3

Me Vs Ortu

sy memanggil beliau-beliau: Mami dan Ayah.. sedikit anti mainstream dalam memasangkan istilah, karena dalam perjalanan hidup, kami berganti-ganti panggilan sampai pada satu titik sepakat kalau Ayah lebih cocok dipanggil Ayah daripada Papi atau Papa seperti saudara2 beliau dipanggil anak-anaknya.. begitu pula dengan Mami… yg berasa kurang kalem buat dipanggil bunda atau ibu, hihihi…

dan saking kuatnya panggilan ini, lantas merembet kemana-mana.. teman dekat, saudara ipar, saudara angkat, saudara sepupu, saudara jauh, sampai cucunya juga jadi memanggil Ayah dan Mami…

hubungan anak vs ortu dan cinta kepada orang tua tentu alami, jadi tentu saja sy mencintai Mami dan Ayah… Cinta sy tidak berubah, hanya sy merasa makin memahami cinta sy pada Ayah dan Mami ketika sy menikah, dan lebih-lebih ketika sy memiliki anak…

namun ada juga yg berubah…

Yang banyak berubah dari hubungan kami adalah pola hubungan.. yang ketika sy kecil, lebih bersifat hirarki sekali.. mungkin karena bawaan budaya, atau trennya yg begitu saat itu, syukurlah beranjak dewasa hubungan kami menjadi egaliter, jadi lebih demokratis.. bisa jadi yg ini juga bawaan jaman, tapi sy yakin sedikit banyak ini juga karena anak-anak beliau dengan jujur mengutarakan keinginan untuk itu..

hal ini merupakan hal yang paling berharga dalam hidup sy, karena sy mendapat kepercayaan beliau berdua dalam menjalani pilihan2 hidup sy..

di postingan ini, sy berusaha mendaftar hal2 yg mungkin bisa membantu menjaga hubungan baik dengan orang tua…

  1. posisikan orang tua sebagai sahabat, bertukar pendapat dan diskusi untuk menunjukkan dunia dari mata kita, dan keep in touch (they would love to get lots of our pictures and stories)… kalau dasarnya sudah sahabatan, then consider you are very lucky! well, Mami dan sy sama-sama di bidang pendidikan, jadi sy bisa minta job ke mami eh maksudnya sy bisa berdebat tentang teori2 pendidikan dan semacamnya, debat tanpa akhir biasanya nih, karena kadang sambil bawa2 buku teori atau sampai browsing segala… kalau sama Ayah, sy mencoba meluaskan topik obrolan ngga sekedar kabar beliau dan sy, gosip keluarga besar, atau tentang mobil kayak biasanya, pernah nyoba ngobrolin tentang tren travelling saat ini dan ternyata asik juga
  2. posisikan orang tua sebagai sesama orang dewasa, karena posisi yg setara, hubungannya juga musti seimbang dong, bukan hanya orang tua yg merasa harus berusaha berkontribusi terhadap hidup kita, kitanya juga musti berusaha mengisi hidup mereka.. bukan hanya mereka yg punya peran “pemberi saran” melainkan kita juga… berikan masukan, saran, bantuan – sesuai porsinya, we’re facing our problems and so  are they… nah, karena orang tua sy begitu mandiri, sy sering lupa kalau mereka mungkin juga butuh ada yg mengingatkan ttg teknologi, kesehatan, atau hal-hal besar kecil lainnya
  3. blast from the past (ini nyontek item list sy untuk pernikahan di sini) sepanjang hidup kita, hadirkan saat2 bersama orang tua kita yang bisa dikenang dengan senyuman atau bahkan bikin ketawa.. tertawa bersama atas kenangan lama itu membahagiakan! bisa juga foto2 lama dikemas ulang atau dibuat format barunya.. atau bongkar barang2 lama buat dibikin video koleksi atau apalah (ini karena kebetulan Mami dan Ibu (Ibu adalah panggilan sy untuk ibu mertua) hobi nyimpen barang2 masa lalu… *alamaak)
  4. bikin kenangan baru, ajak orang tua buat nge-date atau bila memungkinkan – lakukan hal yg sama-sama baru pertama kali melakukannya.. hubungan orang tua dan anak tetap butuh momen2 yang mendekatkan meskipun secara alami hal itu sudah ada..
  5. NEVER take them for granted, sampaikan cinta dan rindu, sampaikan apresiasi atas usaha mereka selama ini, they’ve done what they could do and it might be the best they could at those times… sure, they made mistakes, but hey.. who we are to judge?

lantas, apakah sy sudah melakukan semuanya?

sayangnya belum.. sedihnya belum…

dan sebenarnya ini termasuk bagian dari daftar shoulda-woulda-coulda (baca: grief & guilt) setelah berpulangnya ayahanda 24/4/2017, tepat seminggu sebelum ulang tahun beliau, dan sy ribuan mil jauhnya, dan sy ngga bisa memegang tangannya di saat-saat terakhir, dan sy ngga sempat minta maaf, salim, sungkem, bilang sayang ke Ayah, mengirim foto terupdate, cerita ttg perjalanan2 sy.. T.T

(sebuah catatan hati: Ketika Ayah Pulang)

jadi tunggu apa? katakan cinta selagi bisa yaa…

“it takes both sides to build a bridge”