8

Teman Baik

ketika kita merasa makin menjauh dari teman baik, harusnya terus berbuat sesuatu untuk merekatkannya meski tak berbalas, atau yawdah putusin aja sih?

ada satu group pertemanan di hp sy yg anggotanya mendapat ringtone yg sm dengan keluarga sy.. ketahanan mereka sy anggap sama seperti keluarga, tahan dgn apapun yg sy katakan selama ini.. iyaa.. selama lebih dari separuh hidup sy.. iya, sy memang tak pandai memiliki teman baru -eh- berteman pada umumnya lah, mungkin terutama karena sy tak pandai merangkai kata atau bersikap bersahaja..

kami melewati banyak masa bersama (physically and virtually ^^)

bareng mulai masa jomblo, masa bolos, crazy road trips, masa friendster, masa pacaran, masa menikah, masa blackberry, masa cari duit bareng, sampai masa menjadi ibu untuk sebagian besar dari kami..

virtually, karena kami ngga selalu bertemu karena tinggalnya juga beda kota, dan kami beda profesi, tapi justru itu yg bikin grup tetep aktif buat update kabar dan cerita2 sehari2 atau curcol dan bertukar cara pandang yg berbeda.. kalau di grup umumnya familiarities keeps them together, buat kami keduanya – persamaan dan perbedaan yg menyatukan kami..

mereka juga yg menguatkan sy selama menjalani hidup rantau empat tahun terakhir ini.. baik saat2 traveling atau saat studi phd.. termasuk menjalin silaturahmi dgn keluarga besar masing2 – baik di masa2 berduka ataupun masa2 bahagia.. yaaa yg jelas mereka selalu ada di acara keluarga besar sy lah.. dan akhir2 ini sy teringat kala ramadhan tahun lalu, grup ini ngga pernah sepi sepanjang hari – (dan kayanya gara2 harus menanggapi sy ^^, *si biang ribut tukang lempar isu)

tapi beda sekali dengan tahun ini..

where did we go wrong?

where did i go wrong?

i know friends would come and go..

but not this kind of friendship.. i could say that this is what Aristotle would categorized as a friendship of the good.. is it? we may grow apart, but we hold on to the same root, right? no? i understand that solid friendships require a sense of balance built on even ground. mutual appreciation. this could mean (among other things) that one person would put more work into the relationship once in a while – in turns. or that one person will need a break from us all – once in a while. i do understand. but this time it feels like forever. since i have the feeling that it’s only me and my problems dominate the talk lately. so by the time i stopped igniting, there is no talk.

it makes me sad, for sure.. but hey, life goes on, right? it happened that i also met some new good friends along the way lately, and got few old friends that just get together again after all this time.. and phd life got its deadline approaching..

ah, kembali ke pertanyaan diatas.. dan kembali berbahasa Indonesia.. terus melempar isu ataupun sampah ke grup kayanya engga deh.. rasanya sudah ngga berarti sama buat mereka.. ntar grupnya cuman jadi pintu kulkas – alias tempat pajangan gambar macem2 doang.. burning the bridge juga jangan.. ngga baik memutuskan tali silaturahmi bukan?

“Make new friends, but keep the old. One is silver and the other gold.” lirik lagu pramuka

*curhatan sok kuat padahal nangis di pojokan

Advertisements
8

Cerita Perempuan Biasa

Siang itu, semua berjalan seperti jadwal biasanya dalam hidup Rora

– anak-anak TK pulang jam 11, ada yg langsung pulang, ada beberapa yang memang biasa dijemput jam 12an atau bahkan lebih – ada juga yg sampai harus ada yg mengingatkan orang tuanya untuk menjemput, dan – ada juga yg sudah ditelponin bapaknya – eh si bapak bilang sibuk trus malah minta tolong pihak sekolah untuk telpon saja ibunya..*haisy.. yang begini ini yg membuat Rora sakit kepala saking sebalnya.. ada beberapa yg langsung ganti baju trus main lagi karena mereka dititipkan ke daycare yg bertempat di lokasi sekolah, alhasil beberapa guru harus tetap di halaman sekolah sembari mengawasi anak2 yang riuh bermain, satu guru terlihat menenangkan satu anak yg menangis karena tidak akan dijemput ibunya seperti biasanya, sebagian guru yg lain harus menyiapkan materi bermain untuk keesokan hari di salah satu kelas yg dijadikan basecamp..

Rora sedang di ruang kerja kepala sekolah, bersama Meta & Ina – dua guru muda yg menjadi asisten Rora sementara, eits, tapi Rora bukanlah kepala sekolah, hari-hari itu dia sedang mendapat tugas istimewa, maka ibu kepsek yg baik hati meminjamkan ruang kerja untuk ditempatinya..

ruangan tersebut penuh dengan materi dan alat peraga TK, ditambah panasnya kota yg luar biasa, kipas-kipas pake kertaspun tak ada artinya, Rora menarik nafas panjang sambil beranjak membuka pintu belakang, niatnya mencari angin agar ruangan tersebut tidak terlalu pengap, apa daya yg masuk malah angin panas.. huh, malah membuat nafas sesak dan sakit kepala Rora makin terasa, kembali dia mengoleskan minyak angin kedahinya.. ia juga menunggu sesuatu sambil terus memeriksa hp-nya.. sampai akhirnya bunyi pesan di hp membuatnya beranjak berjalan keluar..

