan menanyakan apa beliau2 bersedia menjadi pembimbing, ditambah apakah uni tempat beliau2 bekerja mau menerima beasiswa dari negara kita.

Nah tahapan awal ini memang bukan sesuatu yg mudah, apalagi kalau belum terbiasa menulis surat formal dalam bahasa Inggris (bisa googling contoh2nya deh ya, then make it personal)..

syukurlah sy ketemunya yg baik2.. yg malah berbagi artikel yg beliau2 tulis.. malah pernah ada yg janjian ketemu saat beliau2 ke Indonesia.. hmmm, tipsnya apa? Sy selalu bilang bahwa sy baru membaca artikel beliau dan berkeinginan buat diskusi ttg topik tsb.. sy juga menyertakan contoh tulisan sy.. jadi bukan cuman email berisi sy siapa dan maunya apa ya..

=====================

Kali ini, Nuffic NESO dan Academic Transfer (site yg memuat lowongan2 phd, di Belanda dan negara lain.) memberikan kesempatan buat bertatap muka langsung dengan perwakilan uni (daftar uni dan perwakilan ada di website NESO ya).. Daftarnya mudah, cuman isi form data diri.. kemudian tinggal menunggu penjadwalan dari NESO.. acara akan diadakan di Jakarta, 9 November 2018. Biasanya sih, NESO selalu mengadakan acara pameran pendidikan di kota2 besar di Indonesia.. cuman kayanya ya baru kali ini ada acara khusus PhD wannabe..

Untuk yg berdomisili di Jakarta dan sekitarnya sih silahkan langsung mengisi form dan menyiapkan diri untuk pertemuan tsb.. untuk yg tidak berdomisili di Jakarta dan sekitarnya namun ada niatan jalan2 atau punya budget lebihan ya monggo.. kalau tinggalnya jauh dan budget ngepas yaaa pakai cara biasa saja by emailing the professors seperti yg sudah sy deskripsikan di awal postingan, terbukti berhasil kok, hehehe

Anyway, apa pun caranya.. good luck ya.. kabar2in kalau jadi ke Belanda ūüíĀūüŹĽ

11

Imej diri (2)

Bukan kelanjutan dari posting ttg Imej Diri kemaren, cuman masih berkaitan lah.

kan sy tergabung dalam PhD coach di kampus, bidang presentasi, jadi sy bertugas sebagai coach dalam workshop intensif ttg presentasi akademik buat phd2 baru di tahun ini

(ngomongnya kalem, padahal teriaknya ke penjuru dunia sambil lonjak2 – i am an official phd coach! ^^, uhuk.. maaf, orang ngga pede trus naik kelas itu rasanya seneng banget, hihihi, kalem lagi yaaak *peace ^^v )

salah satu materi adalah membangun Imej Diri saat presentasi Рyg berawal dengan kegiatan mengenal diri sendiri 

mendadani imej diri saat presentasi itu dianggap penting banget karena taulah, waktu kita presentasi di depan orang lain kan hanya 15-20 menit saja.. selain content yg jelas penting, maka tampil mempesona di pandangan pertama itu hukumnya wajib

nah, sebagai profesional di bidang akademis yang kompetitif, imej diri yang harus dibangun itu adalah imej “terpelajar” – educated lo yaaa bukan complicated kayak relationships2 di facebook, wkwkwk… imej terpelajar itu didukung oleh dua unsur: being warm and looking professional.

being warm itu terkait bahasa tubuh: senyum, tatapan mata, dan sikap terbuka (apapun yang menunjukkan rasa percaya diri yang cukup – ngga lebay)

looking professional itu terkait dengan penampakan: rapi, simpel, dan sesuai (secukupnya, not too flashy but not under-dressed, dengan warna muted – grey, black, navy blue atau senada dengan apa yg akan dipresentasikan)

TEORI-nya begitu..

kembali ke kegiatan awal nih ya.. waktu itu ada sekitar 80an phd baru dan 10 coaches (termasuk sy ^^) masing-masing diberi banyak stiker polkadot 2 warna, biru dan merah, kami berkeliling saling menyapa (nyapa aja lo ya, ga pake ngobrol apalagi ngopi bareng hihihi :p), kemudian satu sama lain menempel stiker biru atau merah di punggung lawan bicara.. biru berarti lebih gede kesan profesional, merah berarti lebih gede kesan warm.. iyaaa ini tentang kesan pertama..

note: sy sudah tahu kegiatan ini sebelumnya, jadi persiapan matang dong, pake baju kantoran banget, blus dengan setelan blazer hitam, dan heels 10cm.. wkwkwk rambut diikat rapi, pake bedak dan pake lipstik… alamaaaak.. kayak mahasiswa magang deh pokoknya, hehehe

coba tebak bagaimana hasil pendapatan stiker sy, banyak/dikit?? biru/merah??

