Cerita Perempuan Biasa

Siang itu, semua berjalan seperti jadwal biasanya dalam hidup Rora

– anak-anak TK pulang jam 11, ada yg langsung pulang, ada beberapa yang memang biasa dijemput jam 12an atau bahkan lebih – ada juga yg sampai harus ada yg mengingatkan orang tuanya untuk menjemput, dan – ada juga yg sudah ditelponin bapaknya – eh si bapak bilang sibuk trus malah minta tolong pihak sekolah untuk telpon saja ibunya..*haisy.. yang begini ini yg membuat Rora sakit kepala saking sebalnya.. ada beberapa yg langsung ganti baju trus main lagi karena mereka dititipkan ke daycare yg bertempat di lokasi sekolah, alhasil beberapa guru harus tetap di halaman sekolah sembari mengawasi anak2 yang riuh bermain, satu guru terlihat menenangkan satu anak yg menangis karena tidak akan dijemput ibunya seperti biasanya, sebagian guru yg lain harus menyiapkan materi bermain untuk keesokan hari di salah satu kelas yg dijadikan basecamp..

Rora sedang di ruang kerja kepala sekolah, bersama Meta & Ina – dua guru muda yg menjadi asisten Rora sementara, eits, tapi Rora bukanlah kepala sekolah, hari-hari itu dia sedang mendapat tugas istimewa, maka ibu kepsek yg baik hati meminjamkan ruang kerja untuk ditempatinya..

ruangan tersebut penuh dengan materi dan alat peraga TK, ditambah panasnya kota yg luar biasa, kipas-kipas pake kertaspun tak ada artinya, Rora menarik nafas panjang sambil beranjak membuka pintu belakang, niatnya mencari angin agar ruangan tersebut tidak terlalu pengap, apa daya yg masuk malah angin panas.. huh, malah membuat nafas sesak dan sakit kepala Rora makin terasa, kembali dia mengoleskan minyak angin kedahinya.. ia juga menunggu sesuatu sambil terus memeriksa hp-nya.. sampai akhirnya bunyi pesan di hp membuatnya beranjak berjalan keluar..

“Hai! aku disini yaaaa! ” seru Rora sambal melambaikan tangan ke 2 perempuan yg baru masuk ke dalam lapangan sekolah sambil menuntun motor pelan2.. yaa, makin siang bukannya makin sepi, ini jam istirahat SD sebelah, beberapa anak SD sebelah yg dulunya bersekolah di TK ini terlihat berlarian melintasi lapangan.. menyebarkan debu kemana2.. seorang anak berlari mendekati Rora dan salim.. Rora tersenyum sambil mencoba mengingat-ingat nama mantan muridnya yg kini sudah SD itu.. tak apa-lah bila masih kecil, tapi kalau ada mantan muridnya yg sudah SMA, atau kuliah, biasanya Rora menarik tangannya ^^,

Dina, teman Rora saat SMA, berjalan kearahnya membawa 1 kantong plastik besar.. Dibelakangnya, Ari menyusul setelah memarkir motor.. Dulunya Dina juga guru TK, Rora sempat bertemu beberapa kali sewaktu ada pelatihan guru TK di tingkat kotamadya. Kemudian, dia “menghilang”. Bahkan tidak aktif di grup whatsapp reuni SMA mereka. Lantas ada seorang teman yg “menemukan” Dina, yg ternyata terkena kanker, terpaksa berhenti kerja, dan ditinggal suami yg membawa anaknya, dan tak punya alat komunikasi..

baru kali ini Rora setuju grup wa ini sangat bermanfaat.. grup yg ramai hanya bila menjelang reuni kecil atau reuni besar itu bisa berdiskusi serius ttg bagaimana membantu kesembuhan –juga kelanjutan hidup Dina.. Rora yg jarang aktif, jadi tahu kalau teman-temannya banyak yg menjadi orang hebat.. ada yg membantu mencarikan obat alternatif dari luar negeri, ada yg menjadwalkan kunjungan rutin, memberikan tempat usaha warung (yg kemudian sepertinya kurang berhasil), dan bantuan2 lainnya saat itu, namun kelanjutannya Rora kurang tahu juga..

Pada Dina sendiri, Rora tidak banyak bertanya.. ah, apalah aku ini, kata batin Rora sambil menghela nafas, Rora tak tahu harus bagaimana membantu temannya, ia hanya bisa mengajak ngobrol sesekali di wa, atau memesan makanan yg menjadi usaha Dina saat ini.. tapi karena memang nasi ramesnya enak, kue2 bikinan Dina juga kesukaan Rora (beberapa merupakan resep ibu Rora loh!) dan lumayan juga sambil pesan makanan sambil bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan temannya satu ini..

Setelah saling menyapa, Dina menyodorkan kresek berisi dua dus besar ke Rora..

“Ror, yg atas ini 1 dus isi 3 nasi bungkus.. lauk senenganmu inih, dan nasinya sedikit.. trus yg bawah itu yg isi 20 pastel yaa” ujar Dina…

“hmmm pastel jagoanku!” Rora mengambil 1 pastel dan ngga sabar merasakan gurihnya sebelum meminta tolong pada Meta & Ina untuk membagikan pastel ke guru-guru lainnya..