“Hai! aku disini yaaaa! ” seru Rora sambal melambaikan tangan ke 2 perempuan yg baru masuk ke dalam lapangan sekolah sambil menuntun motor pelan2.. yaa, makin siang bukannya makin sepi, ini jam istirahat SD sebelah, beberapa anak SD sebelah yg dulunya bersekolah di TK ini terlihat berlarian melintasi lapangan.. menyebarkan debu kemana2.. seorang anak berlari mendekati Rora dan salim.. Rora tersenyum sambil mencoba mengingat-ingat nama mantan muridnya yg kini sudah SD itu.. tak apa-lah bila masih kecil, tapi kalau ada mantan muridnya yg sudah SMA, atau kuliah, biasanya Rora menarik tangannya ^^,

Dina, teman Rora saat SMA, berjalan kearahnya membawa 1 kantong plastik besar.. Dibelakangnya, Ari menyusul setelah memarkir motor.. Dulunya Dina juga guru TK, Rora sempat bertemu beberapa kali sewaktu ada pelatihan guru TK di tingkat kotamadya. Kemudian, dia “menghilang”. Bahkan tidak aktif di grup whatsapp reuni SMA mereka. Lantas ada seorang teman yg “menemukan” Dina, yg ternyata terkena kanker, terpaksa berhenti kerja, dan ditinggal suami yg membawa anaknya, dan tak punya alat komunikasi..

baru kali ini Rora setuju grup wa ini sangat bermanfaat.. grup yg ramai hanya bila menjelang reuni kecil atau reuni besar itu bisa berdiskusi serius ttg bagaimana membantu kesembuhan –juga kelanjutan hidup Dina.. Rora yg jarang aktif, jadi tahu kalau teman-temannya banyak yg menjadi orang hebat.. ada yg membantu mencarikan obat alternatif dari luar negeri, ada yg menjadwalkan kunjungan rutin, memberikan tempat usaha warung (yg kemudian sepertinya kurang berhasil), dan bantuan2 lainnya saat itu, namun kelanjutannya Rora kurang tahu juga..

Pada Dina sendiri, Rora tidak banyak bertanya.. ah, apalah aku ini, kata batin Rora sambil menghela nafas, Rora tak tahu harus bagaimana membantu temannya, ia hanya bisa mengajak ngobrol sesekali di wa, atau memesan makanan yg menjadi usaha Dina saat ini.. tapi karena memang nasi ramesnya enak, kue2 bikinan Dina juga kesukaan Rora (beberapa merupakan resep ibu Rora loh!) dan lumayan juga sambil pesan makanan sambil bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan temannya satu ini..

Setelah saling menyapa, Dina menyodorkan kresek berisi dua dus besar ke Rora..

“Ror, yg atas ini 1 dus isi 3 nasi bungkus.. lauk senenganmu inih, dan nasinya sedikit.. trus yg bawah itu yg isi 20 pastel yaa” ujar Dina…

“hmmm pastel jagoanku!” Rora mengambil 1 pastel dan ngga sabar merasakan gurihnya sebelum meminta tolong pada Meta & Ina untuk membagikan pastel ke guru-guru lainnya..

Kemudian Ari, teman Dina, menyerahkan 1 tas plastik lagi.. “Nah, ini sinomnya 5 pesananmu, bonus 1 botol beras kencur, bikinan Dina juga, produk baru ini” promo Ari, perempuan yg selalu nampak ceria..

Ari memiliki cerita yg hampir sama..

Suami Ari juga meninggalkannya, dan anaknya pun ikut dibawa suami dan hanya akan diserahkan kalau Ari mau mengurus dan menanggung biaya perceraian mereka, padahal setahu Rora, anak Ari termasuk ABK dan sedang dalam perawatan (yg menunjukkan hasil yg baik, namun bila terhenti di tengah-tengah, hmm, Ari harus memulai sesi perawatan dari awal dong ya..), dan entah bagaimana dua ibu ini dipertemukan dan saling membantu, sementara ini Ari bekerja lepas, disela2nya dia membantu Dina menyelesaikan dan mengantarkan pesanan2..

Meski terlihat sedikit lelah, atau efek sinar matahari yg panasnya kentang2 siang ini, Dina nampak sehat.. Dia membenarkan bahwa obat alternatif yg diberikan oleh teman2 itu cocok.. cuman dia tidak ingat namanya.. dan dia mendapat perawatan yg masih gratis dengan BPJS.. dia masih semangat untuk sehat.. karena keinginannya hanya satu, bagi Dina – dan juga Ari, untuk bisa menabung dan ada pendapatan tetap, agar bisa dekat dengan anak2nya kembali..

sebuah keinginan sederhana namun amat luar biasa perjuangannya..