 

13

Impostor Syndrome (2)

Image result for impostor syndromesy berbohong ketika menulis sy baik2 saja semenjak postingan terakhir..

sengaja

karena menurut beberapa artikel yg sy baca, alternatif pertama mengatasi #impostorsyndrome adalah tetap menjalani semuanya dengan semangat, senyum, dan  mengatakan pada diri sendiri sy baik2 saja, dan harapannya sy akan bisa kembali terbiasa benar-benar bersemangat menjalani hari2 sy..

alternatif kedua adalah memastikan bahwa sy tidak sendiri, maksudnya sy memiliki orang2 terdekat yg bisa sy curhatin, sy hanya butuh jujur dan terbuka – pada diri sy sendiri kemudian pada mereka ttg apa yg sy rasakan..

alternatif ketiga adalah memastikan bahwa sy tidak sendiri, maksudnya ada banyak phd lain yang pernah atau sedang merasakan hal seperti ini, bukan buat saingan penderitaan sih (pinjam istilah Deny) tapi untuk menyadarkan diri bahwa ini satu fase wajar yg harus dilalui..

alternatif keempat adalah menantang diri sendiri, put myself on a test Рon self esteem and self confidence.. karena growth zone itu adanya diluar comfort zone, pemaksaan diri keluar comfort zone itu akan menempatkan seseorang pada learning edgethe condition that make us able to learn something.. ah yaa, mungkin menjalani phd selama ini itu sudah terlalu menyamankan, ada kantor sendiri yg spacious dan nyaman, akses informasi tumpah-tumpah, ada rutinitas yang membuai..

sy coba semuanya dong..

alternatif pertama, sy tulis, sy ucapkan, sy coba rasakan.. tapi tetap aja setiap akan progress meeting bersama para pembimbing berasa: mati deh, habis ini dipecat beneran! kalau udah gini, panick monster yg biasanya keluar menjelang deadline (dan bisa bikin sakti menulis, hehehe) itu malah hilang.. ngga produktif deh berhari-hari… = failed =

alternatif kedua.. hmm.. ngga tahu salahnya dimana.. tiap sy bilang sama orang2 terdekat kalau sy lagi error mode¬†eh dianggapnya biasa aja.. ngga dianggap serius gitu rasanya… apa mungkin karena selama ini sy terlihat (sok) kuwat – jadi ketika sy punya satu masalah dianggapnya:

yaaa kan kamu kuwaaaat, kamu bisa laaah ngatasin itu sendiri

=tapi aku kok stressful ya yg sekarang ini, ngga bisa ngerjain apa2=

yaa mungkin itu untuk saat ini – ngga tau lagi kalau besok kan (*ala Dilan, weks)

yaa, intinya.. ini ngga membantu titik malah bikin emosi jiwa = failed =

alternatif ketiga.. belum mencari, tahu2 pada suatu pagi salah satu teman phd malah nangis dan panik dan mengucapkan berkali2 bahwa dia akan resign duluan sebelum dipecat gara2 dia belum juga berhasil menyelesaikan artikel penelitian pertamanya.. waaaa, malah bikin pengen nangis (bareng) lah ini… masalahnya dia itu mahasiswa terbaiq selama kuliah di kampus ini yg dapat tiket emas menuju phd.. terbayang kan kemudian apa yg malah sy rasakan? – ah apalah akuh inih remahan kastengel ajah – ujungnya kami malah ngobrol curcol ngalor ngidul – dan tidak bekerdja dengan semestinja… walah! =failed =

alternatif keempat.. tahun lalu sy mengikuti workshop untuk menjadi coach.. phd coach.. lantas karena suatu hal – uhuk, sy menunda untuk terjun jadi coach beneran.. meski suka banget belajarnya, tapi kok rasanya ngga pede-pede amat ya buat prakteknya.. namun demi kesehatan dan kebahagiaan jiwa *tsaaaah akhirnya sy memaksakan diri sign up buat jadi phd coach – awal spring kemaren untuk bidang academic presentation..

