Beasiswa dan saya

pada satu masa di twitterland, yg bisanya sy baca sekilas saja, ada twit yg amat menggoda buat dikomentarin balik gara2 ada istilah:

(((ngemis))) beasiswa

trus jelas yg reply (dgn huruf acak dan tanda seru) yaa banyak dooong, trus di-reply balik sama si mawar – sebut saja kakak pencipta istilah tsb dgn nama ini ya – nunjukin kalau dia ngga ngerti salahnya dimana wong dia ngomong biasa aja kok neyti jen pada nge-gas gitu.. benci sana benci sini pun dimulai… dan seperti biasa, ramailah twitterland dgn lalalili seputar beasiswa (yg sebenarnya awalnya ramai karena sebelumnya ada twit pembahasan ttg menjadi orang tua yg bertanggung jawab – ngga ikutan ini sy deh, capek! wkwkwk)

sy – yg sejatinya hidup di bawah kucuran beasiswa dari masa ke masa.. jadi merasa tertohoq.. mengapa begitu hina diriku dihadapanmu, mawar… *halah *cari meme qasidah

lah gimana toh, dari awal pendidikan tinggi sampai saat ini ditambah workshops,  shortcourses, bantuan/media belajar, dan seminars yg sy ikuti, semua bukan murni duit sendiri atau dari orang tua, malah sy sebisa mungkin menghindari menggunakan pemberian orang tua (- kecuali kepepet ^^v) eh, kok mbahas orang tua lagi, ooopsie.. yaa pokoknya sy termasuk golongan yg bersemangat apabila mendapat kiriman info beasiswa ataupun hibah penelitian begituuuu..

saat itu seketika sy esmosi dong, langsung perintah si jempol – admin akun twitter sy untuk beraksi demi bela diri sendiri: beasiswa itu sejatinya penghargaan! beasiswa itu prestige! beasiswa itu dapetinnya ngga mudah! beasiswa itu butuh konsistensi! dar! der! dor! (tapi kemudian dibaca dan diedit ratusan kali sebelum di-twit kok ^^ lantas di-twit dgn sopan, intinya adalah pengendalian diri, saudara, betul tida?)

nah, ya gini ini yg kemudian jaka sembung.. alias bakalan kaga nyambung antar 2 kubu neytijen.. dan ngga akan bikin benci sana benci sini itu lantas menguap begitu saja, karena apa? ya karena dasarnya beda.. yakinnya beda booo..

beasiswa menurut saya

sedari kecil, sy melihat istilah beasiswa sebagai terjemahan dari kata “scholarship” yg merupakan sebuah prestise – beasiswa tipe penghargaan yg diberikan karena prestasi.. pengertian ini didukung oleh arti dan penggunaannya dalam kalimat di macmillan dan collins dictionary.. untuk mendapatkannya harus  berkompetisi dengan kemampuan penuh.. modal nilai setinggi-tingginya, prestasi non-akademik yg menonjol, nilai baik hasil tes bahasa inggris (yg ngga murah.. dan mungkin ngga sekali ikutnya.. *hiks), dan kemampuan komunikasi yg sesuai… setelah mendapatkannya juga harus mempertahankan, minimal prestasi tetap baik (sampai kapanpun jua..) dan selesai tepat pada waktunya.. (kapan kelar studinya, Moz? *eh maaf ya ini ngga relevan… *pakai kacamata hitam…)

pengertian lain beasiswa

sedangkan mawar, imho, melihat istilah beasiswa seperti dalam KBBI atau terjemahan “scholarship” dalam cambridge dictionary, bahwa beasiswa itu semacam bantuan finansial untuk orang yg tida mampu (dalam menempuh pendidikan tertentu..) <- maka ini juga benar kan.. arti beasiswa tipe pemberian/bantuan..

nah, wajar kan sebagai orang yg tida-pernah-tida-mampu, mawar akan memandang bahwa pengajuan beasiswa seperti ini seperti ngemis.. walaupun, sebenarnyalah penggunaan istilah itu juga tida tepat disematkan pada karyasiswa…

ngemis itu menurut KBBI adalah meminta dengan merendah- rendah dan dengan penuh harapan.. lantas habis dikasih, ya sudah ngga ada kewajiban apa2 ke yg ngasih.. laah, ini kan bertentangan bahkan dengan beasiswa jenis pemberian sekalipun, karena si karyasiswa akan tetap mendapat kewajiban2 yg harus dipenuhi..

update closing

yaa, ngga ada yg salah dalam pemahaman beasiswa ternyata kan, masalahnya ada pada DIKSI dan SENSI.. diksi itu pemilihan kata ketika mau komenin sesuatu supaya selaras dgn apa yg mau disampaikan, kadang maksudnya ngga gitu tapi kok ya yg keluar itu.. alhasil bikin yg lain sensi, trus muter aja kaya kincir..

trus bagaimana mengatasi masalah diksi? yaa, banyak baca..

kalau mengatasi masalah sensi? yaa ngopi, eh, piknik yuuuuk!

note: ngga usah sambil nyanyi – “aku bukan pengemis cintaaaa…” ya!

update note: usul perluasan arti kata beasiswa ke KBBI doooong!

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Beasiswa dan saya

  1. Ohh aku tahu pas kejadian ini di Republik Twitter. Tapi sekilas2 thok bacanya. Pokoknya bahasan yang sekiranya akan memancing kegeramanku, biasanya akan cepat2 kulewati, daripada nanti aku khilaf 😅 aku selalu memandang orang yang dapat Beasiswa itu adalah Top Markotop, kuereennn puoolll. Karena sebagai orang yang sampai njlungup2 golek Beasiswa ke Belanda tapi tak pernah dapat, selalu iri sama orang yang dapat Beasiswa ke Luar. Tapi pas dapat Beasiswa di negeri sendiri, di syukuri saja. Rejekinya di sana.

  2. Ehm sbg istri penerima beha eh beasiswa, benernya mau komen nyinyirin si mba mawar tapi stralah ahhh…. duduk ajah kitorang ngejussss biar adem, qiqiqi…

  3. sebagai hamba penerima beasiswa sejak sma-kuliah-s2, rasanya kok gimanaaa gitu ya 😁 tapi kalau tak ada beasiswa, bagaimana cara aku yang gadis kampung (yang bukan cuma besar pasak darpada tiang, tapi juga besar mimpi daripada kemampuan 😁 apalah saya ini sekolah modal otak dan dengkul doang) ini mengentaskan diri, meraih impian dan pendidikan setinggi2nya ya? *tanyakan pada mawar yang tak pernah bergoyang* 😝😝😝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s