Dina menyampaikan kalau pesanan kue dan nasi kotak memang tidak bisa dipastikan, kadang ramai kadang sepi, makanya dia mempertimbangkan untuk melamar menjadi guru TK di dekat kos2an mereka, meski 6 bulan pertama hanya akan menerima gaji standard guru TK setempat, yg besar perharinya kurleb sama dengan harga satu nasi kotak yg juga dijualnya..

Dina juga menambahkan cerita bahwa beberapa bulan lalu dia mendapat pelatihan gratis membuat sinom dan beras kencur dari disnaker kotamadya, bukan cuma pelatihan, tapi peserta juga dibantu dengan pengurusan ijin DinKes P-IRT segala.. wah Rora bersyukur, pemerintah setempat bisa membantu seperti itu.. meski untuk penjualannya Dina masih harus keliling mencari pasar, karena kan jadi banyak yg jualan sinom juga di kota ini jadinya..

Rora melihat label berbahan kertas yg tak utuh karena luntur terkena air sebelum membuka botol plastik beras kencur dan meminumnya..

“hmmm, enak iniiih! segar! mau lagi yaa tapi kirim ke rumah aja, terserah kapan bisa kirimnya..” ujarnya sembari melirik satu tas tote bag yg dibawa Ari,

“Lah itu apa? Pesanan lainkah?”

“oh ini…” Ari sedikit terbata menjawabnya.. “ini tas sama daster, mau diantar ke RSUD..”

“loh, siapa yg sakit?” potong Rora seketika..

Ari dan Dina menghela nafas.. sebelum kemudian Ari mulai bercerita… tentang Kasih, sepupunya yg sedang hamil besar, dan “ditahan” di RSUD karena menurut pemeriksaan, dia positif HIV.. kemungkinan besar dari suaminya – yg kini meninggalkannya.. Ari terdiam sesaat, Ya Tuhan.. Rora tercekat.. ia tahu ia gampang menangis, tapi kan amat ngga sopan kalau dia nangis di depan 2 perempuan yg keliatan tegar dengan senyumnya masing-masing..

Cerita Ari berlanjut.. Setelah diusir dari rumahnya, Kasih kembali ke rumah ibunya di daerah pinggiran kota kecil di dekat kota ini.. ketika dia dibawa ke RSUD, dia hanya membawa baju seadanya dalam 1 tas kresek.. jadi Ari akan menyusul membawakan tas dan baju tambahan.. Selesai bercerita, Ari dan Dina berpamitan karena mereka akan bergegas menuju RSUD..

Rora masih termenung diluar setelah Dina dan Ari pergi.. pikirannya berkelana ke penjuru dunia.. tentang artikel terkait kabar terbaru usaha penyembuhan HIV yg lagi ngehits di jurnal terkemuka, tapi entah kapan perempuan2 seperti Kasih bisa mendapatkannya.. tentang hari perempuan internasional.. perjuangan hak-hak perempuan – tingkat tinggi.. tentang obrolan twitter yg ramai tiap terkait isu perempuan – jalan hidupnya, kodratnya, pilihannya, keinginannya..

ah, ingin rasanya Rora bisa menyedot perhatian yg besar itu ke perempuan2 seperti Kasih, Ari, dan Dina.. tapi apa daya.. Rora hanya perempuan biasa yg hanya bisa bercerita..

11

Cerita Ojol

beberapa saat setelah mendarat di tanah air, sy langsung mengunduh 2 jagoan ojol, gojek dan grab.. ngapain dua? Ya buat nyari promo laaaah.. maklum, pns kelas jelata sy-nya ini.. kalau transport bs irit yaaa bisa lebih banyak jajannya.. hahaha… meski jajannya tingkat papeda kw alias telur gulung – ini jajanan yg lagi ngehits di seputaran hidup kala mudik tahun ini nih.. contohnya nih, naik ojek motor ke sekolah tempat sy mengajar itu antara 10k-12k sekali jalan.. kalau gojek pake gopay lagi promo bisa jadi 4k, kalau grab pake ovo lagi promo bisa nyampe 3k.. cuman promonya timbul tenggelam kadang ada kadang engga jadi ya musti rajin2 cek sana sini.. gicu… iya sy modis kan.. modal diskon banget, hahaha.. (etapi jangan kuatir.. tetangga sy banyak yg ojol, sy sdh memastikan kalau pas promo itu mereka tetep dapet tarif penuh)

ada satu pertanyaan yg paling sering dari orang2 di sekitar.. kok ngga naik grab/go car? sy jawabnya kalem.. sy ngga bisa pake ac, ngga kuat dingin.. hihihi.. daripada mo jawab ngga ada budgetnya ntar disanguin lagi, hahaha.. kan ngga nolak kitanya… hahaha

nah, berikut ini cerita2 antara sy dan ojol.. maap kalu jayuuuuuuus…

=========================================

-satu-

sy, pake helm setelah sekian lama ngga pernah pake, ternyata pas nyampe tujuan sy ngga bisa bukanya.. utak utik.. tarik tarik… eh masih ngga bisa juga.. smentara si mas ojol menunggu dengan sok kalem padahal sedang susah menyembunyikan kegelisahannya.. sampai akhirnya sy nyerah..