w.a.i.n.i.

di satu sisi… kesempatan bagus banget kan inih…

di sisi lain… ngebayangin sy.. berhadapan dengan phd2 jagoan kampus.. internesyenel pula.. OH MY.. malah makin down low ngga sih nantinya???

lagian sy bingung harus mulai dari mana mempersiapkannya.. bahasa inggris yg seringkali mendadak belepotan saat bicara di depan khalayak ramai??? (errrr, pas ngga ramai juga teteup belepotan sih, wkwkwkwk).. tema apa yg mau diomongin???.. baju formal???.. sepatu penambah tinggi badan dan rasa percaya diri???.. tampang sok teu???..

eeeeeeeeeee… etapi, paling tidak sy sudah ganti fokus stress yekan yekan???

*yippie!

cerita coaching menyusul yaaaaak!

 

 

14

Impostor Syndrome

selama studi lanjut ini, seringkali sy merasa ngga seharusnya sy tuh berada di tempat sy yg sekarang, lanjut phd – trus di Belanda – berkolega dgn pengajar-pengajar master sy dulu – dengan supervisor dan promotor yg hebat pula.. pernah menuliskan sekali di sini¬†yg sebenarnya untuk menguatkan diri ^^ yaaa itu satu masa down diantara seribu masa..¬† yg kemudian sy tahu ini keadaan kaya gini sudah dilabelin #impostersyndrome atau #impostorsyndrome yg pada kenyataannya ngga se-sederhana “cuman lagi ngga pede”

buat sy sih ini berawal dari saat ada pertemuan antar phd baru di kampus.. setiap tahun ada 2 atau 3 kali workshops untuk phd newbie, yg secara acak akan berkelompok gituh.. dan kemudian saling mengenalkan diri.. seperti bisa diperkirakan, di universitas sy yg notabene technical university, akan selalu lebih banyak partisipan laki-laki di workshop ini *eh ini menurut sy yaa..

==== ada seorang prof yg menampilkan data statistis jumlah phd dan postdoc di uni beliau (umum) itu jumlah perempuannya sekitaran 58% dan untuk technical biasanya lebih kurang (sementara jumlah professor perempuan rata2 di sekitaran 15% saja – di uni umum itu lo yaa!) =====

kembali lagi ke intro workshop tsb aja yaa.. acara pertama yaa masing2 diminta mengenalkan diri dan projectnya di meja masing2… satu meja bulat ada sekitar 10 sampai 12 phd gitu, sy yg muka cahaya asia sendiri.. yak mulai deg2an ngga pedenya.. ditambah di meja saya – cuman sy yg perempuan.. yaaa, entah kenapa kok makin nambah ngga pede… lantas dimulailah oleh partisipan pertama di sebelah kiri sy (alhasil membuat sy menjadi giliran terakhir.. fiuuuh)

nama sy A, sy tergabung dalam proyek pengembangan liquid chip deteksi dan mengatasi perkembangbiakan sel bla bla bla..

WOW.. impressive! yg lain langsung memberikan komen, setelah berdecak kagum..

nama sy B, anda tentu menggunakan wireless internet bukan? nah, bayangkan ada berapa banyak gelombang radio yg seliweran di udara di sekitar kita, bagaimana mengatur keributannya itu menjadi proyek sy saat ini..

WOW… amazing! lagi2 kata2 kagum terlontar kembali.. disertai pertanyaan tentang bla bla bla seputaran hape, wifi, dll itu lah..

