Me Vs Ortu

sy memanggil beliau berdua: Mami dan Ayah..

sedikit anti mainstream dalam memasangkan istilah, karena seingat sy, kami sempat berganti-ganti panggilan sampai pada satu titik sepakat kalau Ayah lebih cocok dipanggil Ayah – daripada Papa atau Papi seperti saudara2 beliau dipanggil anak-anaknya.. begitu pula dengan Mami… yg hebring menggelegar dan berasa kurang kalem buat dipanggil ibu atau bunda, hihihi…

dan panggilan ini kemudian melekat, lambat laun makin merambat.. entah saudara ipar atau saudara angkat, saudara sepupu, saudara jauh, bahkan teman-teman dekat, sekarang para cucu juga ikutan sepakat…

hubungan anak vs ortu dan cinta kepada orang tua yaaa memang alami, jadi tentu saja sy mencintai Ayah dan Mami, hanya saja – sy merasa makin memahami cinta sy pada beliau berdua ketika sy menikah kemudian memiliki Mini-Me… namun, ada juga yg lo yg perlahan berubah… yaitu pola hubungan kami..

yang ketika sy kecil, lebih bersifat hirarki mutlak saat itu.. mungkin karena bawaan budaya, atau trennya yg begitu ituh.. apapun suasana hati atau keinginan, tetap kudu nurutin dan ngelakuin apa inginnya ortu… kalau pas ngga nurut yaa resiko diomelin dan disalah-salahin kaya kutu.. karena sumber informasi ya cuman ortu, ortu lebih tau segala sesuatu dan penentu mau..

syukurlah, beranjak dewasa hubungan kami menjadi egaliter – jadi lebih demokratis.. bisa jadi yg ini juga bawaan zaman atau memang terasa lebih praktis, tapi sy yakin sedikit banyak ini juga karena anak-anak beliau selalu protes dgn jujur, kan 3anak Mami tukang mbantahan jeee adalah anak2 manis, dan beliau berdua dengan cinta mau terbuka tanpa embel2 vonis..

hal ini merupakan hal yang paling berharga dalam perjalanan hidup, karena sy merasa  mendapat kepercayaan beliau berdua untuk memilih yg bisa diraup.. kalau dukungan sih – kadang dapat, namun kadang sayup-sayup, teteup… hahaha

di postingan ini, sy berusaha mendaftar hal2 yg mungkin bisa membantu menjaga hubungan baik dengan orang tua, buat mengingatkan diri sepanjang hidup sy..

  1. posisikan orang tua sebagai sahabat, bertukar pendapat dan diskusi untuk menunjukkan dunia dari kacamata kita, pedekate dong sama ortu, terbukalah, ajak berbicara tanpa prasangka, dan keep in touch (they would love to get lots of our pictures and stories)… kalau dasarnya sudah sahabatan, then consider you are very lucky! well, Mami dan sy sama-sama di bidang pendidikan, jadi sy bisa minta job ke mami eh maksudnya sy bisa berdebat tentang teori2 pendidikan dan semacamnya, debat tanpa akhir biasanya nih, karena kadang sambil bawa2 buku teori atau sampai browsing segala karena yaaa kami berdua ngga selalu sepakat akan segala hal… kalau sama Ayah, sy suka ngga tau hrs ngomong apa.. sy sempat mencoba meluaskan topik obrolan ngga sekedar tanya2an kabar atau tentang mesin mobil seperti biasanya, kadang nanya gosipkabar keluarga besar, pernah juga nyoba ngobrolin tentang tren travelling saat ini dan ternyata asik juga..
  2. posisikan orang tua sebagai sesama orang dewasa, karena posisi yg setara, hubungannya juga musti seimbang dong, bukan hanya orang tua yg merasa harus berusaha berkontribusi terhadap hidup kita, kitanya juga musti berusaha mengisi hidup mereka.. bukan hanya mereka yg punya peran “pemberi saran” melainkan kita juga… berikan masukan, saran, bantuan – sesuai porsinya, we’re facing our problems and so  are they… we are learning about this new world and so are they… nah, karena orang tua sy begitu jagoan dan mandiri, sy sering lupa kalau mereka mungkin juga butuh ada yg mengingatkan atau membantu, misalnya ttg teknologi, kesehatan, atau hal-hal besar atau kecil lainnya
  3. blast from the past (ini nyontek item list sy untuk pernikahan di sini) sepanjang hidup kita, hadirkan saat2 bersama orang tua kita yang bisa dikenang dengan senyuman atau bahkan bikin ketawa.. tertawa bersama atas kenangan lama itu membahagiakan! bisa juga foto2 lama dikemas ulang atau dibuat format barunya.. atau bongkar barang2 lama buat dibikin video koleksi atau apalah (ini karena kebetulan Mami dan Ibu (Ibu adalah panggilan sy untuk ibu mertua) hobi banget nyimpen barang2 masa lalu… duh *alamaak) kalau mau keren lagi, coba deh napak tilas ke tempat masa kecil dulu, dengerin “kamu tuh waktu kecil….” ngga akan bikin bosen…
  4. bikin kenangan baru, ajak orang tua buat nge-date atau bila memungkinkan – lakukan hal yg sama-sama baru pertama kali melakukannya.. yg simple yaaa nyoba makanan apa gitu kek… travelling kemana gituuu… kenapa? karena hubungan orang tua dan anak tetap butuh momen2 yang mendekatkan meskipun secara alami hal itu sudah ada.. memberikan pengertian pada ortu bahwa kita bahagia dengan cara kita juga akhirnya akan membuat mereka bahagia, diakui apa engga, jadi keep on pedekate yaaa…
  5. NEVER take them for granted, sampaikan cinta dan rindu, sampaikan apresiasi atas usaha mereka selama ini, meski buat sy kalau ke Mami agak susah karena bakalan diomelin kalau kita hobi wa ngga jelas atau basa-basi… well,  they’ve done what they could do and it might be the best they could at those times… sure, they made mistakes, but hey.. who we are to judge?

lantas, apakah sy sudah melakukan semuanya?

sayangnya belum laaaah.. sedihnya belum…

dan sebenarnyalah ini termasuk bagian dari daftar shoulda-woulda-coulda (baca: grief & guilt) setelah berpulangnya ayahanda 24/4/2017, tepat seminggu sebelum ulang tahun beliau dan sy ribuan mil jauhnya, dan sy ngga bisa memegang tangannya di saat-saat terakhir, dan sy ngga sempat minta maaf, salim, sungkem, bilang sayang ke Ayah, mengirim foto terupdate, cerita ttg perjalanan2 sy lagi… ever… T.T

(sebuah catatan hati: Ketika Ayah Pulang)

jadi tunggu apa?

katakan cinta selagi bisa yaa…

“it takes both sides to build a bridge”

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Me Vs Ortu

  1. Postingan yang bagus. Aku dan ortu masih dlm hub yg hierarkis… Makanya belum bisa 100% jujur dgn mrk. Hopefully one day this will change. Berusaha untuk lebih terbuka setiap harinya.

  2. Pingback: Setelah Ayah Pergi | @MaureenMoz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s