duh mas, ngga bisa buka helmnya gimana…

ya sini sy bantuin mbak..

sy pun reflek maju ke depan mendekatkan kepala ke si mas, eh segerombolan anak smp lewat sambil godain.. eciyeeeee, mesra sama ojolnya yaaa…

>.< grrrr

-dua-

kalau dulu ojek identik dengan tahu rute jalan, beda sm ojol skrg yg andelannya kebanyakan gps, jadi kalo mesen ojol seringnya datengnya agak lama.. tapi sy ngga pernah berani pesan sebelum siap nunggu.. alhasil seringnya yaa sy yg nungguin di pinggir jalan.. suatu ketika pas sy lagi nunggu, ada ojol yg mendekati gerombolan pengabdi eh penunggu ojol di pinggir jalan.. pas sy ngga inget plat nomornya sebelum memasukkan hp ke tas, eh malah inget namanya doang – pak syaifuddin.. nah pak ojol yg mendekat ini sambil memanggil nama sy sambil menatap semua penunggu ojol mencari yg mana gerangan pemesannya..

“mbak maureen…” panggilnya lirih.. malu-malu..

sy reflek dong nyapa balik… “pak syaifuddin..” sambil melambai..

eh dia seperti perlu gitu mengulangi lagi dengan lebih keras.. “mbak maureen..”

wadew pak.. masa iya sy sebut lagi.. panggil2an dari jauh gini udah kaya sinetron jalinan kasih aja kita nih pak.. tinggal zoom in zoom out.. ga pake pelukan ya!

>.<

-tiga-

sekolahan tempat sy mengajar lokasinya agak membingungkan, maklum lokasinya berada di dalam kampus.. supaya memudahkan, sy – kalau lagi ngga males berpanas-panas – sy kasih lokasi yg lebih umum, kantor bank dalam kampus misalnya.. dan ternyata banyak yg berpikiran demikian, atau yg emang lagi ke bank hehehe.. alhasil waktu sy jalan mendekati kantor bank eh sudah banyak ojol yg menunggu.. hmm yg mana ojol pesanan sy nih yaaaa, sy hanya mengingat nama orangnya pula sebelum baterai hp sekarat.. hadeuh.. alhasil sy main feeling dan main tuduh, hehehe… sy pun mendekati salah satu ojol..

“pak nanang?” tanya sy pelan bermaksud memastikan nama beliau..

eh si bapak geleng2 sambil bilang “saya (pesanan untuk) ibu maureen!”

wkwkwk

“kan sy nanya nama bapak looo… hihihi, masa nama kita sama pak..”

“oh sy dengarnya mbak Nana, gitu bu…”

aih si bapak… wkwkwkwkw…

-empat-

usai makan siang, berdiri dong sendirian di pinggir jalan sambil mesen ojol.. kebiasaan nih, habis klik mesen trus ok – ada ojol yg ambil pesanan sy, yaa langsung aja hp dimasukkan ke tas.. kan sendirian juga, berarti kalau ada ojol yg mendekat itu pesanan sy kaaan..

sambil tolah toleh nungguin ojol.. ngga lama kemudian, sy melihat dari kejauhan motor dengan pengendaranya yang berjaket hijau… waaaw.. naik ninja.. keren amat ojolnya kali ini ya.. sy udah senyum2 bahagia aja menanti ojol yg makin dekat.. si mas nya juga melihat sy.

jadi kami lihat2an..

eh apa sih >.< hahaha..

tapi trus…. laaaaah sy dilewatin… laaaah kok salaaaah…  whoaaaa.. sy baru inget kalau jaket resminya ninja kawasaki juga warna hijau… hahaha… jadi malu sendiri ngarepin naik ojol ninja sampai senyum2 sama orang.. >.<

===============================

ya ini nih bahaya… kebiasaan naik ojol kayanya amat memanjakan sy.. kalau ntar balik negara kincir angin bakalan masih kuat nggowes lagi ngga ya inih >.<

 

tambahan cerita (dibuang sayang)

-lima-

menjelang balik londo baru inget kalau musti ke dr gigi, buat bersih2 karang gigi dan periksa2 gitu deh.. seperti biasa, mesti deket rumah, minta anter ojol dong ke kliniknya. pas turun dan seperti biasa – rada lama pas buka helm, si mas nanya2 ttg klinik tsb,

bagus ngga mbak periksa disini? – hmm, kalau dokter umum sy ngga tau mas, sy ke dokter gigi..

lah, sy mo bersihin gigi nih.. kira2 berapa ya? – lah sy juga mau bersihin gigi mas, disini 50rb atas bawah.. pendaftaran klinik 50rb..

wah murah yaa.. sy juga mau kalau begitu!

nah looooo..

baru kali ini kan dianterin ojol sampai masuk klinik barengan, wkwkwk.. kompak amat sm ojolnya..