.. dan semacam itu lah partisipan berikutnya dan berikutnya.. berkaitan dengan kehidupan atau kecanggihan atau kerakyatan.. makin lama makin menakjubkan aja kedengerannya.. mana kelihatan banget mereka masih di kisaran umur 20an begicu… jadi nginget.. sy pas umur 20an ngapain yaaa… nambah lagi ngga pedenya… membuat sy -yg lagi nunggu giliran sambil ngedengerin betapa hebatnya proyek mereka- menjadi menua eh mengeciiiiil..

mengeciiil..

mengecil..

dan menguap begitu saja.. eh, kalau boleh berharap ya lemak 3D di perut sy aja lo yg menguap yaaa.. hehehe.. asli, sampai sy mikir, pas giliran sy nanti sy mau bilang apaaaaaa??? boleh ngga sy bilang sy tukang bersih2 yg nungguin mereka ngabisin minumannya di meja?

-.-

saya? saya? saya? hmm..

proyek sy ttg bercerita (dijital) sebagai dasar pengembangan literasi (dijital) anak usia dini.. kata sy cepat, lirih, dan sy akhiri sendiri biar sy ngga denger komen atau mendapat pertanyaan…. sudah yaa sudaaah.. OKAY guys.. now what?!?!?!?!

=========

sy paham apa yg sy rasakan saat itu.. unworthyness atau worthlessness.. dan sy juga tahu, bertahan dengan perasaan seperti itu akan mengarah pada DEPRESI seperti berita2 phd yg serem2 selama ini, dan yg paling bencana adalah bakalan bikin penelitian sy ngga selesai-selesai..

mungkin sy terlalu sering mendengar kalau:¬†to get a PhD means you are the world‚Äôs leading expert in your topic. sementara sy ngga merasa secanggih itu deh.. sy hanyalah remahan kacang dalam terang bulan kacang coklat keju.. padahal kalau dipikirkan lagi, didengerin lagi pelan-pelan yaaaa… ya kan memang beneeeer.. topik sy yg cuman punya sy aja kan.. disertasi sy kan ya cuman sy yg tahu.. UNIK.. kaya sy.. ya ngga?

Today you are YOU, that is truer than true

there is no one alive,¬†who is youer than YOU ” -DrSeuss

dan supervisor sy pun berbaik hati memberikan peptalk keesokan harinya setelah ngelihat muka sy yg ditekuk2 kaya duit lusuh.. phd ini kan masa mengukuhkan dasar kemampuan meneliti dan mengatur proyek, yg nantinya akan dikembangkan setelah phd – yg mungkin akan butuh waktu dan tenaga yg lebih sampai bisa membentuk pengalaman dan reputasi di akademia (ga pake indosiar yaa!) masih panjang waktunyaaa.. dan ngga ada tuh yg bilang harus umur segini harus sudah apa.. perempuan atau laki-laki.. acia atau yurep.. karena pendidikan itu sepanjang hidup dan untuk siapa saja..

trus mata ini bersemangat lagi ala stephen chow!

 

 

 

 

 

 

 

 

8

One-(wo)man Company

hari ini sy mengikuti salah satu phd-course ttg Storytelling.

saking excitednya dan takut terlewat lagi, jadi pengen banget nulis ttg ini deh – meski tulisan ttg pindah rumah dan perjalanan zuid limburg masih nengkri di bagian draft >.<

bukan tentang coursenya, tapi tentang INSTRUKTURnya.. meskipun coursenya juga asik banget karena bisa bertemu dan mendengar berbagai partisipan yg kebanyakan adalah dosen2 atau phd-dosen di kampus… tapi¬†sebenarnya ini¬†bukan yg pertama kali sy bertemu dengan instruktur model beginih di kampus… sudah mo nulis ttg hal ini sejak yg pertama ketemu tapi ya gituuu, idenya menguap begitu saja, naaaa.. sebelum yg hari ini hilang jugah, yak¬†yuk mareee..

sebut saja namanya bu Elsa, bukan bunga, kalau sy tidak salah dengar (maklum hari Senin kadang radar bahasa Inggrisnya belum full-power, huehuehue) sebelumnya dia kuliah matematika, lantas lanjut di jurusan ilmu komputer di salah satu institut teknik ternama di Belanda , lantas bekerja di perusahaan sbg manajer apa gitu sy lupa.. itu karena pengaruh ayahnya yg pebisnis juga.. kemudian karena suatu hal, dia berhenti dan mulai menekuni kecintaannya terhadap storytelling yang kemudian diseriusin buat jadi usaha… sendiri dan bener-bener bu Elsa ini sendirian yaaa…

