19

12 tahun pernikahan

Moz 12 Anniv

crossed path when we’re really young. being friends – like for centuries. twenty years together. twelve years of marriage. in many ways, life has been on fast-forward. we’ve learned a great deal. still about each other. dreams. hopes. wishes. about our keep-on-changing roles in this world. about ourselves. about our little family. about the marriage. and why it’s worth fighting for.

yuhuuuu.. 12 tahun!

hari pernikahan di tahun ke-12 kali ini berlangsung seperti hari2 biasa, no romantic date (ya iyaa orang lagi LDR) hahaha, trus no special message things whatsoever.. karena buat kami yg lebih penting adalah saat kami memutuskan bersama (it’s gonna be our 20th anniversary this year) daaaan month-iversary atau bulanan, jadi tiap tanggal 3 di tiap bulannya, kami mewajibkan masing2 untuk nyapa, curcol, yaaa pokoknya update feeling lah.. kalau lagi ngga jauh2 amat LDRannya kami akan mengusahakan ketemu buat nge-date.. cara ini efektif buat kami berdua yg suka sibuk sendiri2 dan demi merutinkan nge-date wajib seperti yg sudah sy tulis di posting 10 tahun pernikahan disini

kenapa bulanan?

well, kalau harian kok rasanya terlalu lebay buat kami…  “darling, selamat hari jadian ke 7165 hari yaaa…” begitulah kira-kira, hihihi.. dan ngga ada refleksi yg bisa diupdate juga..

kalau mingguan, ya bingung milih hari.. masa iya mau seninan? kamisan? atau jumatan? hahaha..

kalau nge-datenya tahunan kelamaaaaaaan… hahaha..

dan sebenarnyalah sampai tahun ke-12 ini kami berdua masih berdarah2 buat berpegang pada 10 rules itu:

  1. being apart is fine…
  2. blast from the past…
  3. communicate well…
  4. …but don’t expect perfect communication…
  5. don’t compete… 
  6. learn to say sorry…
  7. show love… 
  8. laugh hard…
  9. go on dates…
  10. you can’t change someone, but someone can change…

dan meskipun sudah bareng 20 tahun pun (dengan 12 tahun menikah) – karena kita menjalani dunia yang berbeda, maka selalu ada juga hal baru yg kami pelajari satu sama lain..

hal terbaru yg kami pelajari di tahun terakhir berkaitan dengan keberadaan anak dan conflict resolution.. yaaa meski sudah bersama dua puluh tahun tapi ya masih adaaaa aja konflik.. maklum keduanya kepala batu dan sedikit…

selfish

^^,

sebenarnya, kami males berantem dan ngga suka juga sih berantem di depan anak.. tapi pada prakteknya, lah wong kami cuman bertiga dan ngga ketemu tiap hari, ya berantemnya pas ketemu itu dong yaa..

=======================

eh sebenarnya kenapa ortu bisa berantem?

yaaa karena perubahan keadaan dari pasangan ke ortu itu itu ngga mudah loo, bahkan bagi pasangan yg dulunya baik2 aja, bukan si anak sumber masalahnya, tapi ya si pasangan itu sendiri, seharusnya si pasangan ini sadar bahwa mereka masih harus terus belajar adaptasi dengan keadaan baru (terus menerus dan sepanjang hidup) nah apalagi dengan ditambah keberadaan anak.. psssst… situasi yg baru dan kenyataan sudah bersama sekian lama itu malah konon cenderung membuat pasangan less patient dan less flexible looooh sama pasangannya..

eh lantas  apa kabar anak yang ortunya sering berantem?

hahaha.. gini nih yaaaa.. sy belajar bahwa…

anak usia dini yg dibesarkan sambil ngelihat ortu berantem (lebih-lebih lagi kalau berantemnya yg destructive – maksudnya yg dgn penuh energi kebencian entah dengan kata-kata yg insulting atau bahkan pakai fisik juga) akan sama bermasalahnya dengan anak yg lihat ortunya minim berantem (jadi aslinya berantem cuman yg ditunjukin yg baik2 aja di depan anak, huh, sandiwara banget! palsu.. pssst, padahal anak-anak bisa ngerasain emosi ortu dgn non-verbal anger lo! aura buruk tuuuuu! *emosi jiwa)

karena apa efeknya sama? karena si anak ngga akan belajar ttg emosi seutuhnya.. taunya “negatif aja” atau “positif aja”.. salah satu efek dahsyatnya adalah si anak akan mudah merasa insecure! hal ini akan terlihat mulai muncul pada anak2 di usia taman kanak-kanak (bayangkan susahnya posisi sang guru TK dooong – lah malah curhat) and it could last a lifetime!

apa semua pertengkaran berakibat buruk pada anak?

beberapa artikel menyatakan bahwa ngga semua pertengkaran itu berakibat buruk pada anak, bahkan dalam hal tertentu anak-anak bisa mendapatkan sesuatu dari rangkaian konflik tersebut… terutama bila pertengkarannya melibatkan negosiasi dan diskusi tentang kompromi dan dukungan antar pasangan.. alias pertengkarannya diselesaikan baik-baik dan eksplisit.. maka pertengkaran tersebut akan menumbuhkan social-skills dan kepercayaan diri yang lebih baik, efek kelanjutannya di masa mendatang imun-nya akan lebih tinggi terhadap masalah-masalah psikologis nantinya.. pertengkaran macam ini disebut constructive conflicts..

byuh… it does take a lifetime (dan kekuatan mata dan hati) to learn parenting yaaa!

=========================

ok kembali ke kami berdua..

jadi biasanya kami ngga melibatkan anak, kami berdua kan taunya it’s not his job to fix us, it’s ours.. BUT, teori juga menyatakan bahwa Kids are sophisticated conflict analysts; the degree to which they detect emotion is much more refined than parents might guess.” ehem.. dan tahun ini kami membuktikannya dengan memberikan kesempatan stan untuk melibatkan diri dengan kesadaran dan kerelaan hati, eh dan kekesalan hati kali ya, nih pasangan udah dewasa ngapain juga pake berantem sih yaaaa, hahaha, maafkan kami ya nak..

jadi suatu ketika, saat berantem, kami memutuskan buat misah dulu, duduk sendiri2 lah jauhan tapi ngga pake batas2 gitu kayak anak es de atau kaya di musholla, hihihi… biar adem kepalanya dan adem hatinya.. saat misah itu stan ke sy untuk memastikan sy ngga apa-apa atau butuh apa-apa (aaaah, isn’t he so sweet?), kemudian menghampiri papanya ngajakin diskusi..

setelah ngerasa adem, baru kami berdua diskusi yang ujung-ujungnya malah mbahas stan..

pssst dia bilang apa tadi? wah dia segitunya ya.. tuh kan stan mikirnya gituh.. kok bisa ya dia kepikir gituh.. eh kalian ngobrolnya pake bahasa apa? soalnya kami diskusi in English lo, takjub ngga sih… kebanyakan nonton drama kali tuh… dll, hahaha..

dan kami berdua pun baikan dan kembali kompak, dan ngga nahan buat nemuin stan buat berpelukan bertiga…

we feel so blessed and thankful to have each other and to be together..

Selamat hari Cinta =)

 

 

notes:

studi2 ttg melibatkan anak dalam konflik ortu dibaca dari publikasi riset Prof. E. Mark Cummings dan artikel lain dengan kata kunci tsb, salah satunya adalah artikel ini: “The Developmental Costs and Benefits of Children’s Involvement in Interparental Conflict” kalau ngga bisa unduh, minta ke sy aja kalau minat baca, artikel ini 40 halaman..

 

 

 

Advertisements