 

 

13

Imej diri

ceritanya ini saat sy bertemu seorang mbak2 Indonesia di salah satu acara ppie, persatuan pelajar indonesia di enschede, yg membernya dulu jaman sy kuliah master cuman se-imit (kebanyakan master student dan sedikit phd), sekarang anggotanya banyaaaaak bangeth (karena sekarang s1-s2-s3 makin banyak aja yg kemari), gilaaaa…

lantas benernya sy bukan orang yg bisa memulai suatu obrolan, cuman ini pas lagi kepentok aja karena saat itu sy lagi duduk sambil makan, trus S – seorang kenalan sy datang bersama temennya, Z – yg sudah pernah diceritain ke sy tapi belum pernah bertemu muka, nah mereka duduk di depan sy, trus si S pamit mo pergi bentar beli makanan, karena si  Z nih trus duduk sendirian dan berhadapan dengan sy…  yaaa sy merasa harus menyapa lah yaa..

eh ya ngga harus sih, cuman rikuh aja kalau ngga nyapa.. ya ngga sih?

================================

dan setelah senyum ke Z, sy-pun menyapanya

me: hai mbak, temennya S sudah lama ya?

Z: haai.. iya..

trus kami berkenalan, dan hidup bahagia selamanya, eh Moz Vs Z…

trus sepi.. krik krik krik.. sampai…

Z: eh kamu, suaminya bule?

tanya si mbak tiba2 dengan tatapan tajam, setajam silet

me: hah? *maaf sy suka bengong kalau ditanya dadakan

Z: kamu kesini itu ikut suami? suaminya bule?

…(((k-a-m-u)))… errrrrr, ya benernya ngga apa sih, cuman mungkin kaget aja udah lama  ngga ada yg “kamu-kamu”-in sy, hihihi

me: oh, engga mbak.. 

Z: oh, jadi kesini ikut suami kuliah?

me: oh engga juga..

Z: kamunya kerja?

me: *bingung jawabnya apa, tapi trus jawab: iya.. soalnya kalau di belanda emang phd tuh dianggap kerja, jadi yaa sy ngga punya kartu atau nomor mahasiswa, adanya kartu pegawai – yg bisa dapat kopi gratisan di mesin kopi kampus (info yg membanggakan sekali yaaaaaaa… wkwkwkwk)

Z: oh, kerja

stan yg lagi makan di samping sy, berdiri, ambil skateboardnya trus meluncur ke arah jalanan pulang, sy yg juga sudah habis makanannya segera menyusul berdiri sambil pamit dengan senyuman saja.. tapi sy bisa ngerasa kalau sy dilihat dari atas sampai bawah sama si Z… dan sy juga bisa ngerasa kalau stan mendadak bete…

=====================

dalam perjalanan pulang si stan to the point nanya kenapa sy ngga bilang aja kalau sy itu lagi phd..  hmm, kenapa yaaa, 1) sy merasa ngga ada yg salah dengan pernyataan2 dia 2) mungkin karena dia ngga bertanya apa yg sy lakukan di tempat ini.. jawab sy ke stan.. memangnya ada yg kurang pas dengan jawaban mama-kah? tanya sy balik.. stan diem.. trus dia bilang, dia merasa si ibu itu mandang mamanya ini gimana ya.. ngomongnya kaya ngga respek gituh..

iyaaaa,  kalau cara dia menyampaikan sih memang rada2 gimana gitu (kayak heran tampang kayak sy ini kok bisa nyampe belanda mungkin, hahaha kok malah ta’perjelas yaaa… hahaha) tapi yaa sy merasa biasa aja… karena mungkin cara dia bicara yaa kaya gitu…  “mama sih, ngga dandan bagusan gitu..”  protes stan, sy ketawa…

ya harusnya sih dandan ga dandan kan ya teteup musti respek ngga sih sm orang lain… apapun statusnya orang lain.. kan sama-sama manusia inih..

(daaaaan padahal hari itu perasaan sy dandan loooo, pake bedak dua lapis.. pake kebaya cantik… wkwkwk.. makin tertohoq ngga sih..)

kebaya_maureenmoz

eniwe… menurut sy sih gituuuu

walaupun menurut stan engga..

dia lelah krn menurutnya si mama ini ngga pernah dandan proper.. ngga bawa imej dosen gitu.. hahaha… lah gimana dong harusnya apa ya ada manualnya gituh? apa sih dasarnya sy juga ngga tau, kan ini muke ya muke bawaan orok.. trus musti didukung apa sih? biar kelihatan complicated, wkwkwkwk… serius nih nanya…

cara berbicara?

make up?

apa baju?

