16

Setelah Ayah Pergi

hari sabtu, ayah mendadak masuk icu

berita ini sy dapatkan ketika sy dan tole hendak ke arnhem, jantung sy berdetak keras, sy merasa ngilu sekujur tubuh, keluarga sy bukan pecinta aksara maka tak banyak keterangan di depan mata.. inginnya sy membatalkan pergi, hanya ingin di rumah saja, meminta dan menundukkan hati dan kepala, namun kepergian kali ini sebenarnya buat napak tilas pencarian tas tole yg ketinggalan seminggu sebelumnya, tak bs ditunda juga.. (syukurlah tasnya ditemukan.. ) kami banyak berjalan hari itu berdua, sesekali kami berhenti, untuk memberikan kesempatan sy menangis dan berdoa

no news is good news… sometimes… right?

di surabaya, suami sy menuju rumah sakit sepulang kerja, dan mengirimkan banyak foto ayah dari kejauhan dan hasil diagnosa… juga foto mami dan saudara2 yg menunggu di luar icu… mengobati rindu… meniupkan cinta setinggi-tingginya..

you’ll make it, ayah, all i know is you’ve been such a strong guy 

hari minggu, ayah masih di icu

dan sedang ada lomba marathon di kota, tole terdaftar sebagai peserta sejak bulan sebelumnya.. 1km.. marathon pertamanya.. he’s not getting any better he needs further treatment… begitu pesan selanjutnya… they prepared him for the treatment.. entah sy jadi sensi atau apa, tapi dalam marathon anak ini sy malah dilihatkan anak-ayah yg berlari bersama… yeah, right…

usai marathon, sementara tole meneruskan bermain, sy memilih pulang saja, badan sy makin menggigil, jaket tambahan yg sy pakai masih kurang saja rasanya…

he is okay, pesan suami setelah operasi ayah usai… he needs some rest, they’ll do more treatments in the morning.. ah syukurlah meski hati belum lega, hanya mami yg menunggu sementara semua memutuskan untuk pulang… okay.. tapi sy tetap tak sanggup memejamkan mata… sampai pesan mami sy terkirim ke grup memanggil adik sy..

dan adik sy menelfon dan terbata.. ayah sudah ngga ada…

hari senin, setelah ayah pergi

sy ngga punya kekuatan apapun, sy menangis tergugu sendiri, cuman itu yg sy bisa… terus… terus… terus… sampai terasa sakit di hidung dan perih di mata dan kepala.. terasa sakit.. dan sakit… dan sakit semua… hampir subuh, sy memaksakan diri untuk mandi dan tetap menangis dibawah aliran air hangat entah berapa lama…

ketika tole bangun, sy menyampaikan berita duka.. sampai dia memeluk sy daaaan sy mulai menangis lagi jadinya… please don’t cry like this, you will make me cry too… katanya…

tapi tak bisa… sy hanya mengurung diri di kamar, menangis dan menangis bisanya… but i promised him it will only be today… since i really couldn’t do or think anything but cry and cry, I feel so useless being so faraway from home in this kind of moment

sy beruntung masih ada tole bersama sy, yang mengingatkan berkali2 untuk makan dan minum, dan memeluk sy mengingatkan untuk tetap kuat dan tabah…

sy berbaring di tempat tidur menatap layar hp seharian, mengikuti acara persiapan, proses pemakaman, dan kemudian proses persiapan pengajian.. sy menitipkan ke semua yg ke rumah untuk mengirimkan foto dari berbagai pandangan mata.. dan sy kembali menumpahkan air mata sampai sy tertidur…

hari selasa, setelah ayah pergi

sy merasa baik2 saja.. sy pun memutuskan ke kampus.. yaaa, dengan mata bengkak… tapi gapapa.. sy bisa bangun, menyiapkan sarapan, lantas bersepeda sambil tersenyum pada dunia… sampai setibanya di kampus… mau ngga mau ketika ditanya kenapa kemaren ngga masuk dan sekarang muncul dengan mata sembab – sy harus menyampaikan tentang kepergian ayah dan menjawab pertanyaan tentang pemakaman beliau, dan yaaa, sy mendapat pelukan… dan serentetan seruan bahwa sy ngga mungkin dalam keadaan okay dan kalau sy membutuhkan distraction harusnya sy pergi jalan2.. tidak di rumah, tapi juga tidak di tempat kerja… mendapatkan pelukan lagi membuat sy kembali ingin menangis… namun tetap yakin mengatakan, okay, but i will be okay soon.. sebelum pulang sy mampir ke mantan rumah kos sy, memeluk bayi2 kesayangan, anak2 ibu kos yg baik hati.. children’s laughters are amazingly lovely…

hari rabu, setelah ayah pergi

sy mulai menjawab pesan2 yang terkirim melalui whatsapp, I cannot believe how many groups I’m into, dan sosial media… sesekali terisak bila mendapat pesan personal, yg tidak dikirim dalam grup dan tidak copas maksudnya… dan seharian kembali sy menyibukkan diri berkomunikasi dengan saudara jauh dan teman-teman lama yang sudah lama tidak sy sapa… yaa, sambil sesekali menitikkan air mata… mengamini semua doa, ayah.. ayah.. doaku teriring untukmu…

hari kamis, setelah ayah pergi

bertepatan dengan King’s Day di Belanda, sy ingin ke Amsterdam berada dalam keramaian, namun tole meyakinkan untuk pergi ke taman sepi, jalan kaki, hanya kami, mendengarkan hati… tapi sempat juga kami mampir kedai ice cream favorit untuk menikmati hari yang cerah tapi sedang hujan… we can have fun on such rainy day, kata tole.. malamnya sy kembali menangis (menunggu tole tidur tentunya) mengingat masa lalu… dan menulis tentang Ayah with a dim picture of drowned past…

hari jumat, setelah ayah pergi

ingatan masa lalu membuat pikiran sy mendadak dihantui dengan penyesalan,

i should have… i would have… i could have…  shoulda, woulda, coulda… i gotta list them out, pikir sy awalnya.. tapi kemudian sy menatap tole…

imagining my son would tell me all the should woulda coulda – all the guilt,

then i consider what would I say to my son…

then somehow I know what my father would tell me…

trus menangis lagi… T.T

tapi kembali menulis pada dunia tentang hubungan dengan orang tua setelah kita dewasa disini

hari sabtu & minggu, setelah ayah pergi

mengawali hari dengan video call dengan keluarga amat menyenangkan hati, meski dengan koneksi yg ajaib.. yaa, kami biasa ngobrol dengan tawa keras dan sarkas… tapi sy bs merasakan duka mereka…

wiken ini meski sy tak ingin pergi tapi tetap kami harus pergi (perjalanan ke Zuid Limburg), karena segala sesuatunya sudah dipesan di awal bulan ini, perjalanan yang membuat sy (dan tole) banyak berjalan kaki (hampir 30km dalam dua hari), skenarioNya memang menakjubkan sekali… membuat sy makin banyak belajar, setelah ayah pergi…

I was given the opportunity to walk my sadness away

to learn how not to let all the guilt and grief stay

to understand that it is always okay not to feel okay

and cry once in a while if I may