– one-woman company –

punya website sendiri… kontaknya ya namanya sendiri, imel pribadi… desain2 sendiri… bikin materi sendiri…riset untuk trainingnya juga dilakukan sendiri… shooting sendiri… socmed buat promo dijalankan sendiri… daaaan pelatihan juga dilakukan¬†sendiri, dengan persiapan sendiri (mulai nata kursi, nyiapin peralatan dan materi, juga evaluasi).. setelah pelatihan eeeeh ya dia punya print out sertifikat yg ditandatangani sendiri…

jadi bu Elsa ini training designer, training advisor, training manager, sekaligus trainernya ^^

hmm, kepikiran juga apa sama ya sm freelancer yg notabene juga self-employed.. hanya mungkin sebutan one-(wo)man company ini menekankan multi-taskingnya, sementara freelancer cenderung ahli di satu bidang seperti web-designer atau fotografer.. (*maap, pengetahuan dunia bisnis sy amat kering kerontang…)

yaaah gitu deh..

mendadak pengen MIMPI, merencanakan pensiun dini, trus bikin one-(wo)man company

asyik kali ya? tapi bikin apa ya? training juga laaaa… namanya apa ya? ruang lingkupnya apa ya? waaaa jadi ngga bs tidur sepertinya malam ini… yuuuk mimpi bareng yuuuk…

>.<

 

 

5

Working Mom

menjadi phd-worker di kampus university of twente membuka akses sy untuk mengikuti berbagai organisasi2 atau komunitas2 atau courses2 yg ngga lazim ada di kampus asal sy, salah satunya yg baru dua kali sy ikuti, namanya FFNT, Female Faculty Network Twente

FFNT merupakan komunitas perempuan yang bekerja di university of twente dan menyelenggarakan pertemuan2 salah satunya pertemuan rutin satu jam untuk sharing ideas sembari makan siang

modelnya kayak circle time yg diawali saling mengenalkan diri, atau mengungkapkan harapan, atau apa yang sedang menjadi topik di hari itu, kemudian ada guest speaker yg sharing 10-15 menit yg diikuti obrolan panjang dan seru, ala ibu-ibu arisan begituh

dua kali sy sempat ikutan, dua kali ketemu dosen, associate professor, ibu, dan… sukses! (baca: punya rentetan prestasi panjang dan menakjubkan) (note: guest speakernya ngga selalu perempuan, dan topiknya ngga selalu tentang ibu2)

melihat aura pintar dan percaya diri serta mendengar cerita ibu-ibu ini membuat sy rasanya mau duduk aja di pojokan antara kagum, ngiler, sama minder… *ah sy mah apa atuh

dan pertanyaan umum yg terlontar pertama kali dari para para perempuan yg hadir adalah yg satu ini:

apa resep kesuksesan dalam karir anda?

guest speaker 1

A: sy bekerja keras untuk itu (beliau mendapat hibah bergengsi selama beberapa kali berturut-turut), untuk mendapatkannya, untuk mengerjakannya, dan untuk membuat laporannya, dan untuk membuat publikasi setelahnya.. banyak waktu sy habiskan untuk mengejarnya, karena hal tersebut adalah salah satu impian sy

Q: loh, cape dong? keluarga gimana dong?

A: anda tanya resep kesuksesan dalam karir kan?

Q: dududududu

“sebagai ibu yg bekerja, sy yakin semua ada waktunya, berbeda tentunya untuk tiap orang, pilihan ada di masing-masing ibu.. yg sy percaya there’s no such thing as luck, ngga kerja keras tapi mendapatkan sesuatu, NO WAY, kerja keras, disiplin, persiapan itu dibutuhkan untuk mencapai keinginan… dengan peran sebagai ibu yg utama, ya resikonya kita harus memilih peluang yg lebih fleksibel… yg tahu kapan menempatkan yg mana sebagai prioritas ya kita sendiri.. sy bahagia bila sy bisa menggapai impian sy, menjadi ibu yg membesarkan anak dengan sebaik mungkin juga sy lakukan, dan bila kondisi keluarga memungkinkan dan suami mendukung – barulah saat itu sy mengejar karir sy”

me: iya.. ibu ini kelihatan chic dandanannya, gaul gituuuh, tegas, and wooow, she got the look of “she-really-knows-what-she-wants” deh