=================

eniwe buswe, ini ada tulisan lama sy yg kurang lebih pengalaman yg sama kaitannya dengan imej diri (dan kekepoan ibu2, hahaha)

=================

Ga Ja-Im

(April 15, 2014)

siang hari yang panas. warung bakso unesa. jeda antara pulang sekolah dan ekstra kur.

stan & sy asyik makan bakso dahsyat di belakang sekolah, ketika serombongan ibu-ibu senior berpakaian formal juga makan bakso. sy, seperti biasa, asyik becandaan sm stan sampai ngakak2 segala. mulai deh, ada komen2..

“wah makan siangnya di sekolah niy ibu sama anak, kan udah pulang sekolah” celetuk salah satunya

(yg mnr sy aslinya >> nyante amat jadi ibu, kenapa ga masak sendiri trus makan di rumah, kan lebih sehat –> psssst, komen ini pernah sy dapatkan dr rekan dosen pria di kampus)

sy senyum, “anaknya mau lanjut ekstra bu, sampai siang” stan cuek.

“gini ini nungguin ya, kalo dulu anak sy ya mandiri, ikutan antar jemput, trus ya makan2 sendiri, sudah disiapkan di rumah, kenapa ngga pulang aja tooo kan enak, dimasakin aja, trus mamanya tunggu di rumah aja”

sebelahnya nyahut, “rumahnya jauh kali, mana bu rumahnya?”

(ih mulai kepo…) sambil gigit gorengan kriuk kriuk sy jawab, “sidoarjo”

ibu2 langsung koor… ooooooooh…..

“ooooh pantesan, ngga pulang, trus nungguin…” celetuk satu ibu

ibu2 lainnya mengangguk-angguk tanda setuju..

“lama ya nungguin? dari jam berapa? sampai jam berapa? ngapain aja lama gitu?”

(hadeuh, kayaknya makin kepo deh… >.< )

sambil nunggu jawaban dari sy, tatapannya mulai risih lihat mamah & anak rebutan bakso terakhir, setelah paruhan bakso terakhir, sy jawab..

“sampai jam 2, masuk sekolah jam 7am, iyaaa, sy nungguin dia pulang”

“whoaaaa lama juga ya… pulang juga jauh….”

terdiam. (mereka mulai memikirkan solusi “masalah” sy apa ya?????)

“trus ngapain aja lama gituh?” tanya ulang satu ibu, karena sy kelewatan jawab sebelumnya

“ya biasanya sy ngajar bu, sambil nungguin dia pulang” kata sy sambil nyiapin duit mau bayar bakso. stan udah ngilang.

ibu2 mengernyitkan kening melihat “tampang” sy dari atas ke bawah..

“tadi ini ngajar? ngajar????”

kaos sy. jins sy. sandal sy. rambut sy. tampang sy. iya tampang sy HABIS BIS – dihabisin tatapan ibu2nya.

“begitulah bu, mari bu, sy duluan..”

sy pamit. selesai.

18

Beasiswa dan saya

pada satu masa di twitterland, yg bisanya sy baca sekilas saja, ada twit yg amat menggoda buat dikomentarin balik gara2 ada istilah:

(((ngemis))) beasiswa

trus jelas yg reply (dgn huruf acak dan tanda seru) yaa banyak dooong, trus di-reply balik sama si mawar – sebut saja kakak pencipta istilah tsb dgn nama ini ya – nunjukin kalau dia ngga ngerti salahnya dimana wong dia ngomong biasa aja kok neytijen pada nge-gas gitu.. benci sana benci sini pun dimulai… dan seperti biasa, ramailah twitterland dgn tralala trilili seputar beasiswa (yg sebenarnya awalnya ramai karena sebelumnya ada twit pembahasan ttg menjadi orang tua yg bertanggung jawab – ngga ikutan ini sy deh, capek! wkwkwk)

sy – yg sejatinya hidup di bawah kucuran beasiswa dari masa ke masa.. jadi merasa tertohoq.. mengapa begitu hina diriku dihadapanmu, mawar… *halah *cari meme qasidah

lah gimana toh, dari awal pendidikan tinggi sampai saat ini ditambah workshops,  shortcourses, bantuan/media belajar, dan seminar2 yg sy ikuti, semua bukan murni duit sendiri atau dari orang tua, malah sy sebisa mungkin menghindari menggunakan pemberian orang tua (- kecuali kepepet ^^v) eh, kok mbahas orang tua lagi, ooopsie.. yaa pokoknya sy termasuk golongan yg bersemangat apabila mendapat kiriman info beasiswa ataupun hibah penelitian begituuuu..