Kemudian Ari, teman Dina, menyerahkan 1 tas plastik lagi.. “Nah, ini sinomnya 5 pesananmu, bonus 1 botol beras kencur, bikinan Dina juga, produk baru ini” promo Ari, perempuan yg selalu nampak ceria..

Ari memiliki cerita yg hampir sama..

Suami Ari juga meninggalkannya, dan anaknya pun ikut dibawa suami dan hanya akan diserahkan kalau Ari mau mengurus dan menanggung biaya perceraian mereka, padahal setahu Rora, anak Ari termasuk ABK dan sedang dalam perawatan (yg menunjukkan hasil yg baik, namun bila terhenti di tengah-tengah, hmm, Ari harus memulai sesi perawatan dari awal dong ya..), dan entah bagaimana dua ibu ini dipertemukan dan saling membantu, sementara ini Ari bekerja lepas, disela2nya dia membantu Dina menyelesaikan dan mengantarkan pesanan2..

Meski terlihat sedikit lelah, atau efek sinar matahari yg panasnya kentang2 siang ini, Dina nampak sehat.. Dia membenarkan bahwa obat alternatif yg diberikan oleh teman2 itu cocok.. cuman dia tidak ingat namanya.. dan dia mendapat perawatan yg masih gratis dengan BPJS.. dia masih semangat untuk sehat.. karena keinginannya hanya satu, bagi Dina – dan juga Ari, untuk bisa menabung dan ada pendapatan tetap, agar bisa dekat dengan anak2nya kembali..

sebuah keinginan sederhana namun amat luar biasa perjuangannya..

Dina menyampaikan kalau pesanan kue dan nasi kotak memang tidak bisa dipastikan, kadang ramai kadang sepi, makanya dia mempertimbangkan untuk melamar menjadi guru TK di dekat kos2an mereka, meski 6 bulan pertama hanya akan menerima gaji standard guru TK setempat, yg besar perharinya kurleb sama dengan harga satu nasi kotak yg juga dijualnya..

Dina juga menambahkan cerita bahwa beberapa bulan lalu dia mendapat pelatihan gratis membuat sinom dan beras kencur dari disnaker kotamadya, bukan cuma pelatihan, tapi peserta juga dibantu dengan pengurusan ijin DinKes P-IRT segala.. wah Rora bersyukur, pemerintah setempat bisa membantu seperti itu.. meski untuk penjualannya Dina masih harus keliling mencari pasar, karena kan jadi banyak yg jualan sinom juga di kota ini jadinya..

Rora melihat label berbahan kertas yg tak utuh karena luntur terkena air sebelum membuka botol plastik beras kencur dan meminumnya..

“hmmm, enak iniiih! segar! mau lagi yaa tapi kirim ke rumah aja, terserah kapan bisa kirimnya..” ujarnya sembari melirik satu tas tote bag yg dibawa Ari,

“Lah itu apa? Pesanan lainkah?”

“oh ini…” Ari sedikit terbata menjawabnya.. “ini tas sama daster, mau diantar ke RSUD..”

“loh, siapa yg sakit?” potong Rora seketika..

Ari dan Dina menghela nafas.. sebelum kemudian Ari mulai bercerita… tentang Kasih, sepupunya yg sedang hamil besar, dan “ditahan” di RSUD karena menurut pemeriksaan, dia positif HIV.. kemungkinan besar dari suaminya – yg kini meninggalkannya.. Ari terdiam sesaat, Ya Tuhan.. Rora tercekat.. ia tahu ia gampang menangis, tapi kan amat ngga sopan kalau dia nangis di depan 2 perempuan yg keliatan tegar dengan senyumnya masing-masing..

Cerita Ari berlanjut.. Setelah diusir dari rumahnya, Kasih kembali ke rumah ibunya di daerah pinggiran kota kecil di dekat kota ini.. ketika dia dibawa ke RSUD, dia hanya membawa baju seadanya dalam 1 tas kresek.. jadi Ari akan menyusul membawakan tas dan baju tambahan.. Selesai bercerita, Ari dan Dina berpamitan karena mereka akan bergegas menuju RSUD..

Rora masih termenung diluar setelah Dina dan Ari pergi.. pikirannya berkelana ke penjuru dunia.. tentang artikel terkait kabar terbaru usaha penyembuhan HIV yg lagi ngehits di jurnal terkemuka, tapi entah kapan perempuan2 seperti Kasih bisa mendapatkannya.. tentang hari perempuan internasional.. perjuangan hak-hak perempuan – tingkat tinggi.. tentang obrolan twitter yg ramai tiap terkait isu perempuan – jalan hidupnya, kodratnya, pilihannya, keinginannya..

ah, ingin rasanya Rora bisa menyedot perhatian yg besar itu ke perempuan2 seperti Kasih, Ari, dan Dina.. tapi apa daya.. Rora hanya perempuan biasa yg hanya bisa bercerita..

update:

Bayinya Kasih tidak bs diselamatkan. TK di dekat rumah kos Dina tidak jadi membutuhkan guru baru.

9 thoughts on “Cerita Perempuan Biasa

  1. Pingback: baik-baik saja ya… | @MaureenMoz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s