guest speaker 2

A: 1) TIME MANAGEMENT Рmake good plans for everything 2) sy menerapkan aturan bekerja 80%, dan sy selalu menyampaikan ini di awal kontrak pada tempat sy bekerja dan teman kerja sy 3) waktu sy otomatis sy bagi untuk bekerja dan keluarga, saat bekerja fokuslah pada pekerjaan, saat bersama keluarga ya fokus juga dong sama keluarga, alihkan energy guilty feeling untuk menikmati apa yg sedang sy lakukan, untuk refleksi dan berpikir sy lakukan saat bepergian misal saat sedang bersepeda

Q: wah, pantas saja anda terlihat selalu happy, is there anything that you’d miss?

A: ya laaah, jelas ada yg sy tidak utamakan, acara2 bersama keluarga besar dan teman dan juga mengajar…

Q: oalaaah…

anak sy dua dan masih kecil, mereka masih membutuhkan sy fokus melalui waktu bersama, nanti ada saatnya mereka hanya butuh kehadiran sy namun sudah bisa menikmati waktu mereka sendiri, semenjak menjadi ibu sy mengubah target2 dalam pekerjaan sy misal dari sejumlah publikasi ke beberapa publikasi berkualitas, sy membuat pertemuan harian rutin dengan post-doc dan phd, dan sy mendelegasikan hal2 yg sekiranya bisa mereka kerjakan, di rumah juga, sy selalu merencanakan jadwal kerja, lembur, dan konferensi dengan suami agar bisa bergantian mengerjakan peran dominan dalam menyiapkan rumah tangga

me: ibu ini terlihat praktis namun sederhana, dengan rambut pendek, dan kostum jeans dan kemejanya.. tegas, dan smart, well.. heylooo beliau bekerja di bidang computer science begituuuu…

nah, mari kita simpulkan sajah tips dari dua ibu bekerja yg sukses inih,

working mom tips

1) know what makes you happy, and be happy!

2) jadi orang jgn serakah, fokus sama satu tujuan dalam satu waktu, kalau yg lain juga didapatkan yah lumayan kan dapat bonusnya, yg tau tujuannya apa kita sendiri, tutup kuping sama apa kata orang

3) dukungan suami, dua ibu ini sama2 melibatkan suami dan mengkomunikasikan perannya, suaminya juga pada mendukung sih yaaa, dan lagi mungkin juga karena budayanya kali ya

4) disiplin waktu dan diri

me: i am happy, sy bersyukur synya ngga serakah, ngga ambisius buat menang the best thesis award apah the fastest phd ever¬†ato the most famous #phdmum, huehuehue… tau banget kapasitas sy dimana… suami juga tetep asik buat diskusi dan ngedukung¬†sy maunya apa dan mau pergi kemana… buat sy yg masih jauuuuuuuuh tuh ya yg terakhir, disiplin waktu dan diri.. sy masih ngglewes super fleksibel dan super moody beginih… working mom cap 2 kelinci! aaaah help meeeh…

 

 

 

9

5 alasan buat PhD

hello 2017, tenan to¬†(=beneran kan), kalau ketemu deadline tuh yg dilirik malah blog… #procastination ? atau keinginan menyelesaikan sesuatu meski yang penting malah¬†belum kelaaaar… Yaa Tuhan.. *tutup muka *jari teteup ngetik ^^ saat ini rasanya pengen invisible, ga pedenya meningkat drastis berasa manusia paling bodoh sedunia... hiks…

dan membuat pertanyaan yg sama muncul berulang-ulang:

” Ngapain PhD ?!?@!#$?! “

==================================================

1.kesempatan buat refreshing dari pekerjaan

sebelum ini, sy mengajar.. ya tk, ya guru tk-nya, ya mahasiswa… pengajar itu merupakan satu profesi yg mudah menjenuhkan, yaaaa meskipun materinya selalu update dan seru bin menarik (bayangin toooo, kalau guru tk tuh yg diomongin lagu baru atau sajak baru, kalau pas ngajar teknologi pendidikan yg diomongin teknologi baru, aaaah I¬†love my subjects) tapi outlinenya tetep sama bertahun-tahun loooh… lantas anak2 atau mahasiswa2 memang beda (kecuali ada yg ngulang) tapi polanya selalu sama… ada yg bandel dan jadi kesayangan bunda *uhuy, ada yg rajin, ada yg pinter, ada grup si beken, ada juga si tukang copy paste…¬†jadi kalau outline dan polanya sama.. wuih… setelah 20 tahun mengajar ya lumayan mblenek kalau orang surabaya bilang..