saat itu seketika sy esmosi dong, langsung perintah si jempol – admin asli akun twitter sy untuk beraksi demi bela diri sendiri: beasiswa itu sejatinya penghargaan! beasiswa itu prestige! beasiswa itu dapetinnya ngga mudah! beasiswa itu butuh konsistensi! dar! der! dor! (tapi kemudian dibaca dan diedit ratusan kali sebelum di-twit kok ^^ lantas di-twit dgn sopan, karena intinya adalah pengendalian diri, saudara, betul tida?)

nah, ya gini ini yg kemudian jaka sembung.. alias bakalan kaga nyambung antar 2 kubu neytijen.. dan ngga akan bikin benci sana benci sini itu lantas menguap begitu saja, karena apa? ya karena dasarnya beda.. yakinnya beda booo..

beasiswa menurut saya

sedari kecil, sy melihat istilah beasiswa sebagai terjemahan dari kata “scholarship” yg merupakan sebuah prestise – beasiswa tipe penghargaan yg diberikan karena prestasi.. pengertian ini didukung oleh arti dan penggunaannya dalam kalimat di macmillan dan collins dictionary.. untuk mendapatkannya harus  berkompetisi dengan kemampuan penuh.. modal nilai setinggi-tingginya, prestasi non-akademik yg menonjol, nilai baik hasil tes bahasa inggris (yg ngga murah.. dan mungkin ngga sekali ikutnya.. *hiks), dan kemampuan komunikasi yg sesuai… setelah mendapatkannya juga harus mempertahankan, minimal prestasi tetap baik (sampai kapanpun jua..) dan selesai tepat pada waktunya.. (kapan kelar studinya, Moz? *eh maaf ya ini ngga relevan… *pakai kacamata hitam…)

pengertian lain beasiswa

sedangkan mawar, imho, melihat istilah beasiswa seperti dalam KBBI atau terjemahan “scholarship” dalam cambridge dictionary, bahwa beasiswa itu semacam bantuan finansial untuk orang yg tida mampu (dalam menempuh pendidikan tertentu..) <- maka ini juga benar kan.. arti beasiswa tipe pemberian/bantuan..

nah, wajar kan sebagai orang yg tida-pernah-tida-mampu, mawar akan memandang bahwa pengajuan beasiswa seperti ini seperti ngemis.. walaupun, sebenarnyalah penggunaan istilah itu juga tida tepat disematkan pada karyasiswa…

ngemis itu menurut KBBI adalah meminta dengan merendah- rendah dan dengan penuh harapan.. lantas habis dikasih, ya sudah ngga ada kewajiban apa2 ke yg ngasih.. laah, ini kan bertentangan bahkan dengan beasiswa jenis pemberian sekalipun, karena si karyasiswa akan tetap mendapat kewajiban2 yg harus dipenuhi..

update closing

yaa, ngga ada yg salah dalam pemahaman beasiswa ternyata kan, masalahnya ada pada DIKSI dan SENSI.. diksi itu pemilihan kata ketika mau komenin sesuatu supaya selaras dgn apa yg mau disampaikan, kadang maksudnya ngga gitu tapi kok ya yg keluar itu.. alhasil bikin yg lain sensi, trus muter aja kaya kincir..

trus bagaimana mengatasi masalah diksi? yaa, banyak baca..

kalau mengatasi masalah sensi? yaa ngopi, eh, piknik yuuuuk!

note: ngga usah sambil nyanyi – “aku bukan pengemis cintaaaa…” ya!

update note: usul perluasan arti kata beasiswa ke KBBI doooong!

11

Obrolan santai bareng stan

di suatu acara undangan blogger yg baik hati (makasih buanyaaak, Den!), yg didominasi makanan Indonesia – eh perempuan Indonesia maksudnya.. stan sempat menjadi center of attraction, diwawancarai mbak2 ketjeh – salah satunya kakak blogger yg menetap di belanda juga, tentang macem2 tuh, termasuk diantaranya tentang tinggal di belanda..

intinya – karena stan bilang lebih suka tinggal di belanda, ditanyalah itu alasannya.. dan dengan polosnya, stan jawab:

“karena kalau tinggal di belanda, bisa update feed ig sampai 4kali sebulan.. sementara kalau di Indonesia yah gitu itu… trus juga suka bisa di-endorse…”

EPIC sekali yaaa jawabannya..

sementara pada yg ketawa ngakak – ada juga yg cuih cuih dalam hati kali ya… hahaha, entah karena udah judging duluan ttg anak 10thn dan social media-lah, … atau dan gadget-nya lah, … atau spesifik pada “dan ig-nya”

…lah *ketinggalan

sayangnya obrolan ini ngga diteruskan pada saat itu – eh… apa mungkin untung yaaa, karena kalau ditanya lagi lanjutannya trus langsung ditagih yg puyeng adalah emaknya..

loh kok bisa?

nah itu dia.. saat sudah kembali berdua, masih di dalam kereta api,  sy tanyakan kembali pertanyaan tersebut..

ma: jadi, lebih suka tinggal di mana?

s: disini (belanda)

ma: kenapa?

s: karena kalau tinggal di belanda, bisa banyak yg mau di-post di ig… sementara kalau di Indonesia yaaa sekali sebulan atau bahkan engga sama sekali..

ma: kenapa engga sama sekali, sementara di belanda bisa

s: ya karena engga ada yg menarik laaah, inget dong mama kalo wiken kita ngapain.. paling dinner sm papa trus ngafe atau ke mall.. yaaa, enak sih, aku suka, tapi engga asik buat di-posting, menarik – engga, ngasih inspirasi – juga engga.. lah ngapain terusan?

kalau di belanda kan mama juga tau, aku suka ke museum2nya, suka lihat perpus2nya, suka buku2nya, suka naik kereta, suka jalan2nya, suka nyobain yg baru, dan itu bisa tiap minggu kan ma..

kata stan berapi2, gluk, bikin mamanya tersedak

s: iya kan ma?

ma: *garuk2 kepala, hmm, iya juga sih.. 

… … …

s: trus gimana lo kalau kita balik nanti?

ma: *lihat langit2 kereta api cari wangsit du du du du

 


 

PR ini.. 

jadi kepikiran enaknya kemana kalau wiken (selain kerja!)

karena kalau di Indonesia kami bisanya pergi bareng2 kalau wiken – sementara padahal kalau wiken macet, jadi kadang kita (bapak&emaknya) ngga mau cape2 kena macet dsb..

dan kalau di Surabaya aja kayanya 2 museum sudah, kebun binatang sudah, Surabaya carnival sudah, kalau kegiatan main, berenang, atau nonton bioskop milih ngga wiken lah biar agak murah – eh.. agak sepi juga maksudnyaaaa ^^,

daaaan kalau bapak sm emaknya sudah cape mikir yaaa ujung2nya kalau ngga di rumah aja yaaaa: marilah wisata mall!

trus gimana cobaaaa?

 

 

 

 

 

 

9

Selamat Tahun Baru

waah, waktu terasa berlalu begitu cepat di penghujung tahun yaa.. tau-tau besok udah ganti tanggalan aja.. nah, tiap masa liburan tahun baru biasanya sih di rumah – liat kembang api dari jendela, waktunya reviu setahun kemaren (counting all my blessings & blessings in disguise – karena hidup itu paket lengkap yekan – suka dan duka… sy belajar mensyukuri semuanya, meski ngga langsung ngerti hikmahnya…), kemudian baru coret2 di kalender baru dan agenda (planning and resolution)..

november lalu sy sempet ikutan course ttg pengembangan diri yg diantaranya mengajarkan tentang membuat alat bantu refleksi akhir tahun: wheel of life.

wheel of life

dimulai dengan (1) identifikasi aspek hidup apa aja yg penting.. ini sy nulisnya banyak banget, tapi SmartArt pie-nya microsoft cuman bisa maksimal 7 variabel, hehehe.. alhasil sy pas2in dengan kolom yg ada.. yg sekiranya bisa sy gabungin ya udah sy satuin aja..

(kalau ada aspek lain, boleh dong share juga yaaa…)

kemudian di tiap aspeknya, berikan (2) tanda sampai dimana pencapaiannya.. berdasarkan preferensi pribadi tentu, bisa dari tingkat keberhasilannya atau tingkat kepuasannya.. nah, kalau dimasukkan chart pie begini jadi lebih mudah ngebandinginnya kan ^.^ don’t forget to be nice to yourself.. jangan pelit2 lah ngasih nilainya..

wheel of life

resolusi tahun baru

setelahnya ya baru bikin catatan diri sendiri tentang (3) apa & gimana nahan yg sudah lumayan bagus kemarennya, (4) apa yg dirasa kurang dan gimana naikinnya, (5) apa yg mau dicapai/dimiliki/dicoba di masa mendatang, dan yg ngga kalah penting: (6) kebiasaan jelek apa yg mau dibuang..

buat bikin resolusinya tipsnya cuman dua:

mulai dari yg mudah (but still… DREAM BIG!) buat sy: nomor (3) planning (dan semoga teteup rajin), yg nomor (5) pengen punya mesin kopi! (tassimo? senseo? nespresso? dolce gusto?) dan nomor (6) kurangi online window shopping – hahaha ampuuun ini mah! fomo – fear of missing online-discount

trus jangan banyak2 maunya, hahahaha.. soalnya nanti seiring waktu juga bakalan nambah sendiri kok… buat sy yaaa di aspek studi – submit artikel, nulis artikel, sama penelitian terakhir.. lainnya bakalan ngikut lah yaaa…

 

 

 

selamat tahun baru 2018.. semoga masa mendatang lebih baik dari sebelumnya.. enjoy holiday… dan let’s sprinkle kindness everywhere yaa..