libur mengajar itu juga berarti bebas pesan beruntun atau curcol berkepanjangan dari mahasiswa, ortu mahasiswa, pacar mahasiswa, atau ortu anak2 tk via wa, email, twitter, skype, ig, facebook, line, oh la la… sampai pengajarnya ngga sempet curcol inih…

maka… mendadak pause¬†mengajar itu seakan refreshing.. dan pengajar itu butuh banget refreshing.. biar kangen ngajar, trus pas balik ngajar bisa lebih baik *aamiin..

(meski begadangnya tetep aja… begadang nyiapin materi atau media, ngga ada begadang koreksi, ngga ada begadang nulis progress report nak-kanak ^o^ diganti begadang baca atau nulis)

2.kesempatan buat belajar sepuasnya

ketika sy menjadi pengajar, ini sy lo yaa… sy merasa belajarnya cupet.. belajarnya buat besok-besok yg mau diajarkan aja, dan kalaupun berkembang yaaaa masih di dalam lingkaran kecil yang sama.. laah trus kalau yg diajarkan outline sama berpuluh-puluh tahun kan kerangka belajarnya ya gitu-gitu aja toh.. iya sih, dari sisi lain bisa jadi itu maksudnya belajar lebih dalam, tapi di sisi lain, merasa kurang gahul hahaha… masak pengajar kudet, kan ngga seru, ya ngga?

maka¬†buat sy itu pertanda buat kembali me-nol-kan pengetahuan sy, kembali merangkak untuk belajar apa aja dan sepuasnya, dan bukan cuman hard skills tapi juga soft skills…

3.kesempatan buat memperbaiki diri

makin bertambah usia, sy makin sering menemukan¬†kekurangan2 sy…

sebagai pengajar yg so far belum berminat buat jadi pejabat memiliki tugas lain selain mengajar (dan meneliti & mengabdi – tridharma ini), sy hanya memiliki tujuan jangka pendek, per-semester lah paling banter.. planning lengkap, modifikasi media, evaluasi siap, koreksi nyicil, sudah… selain itu ya deadline kecil2, yang tiap semester ya sama aja lah, itu2 aja.. sampai kadang hafal bulan apa yg paling banyak acara, bulan apa yg paling bete, bualan apa yg banyak pelatihan, hehehe… alhasil, sy kurang handal di manajemen deadline waktu..

sebagai pengajar di tempat2 dimana sy mendapat predikat “satu-satunya” membuat sy mudah terjebak sm kenyamanan dan tepuk dada¬†^,^ *jendul diri sendiri hehehe.. ini kerasa kalau ngelihat guru-guru atau dosen-dosen (baru), kalau ngelihat mahasiswa baru suka berasa sedih sm umur… gileeee masa mahasiswa lahirnya pas sy selesai kuliah… T.T kalau sy lg cerita dgn kejamnya polosnya mereka komen: wah tahun segitu sy belum lahir, mam…¬†trus sy jadi pengen jawab: etapi muke tuaan elo yaa… *cadaaaaas hahahaha ooops

jadi ya ini beneran untuk menambal hati, dan memperbanyak istighfar^.-

4.ada kesempatan

iya, kesempatan itu ada, maksudnya ada beasiswanya gituh… dari pemerintah ada, dari uni ada, dari organisasi dunia ada, tinggal pilih yg sekiranya bisa dicapai dengan bekal yg ada… syukurlah sy dpt beasiswa yg rentang umurnya sesuai *weeeeee

5.ada keharusan

mo gimana lagi.. sebagai pegawai negeri, ada keharusan buat studi lanjut, kalau dulu guru tk bisa lulusan sma, trus D2/3, lantas S1, malahan sekarang banyak yg sedang studi S2.. laaaah alhasil kan gurunya musti studi lanjut juga..

============================================

kamu kapan mau PhD???